Google+ Followers

Rabu, 03 Juni 2015

My Mother

It's about my mother.
Ibuku bukanlah seorang ibu yang mungkin diharapkan oleh setiap anak. Ibuku orang yang arogan, tidak dewasa, kurang bersyukur, suka menyalahkan orang lain, egois, dominan, selalu ingin menang sendiri dan bukan seorang pemaaf. Semakin bertambah umur, semakin mengenal ibuku, aku semakin menyadari, ibuku bukan seorang ibu yang baik. Ibuku tidak pernah mengajarkanku bagaimana menjadi ibu rumah tangga yang baik, yang diajarkan padaku adalah bagaimana menjadi wanita yang mandiri tanpa tergantung pada laki-laki. Ibuku tidak pernah mengajarkanku bagaimana melakukan pekerjaan rumah tangga dengan baik, yang diajarkannya adalah bagaimana melakukan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Sejak kecil aku terbiasa bekerja karena ibu. Aku mengalami masa kecil yang berat karena ibu. Tapi, semua itu berguna menjadikanku manusia yang kuat.

Sejak kecil aku tidak ingin menjadi seperti ibu. Ibuku bukan orang yang bahagia. Ibuku tidak menikmati hidupnya. Ibuku selalu berpikir bahwa hidupnya menderita dan tidak ada yang lebih menderita darinya di dunia ini. Ya, begitulah ibuku, tidak pernah bersyukur. Ibuku selalu ingin lebih. Diam-diam selalu ingin mengalahkan orang lain, memiliki lebih daripada orang lain. Tapi, ibuku pekerja keras. Hanya saja ibuku tidak pernah bahagia dalam kehidupan rumah tangganya sendiri. Ibuku yang membuatku menghabiskan masa kecil dengan menyesali kelahiranku sendiri. Karena ibuku, aku takut menjadi wanita dewasa yang seperti ibu.

Kalau saja ibuku sedikit lebih bersyukur, sedikit lebih menikmati hidupnya, sedikit lebih menghargai apapun miliknya, seharusnya ibuku menjadi wanita paling bahagia di dunia. Kadang kupikir ibuku jauh lebih menikmati hidupnya dalam masalah. Ibuku selalu bermasalah dengan bapak. Apa memang seperti itu orang dewasa? Setelah menikah bertahun-tahun justru kehidupan rumah tangganya semakin tegang, semakin renggang, selalu bergeriliya tanpa ada satupun yang mau melakukan gencatan senjata. Kupikir mereka sedang bosan. Karena itulah selama bertahun-tahun pula aku menyaksikan peperangan itu dalam diam, menjadi nonblock, tidak bisa memihak salah satu. Dan diam-diam pula aku hanya bisa menangis. Hatiku hancur lebur sampai sekarang pun.

Ibuku bukan orang yang mau mengalah, juga bukan orang yang mudah meminta maaf, apalagi memaafkan. Kadang kupikir, musuh terbesar ibuku dalah bapak. Setiap kali berperang, ibuku selalu menyebut-nyebut segala masalah yang sudah lewat bertahun-tahun lamanya, berulang-ulang, tidak ada habisnya. Aku sendiri sampai bosan. Tidak ada masalah baru. Semua hanyalah mengenai masalah lama yang belum kelar. Coba saja ibuku tidak lagi membahas hal-hal yang sudah lewat, seharusnya ibuku bisa menatap jauh ke depan. Seharusnya ibuku bisa tidak membebani dirinya dengan masalah masa lalu yang sudah tidak berarti lagi bagi bapak, dan bahkan bagiku. Seharusnya ibuku bisa kebih bahagia menjalani kehidupan rumah tangganya.

Sejak kecil aku selalu berpikir, jika kedua orang tuaku bercerai aku harus ikut siapa? Aku selalu sampai pada kesimpulan bahwa aku tidak ingin hidup dengan salah satunya. Daripada harus memilih salah satu, aku lebih baik tidak hidup bersama mereka. Begitu dewasa aku berpikir, kenapa orang tuaku tidak bercerai juga? Ibuku yang selalu menyebut kata 'cerai' ternyata tidak benar-benar berani melakukannya dan selalu menjadikan anak-anaknya sebagai alasan. Aku merasa bersalah. Karena keberadaanku, ibuku mengalami masa-masa yang tidak bahagia. Kalau saja aku tidak pernah ada, adik-adikku tidak pernah ada, apakah ibuku akan bercerai dari bapak? Apakah ibuku bisa bahagia?

Tampaknya, aku membawa beban penyesalan yang terlalu besar dalam hidupku. Tapi, semua itu justru membuatku belajar. Suatu hari nanti, kelak, saat ada seorang pria yang mau mencintaiku apa adanya, aku ingin menjadi seorang istri yang baik, aku ingin menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku kelak, dan kalau aku tidak bahagaia dengan rumah tanggaku, aku ingin menyimpannya sendiri dan tidak menjadikan anak-anakku sebagai alasan untuk bertahan. Kuharap pria yang nantinya menjadi suamiku juga tidak menjadikan anak-anak sebagai alasan untuk mempertahankan rumah tangga. Anak-anak bukan pilar yang harus mempertahankan rumah yang sudah mau roboh.

Aku harap ibuku bisa lebih bersyukur dalam hidupnya.

Rabu, 08 April 2015

Is it a change of heart?

Hari ini, tanggal 8 April 2015. Aku menjalani kehidupan seperti biasa, bernapas, bergerak, beraktivitas seperti biasanya. Aku merasa sehat, positif seperti biasanya. Bebas tanpa beban. Ya.....bebas tanpa beban tapi pikiranku sepertinya kurang tenang. Entahlah....sejak kemarin aku memikirkan seseorang yang berada jauh disana. Seseorang yang masih hidup,  yang masih kuajak berkomunikasi meskipun jarang, seseorang yang kuajak berbagi minat yang sama. Mungkinkah ini permulaan dari "a change of heart"? Aku merasa ada perubahan pola pikir, dan pola "merasa" dalam diriku. Ini perubahan besar. Ada satu pikiran yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat. Kalau seperti ini, aku bisa di cap plin plan.. Hahahaha... Tapi ini tidak menyalahi prinsip-prinsip hidup. Hanya saja aku berpikir hanya demi diriku sendiri. Penuh dengan keegoisan, ingin mendapatkan segala yang kuinginkan. Oh ayolah....semua orang seperti itu. Hal itu wajar. Tapi aku tidak akan mengatakan banyak hal mengenai pikiran-pikiranku ini... Biarkan jawabannya Tuhan yang memberikan. Mudah-mudahan.... :-)

I love you my friend

Ada banyak hal yang kupikirkan beberapa hari ini. Mungkin aku frustrasi karena begitu banyak teman yang akhirnya menikah. Sementara aku masih dalam kategori jomblo. Mengenaskan. Tapi aku masih bersyukur, setidaknya beberapa orang temanku masih jomblo. Hahaha...

Hari ini tiba-tiba saja aku teringat sebuah kalimat dari temanku sekitar satu stengah tahun yang lalu antara bulan september atau oktober 2013 saat kucurhatkan padanya bahwa aku menjomblo. Dia berkata, "Tenang aja, kalo gak ada cowok lain yang mau nikah sama kamu, aku mau kok nikahi kamu, pi". Seketika itu terbersit dalam pikiranku, "Lo emang temen sejati gw" mungkin sambil sedikit terharu. Tapi tak lama kemudian dia menambahkan, ".....tapi, jadi istri kedua" sambil tertawa. Aku langsung sweatdrop. "Sialan lo" teriakku. Dan selanjutnya enam bulan kemudian dia menikah. Dia adalah salah satu teman terbaik yang sudah kuanggap seperti keluarga. Dia yang selalu setia menemaniku saat aku menjomblo, setia berdebat denganku mengenai banyak hal, dan setia mengajakku jalan setiap kali aku jomblo. Dari awal sampai akhir dia tetap menjadi teman dan aku tidak ingin mengubah itu. Sudah setahun lamanya dia menikah lalu memiliki anak, dan setahun pula aku tidak berkomunikasi intens dengannya. Maklum dia sudah beristri, bisa kacau kalau aku masih berhubungan dengannya mengetahui istrinya agak sedikit ababil. Hehe..

Teman satu lagi agak berbeda. Dia tinggal jauh, berbeda agama, tapi selalu mengkhawatirkanku. Dia pernah mengatakan, "kalau saja kita seiman, gw pasti sudah meminang lo". Sudah sepuluh tahun lebih aku mengenalnya, dia lebih dari teman, mendekati saudara. Aku menganggapnya seperti keluarga. Dia teman yang selama ini, mungkin cuma dia yang mengkhawatirkan masa depanku. Ketika akubekerja dan mendapat gaji kecil, dia protes, ketika aku memiliki pacar yang bergaji kecil, dia protes, ketika aku kuliah dan belum juga mampu memberi apa-apa pada orang tua dia protes, dan ketika usiaku semakin bertambah tanpa ada rencana menikah dia mengeluh, menggerutu, dan ngomel seperti ibu-ibu. Dia selalu menjadi teman terbaik dalam hidupku. Meskipun sering berbeda pendapat, meskipun jarang berkabar, meskipun dia sibuk, meskipun beberapa kali marahan besar dengannya, meskipun sering cekcok, sering berdebat, mungkin dialah orang yang paling memahami jiwaku. Disaat seperti itu kadang terbersit dalam pikiranku, "kalau saja kita seiman, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menikah dengan kamu". Tapi aku tidak sanggup menerima konsekuensi, bahwa kemungkinan besar segalanya bisa berubah kearah yang tidak diharapkan. Sejak awal dia adalah teman, tentu aku menjadikannya teman. Di dalam hatiku yang paling dalam dia adalah teman yang terbaik.
Setiap kali aku mengiriminya sms dia selalu membalas, "tumben lo sms gw, jomblo ya?" Entah kenapa aku sudah menduga reaksinya akan seperti itu. Kadang aku berpikir, entah aku yang tau banget tentang dia atau dia yang tau banget tentang aku. Reaksinya selalu sesuai dengan prediksiku. Hahaha... Apa dia itu memang mudah ditebak atau aku yang mudah ditebak oleh dia? Entahlah...
Setahun lalu dia berkata akan menikah di 2015. Aku bersyukur mendengarnya, aku bersyukur akhirnya dia berpikir untuk toubat dari kenarsisannya dan dari sifat pemuja wanitanya... Hahaha... Mudah-mudahan niatnya terlaksana tanpa hambatan.

I love you my friend... :-)

Kamis, 18 Desember 2014

Absolute Husband

Diam diam aku berharap suamiku kelak adalah seorang dosen. Dia seorang yang pekerja keras dan sangat sibuk. Memiliki banyak kegiatan yang bermanfaat, bertemu dengan banyak orang, memiliki banyak teman dan disegani orang lain. Dia adalah seorang yang meskipun sangat sibuk selalu berusaha meluangkan waktu bersama keluarga, memanjakan istri, mengawasi anak-anak, dan memperhatikan keluarga besar. Dia adalah seorang yang penyayang, penyabar dan memiliki iman yang kuat serta selalu mawas diri dan bisa menjaga diri sendiri. Dia adalah seorang yang meskipun merasa lelah, selalu berusaha tersenyum dan memeluk istri dengan hangat. Dia adalah seorang yang tegas dan bertanggung jawab, yang selalu berpikir dahulu sebelum bertindak, dan memikirkan orang lain. Dia jujur, tulus dan berterus terang. Dia seorang yang tidak banyak bicara tetapi dia tidak segan mengatakan isi hatinya, rasa tidak puasnya, amarahnya dan emosi lainnya dengan cara yang masuk akal. Dia seorang yang tahu bagaimana membuat orang lain merasa nyaman dengannya. Dia seharusnya seorang pendengar yang baik. Dia adalah seorang yang setia dan memiliki komitmen yang kuat. Dia seorang yang senang mengajak istri dan anak-anaknya berpetualang, melakukan kegiatan keluarga bersama dan  bepergian bersama-sama. Dia seorang yang tidak banyak mengeluh dan menghadapi saja apapun dalam hidupnya apa adanya. Dia seorang yang selalu bangga dengan apa yang dimilikinya.

Dia mungkin sosok yang terlalu sempurna. Karena itulah kupikir dia tidak mungkin ada di dunia ini. Karena aku tahu dia tidak pernah ada, makanya aku tidak pernah berpikir untuk mencari orang seperti dia. Aku hanya menerima seorang yang seperti apa yang kutemui. Cocok tidaknya itu masalah nanti. Tergantung pada visi yang kulihat. Karena ketika menjalin hubungan dengan seseorang, seketika itu aku sudah tahu masa depan seperti apa yang akan aku hadapi bersama orang itu. Tinggal aku yang memutuskan apakah aku akan bertahan untuk menghadapi visi itu atau tidak. Seberapa kuat aku bertahan, tergantung dari orang itu, seberapa kuat dia berusaha, seberapa kuat persiapannya menghadapi masa depan itu. Dan karena visi itu, aku harus membuat keputusan yang sulit. Meski aku sudah tahu bahwa masa depanku tidak bahagia, tidak mudah untuk memutuskan sebuah hubungan. Masalahnya adalah, orang itu tidak melihat apa yang kulihat. Orang itu tidak merasakan apa yang kurasa. Orang itu tidak memikirkan apa yang kupikirkan. Karena itulah sebuah hubungan menjadi sangat rumit. Meskipun pada dasarnya aku hanya bisa melihat tetapi tidak bisa membuktikan kebenaran dari visi itu, dalam hatiku itulah keyakinan yang ada. Dan orang itu tidak tahu kekhawatiranku. Tidak berusaha memahami. Pada dasarnya setiap orang selalu sama. Satu hal yang selalu membuatku angkat tangan dan menyerah. Manusia itu tidak lebih dari seonggok daging yang memiliki sifat asli hanya mementingkan diri sendiri. Aku juga termasuk di dalamnya. Mengingat bahwa aku manusia.

Kembali lagi pada topik Absolute Husband. Menemukan suami atau pasangan bisa diibaratkan seperti sedang mencari pakaian. Ada banyak sekali yang sesuai dengan ukuranku,  ada banyak warna, motif dan bentuk yang kusukai, tapi ada juga pakaian yang tidak bisa kutemui diantara semua pakaian itu. Itulah dia yang sebenarnya sedang kucari. Orang lain mungkin akan menggantikan pakaian yang tidak bisa ia temukan itu dengan pakaian lain yang 'kurang lebih' mirip seperti yang dia inginkan, dia memakainya dan dia bahagia. Sementara aku masih merusaha mencari yang kucari, mencoba berbagai pakaian meski aku tahu pakaian itu bukan yang kucari. Itu dia salah satu contoh kekeraskepalaanku, aku tidak pernah puas sebelum kutemukan apa yang sebenarnya kucari. Karena itulah aku selalu gagal. Aku sudah berkali-kali gagal menjalin sebuah hubungan dan aku masih belum menyerah. Mengherankan sekali. Dalam hati aku selalu meneriakkan satu kalimat, 'I want to fall in love again'. Pada akhirnya ini menjadi hal yang tidak rasional. Dengan mudahnya aku menjalin hubungan dengan seseorang dan semudah itu pula aku mengakhirinya. Aku menyadari aku tidak bahagia, aku menyadari aku tidak terlalu patah hati, aku menyadari aku tidak merasa bersalah dan aku tidak menyesali kegagalanku, tetapi satu hal yang juga kusadari bahwa aku sedih karena telah membuat orang lain tidak bahagia. My name's Happy but yet I couldn't bring happines to others.

Bila suatu hari nanti aku jatuh cinta pada pria yang serupa dengan si Absolute Husband itu, aku berharap dialah yang selama ini kutunggu dan kucari. Dan apabila dikemudian hari dia menjadi suamiku, kuharap dialah orang pertama yang kubuat bahagia. Dan kalau dia bahagia aku juga bahagia.

Rabu, 10 Desember 2014

Dear God

Dear God... It's not going well.
Aku merasa sudah mengetahuinya sejak awal tapi aku tetap ingin mencoba. Apa aku memaksakan diri? Tapi, ini tidak menyakiti perasaanku. Aku tahu aku mampu. Aku tahu aku kuat. Aku tahu bahwa aku pasti bisa menghadapi segala hal dalam kehidupan ini.
Yang selalu kutakutkan justru berdoa memohon jalan padaMu. Entah kenapa, bila aku berdoa agar diberikan jalan yang terbaik, selalu ada jalan untuk sebuah perpisahan. Dan aku juga tidak lupa telah membuat perjanjian denganMu. Kau boleh mengambil apa saja dari kehidupanku, setengah umurku, kebahagiaanku, impian-impian dan harapan-harapan, demi kebahagian kedua orang tuaku. Tapi, apa? Ok mereka rukun..tapi tetep saja ada bara di antara mereka. Aku tahu mereka tidak bahagia. Lalu, apa ini berarti bukan karena itu kukorbankan kebahagiaanku. Karena aku juga tidak bahagia. Apa aku tidak bisa memenuhi janjiku? Apa aku mulai mengeluh tentang perasaan tidak bahagia ini? Maafkan aku Tuhan. Aku sudah berusaha bersyukur atas segala hal yang terjadi dalam hidup ini, apakah dalam ketidaksengajaan aku telah mengeluh?
Maafkan aku Tuhan. Aku sudah mulai berubah. Aku mulai membenci lagi segala hal yang ada di dunia ini. Apakah itu mengurangi rasa bersyukurku? Apa yang harus kulakukan? Berikan jalanMu, Tuhan.
Apakah kali ini pun jalan itu akan sama seperti jalan sebelumnya? Aku berserah padaMu.

Sabtu, 22 November 2014

Kanojo Wa Uso wo Aishisugiteru

Beberapa waktu yang lalu, di pertengahan Oktober 2014 akhirnya saya bisa menonton J-movie Kanojo wa Uso wo Aishisugiteru. Film ini merupakan versi live-action dari manga berjudul sama karya Aoki Kotomi. Sedikit mengenai Aoki Kotomi, manganya yang pernah saya baca adalah Morning, Day and Night yang terdiri dari 2 jilid (eh bener gak ya judulnya gitu? Udah lama banget soalnya), trus Kyo Koi wo Hajimemasu yang tamat di chapter 90. Karya Aoki Kotomi, menurut saya memiliki ciri khas tersendiri mulai dari artwork sampai pada gaya penceritaan dan karakter tokoh-tokohnya. Tapi yang paling mudah dikenali ya dari artworknya. Manga KanoUso (Singkatan untuk Kanojo Wa Uso Wo Aishisugiteru) sendiri baru saya baca setelah mengetahui manga tersebut dijadikan movie live-action. Yang membuat saya tertarik awalnya bukan mangaka, atau ceritanya, tapi karena pemeran utama dalam movie ini adalah aktor favorit saya, Sato Takeru. Nama Sato Takeru mungkin sudah tidak asing lagi bagi pencinta Samurai X atau Rurouni Kenshin, karena doi ini memerankan tokoh Himura Kenshin dalam movie live-action anime/manga tersebut.

Dalam movie live-action KanoUso, Sato Takeru bermain dengan aktris pendatang baru Ohara Sakurako yang telah melalui proses audisi yang panjang dan telah mengalahkan banyak pesaingnya yang juga ingin memerankan tokoh utama perempuan dalam movie ini. Sato Takeru berperan sebagai Ogasawara Aki, seorang komposer dan pemain bass untuk Band Crude Play. Sementara itu, Ohara Sakurako berperan sebagai Koeda Riko, seorang siswi SMA, anak pemilik toko sayur yang bermain band bersama dua orang teman baiknya.

Singkatnya, film ini menceritakan tentang percintaan antara Ogasawara Aki (25) dan Koeda Riko (16) yang diawali dari kebohongan Aki yang mengaku sebagai seorang pengangguran. Berbagai hal terjadi hingga akhirnyan kebohongan Aki terungkap lewat lagu yang dia ciptakan. Demi melindungi Riko yang bersama bandnya akan memulai debut, Aki berusaha meninggalkan Riko. Tapi, di akhir film ada adegan kissing Aki-Riko. Entah apakah itu menandakan kalau perpisahan Aki-Riko tidak jadi atau bagaimana, saya tidak mengerti. Yang jelas, versi manganya belum menginjak ending. Manganya baru mencapai chapter 42 (saat terakhir di update, sekitaran tanggal 11 Nopember masih di chapter 42).

Berikut ini lirik lagu ciptaan Aki untuk Riko. Judulnya Chippoke na Ai no Uta, dalam bahasa Inggris diterjemahkan "This Tiny Love Song". Kalau saya menerjemahkannya "Lagu Cinta yang Mungil ini". Maklum ya saya tidak begitu mengerti bahasa Jepang.. :-P hehe... Lirik lagu berikut saya terjemahkan dari versi Inggrisnya, thanks to translator dari beberapa website penyedia lirik dan penerjemah movienya sendiri.
Terjemahan saya mungkin agak kaku atau kemungkinan ada ketidaksesuaian. Gomennasai...
Jya...otanoshimi ni... >_<

CHIPPOKE NA AI NO UTA
by Ohara Sakurako & Sato Takeru
Theme song Movie Live Action "Kanojo wa Uso wo Aishisugiteru"

Ikinari utai dashi tari
Ikinari kisu o shi tari
Kimi ni wa takusan
`Gomen ne' tte iwanakucha ne

Nakushi chau no ga kowakute
Uso bakka tsuite shimau bokudakedo
Demo ne kimi no maede wa
Hontō no jibun de itakatta nda

Boku no sonzai ga
Kimi no hikari ni kage o otoshite shimau to shite mo
Kimi no sonzai wa
Dareka o terashi tsudzukete ite hoshii nda
Boku ga ite mo boku ga inakute mo
Kimi wa koko de kagayaite

Motto issho ni warattari
Motto nai tari sureba yokatta ne
Sunaona omoi ni imasara kidzuite iru nda

Itsumo kimi o omotte iru yo
Soko kashiko ni sagashite iru yo
Kimi no sono koe ga kikitai na
Ima sugu koko de

Kimi no egao ga
Boku o kurayami kara tsuredashite kureta nda
Demo boku no yokogao wa
Kimi no egao kumora sete shimau nda
Kimi ga ite mo kimi ga inakute mo
Boku wa koko ni i rarenai

Te no hira ni tsukanda yume o
Ima wa oi tsudzukete ikou
Hitori demo kitto koete yukeru
Tatoe ima wa genjitsu ni
Shibara rete ikigurushikute mo
Yoake wa tashikani yattekuru

Boku no kono uta ga
Kimi no senaka o sotto oshite kureruto ii na
Tsutaetai koto
Nani hitotsu tsutae rarenai boku dakara

Kimi no egao ga
Boku o kurayami kara tsuredashite kureta nda
Itsuka boku no egao ga
Kimi no egao to shinkuro suruto ii na
Kimi to boku ga deaeta kono kiseki
Kokoro kara kansha shite iru yo

Itsuka kono uta kimi ni todoku ka na
Chippokena ai no uta

******************************************************¥¥¥***********************************************

Terjemahan Indonesia

Tiba-tiba bernyanyi
Tiba-tiba berciuman
Aku benar-benar harus mengucapkan banyak kata "Maaf" kepadamu

Aku takut kehilanganmu
Aku yang berbohong sepanjang waktu
Tapi, dihadapanmu
Aku ingin menjadi diriku yang sebenarnya

Meski jika keberadaanku
Akan menjadi bayangan dalam cahayamu
Kuharap keberadaanmu
Akan terus bersinar pada siapapun
Aku ada ataupun tidak ada disampingmu
Kau akan bersinar disini

Aku masih ingin tertawa bersama
Kumasih ingin menangis hingga aku merasa lebih baik
Baru sekarang aku menyadari perasaanku yang sebenarnya

Aku selalu memikirkan tentangmu
Aku akan mencarimu dimana pun
Berpikir bahwa ku ingin mendengar suaramu
Sekarang juga, disini

Senyumanmu
Telah membawaku keluar dari kegelapan ke dalam cahaya
Tapi satu sisi wajahku
Akan membawa awan bagimu
Kau ada ataupun tidak ada disini
Aku tidak bisa berada disini

Mimpi-mimpi yang kau genggam di tangamu
Sekarang pergilah, teruskan mengejarnya
Kuyakin kau bisa memperolehnya sendiri
Meski kenyataannya sekarang sedang menahanmu
dan menyesakkan nafasmu
Fajar pasti akan pecah pada akhirnya

Lagu yang kuciptakan ini
Kuharap dapat mendorong punggungmu
Karena sesuatu yang ingin kukatakan
Tak bisa kukatakan satupun

Senyumanmu
Telah membawaku keluar dari kegelapan ke dalam cahaya
Suatu hari nanti, akan baik  jika senyumku dapat menyatu dengan senyummu

Keajaiban yang mempertemukan kita
Aku berterimakasih dari hatiku yang terdalam
Suatu hari nanti, akankah lagu ini sampai padamu?
Lagu cinta yang mungil ini

Untuk mendownload lagu ini silakan browsing di web-web penyedia mp3. Jya ne.... ^^v

Selasa, 11 November 2014

They are Fighting Again

Ini adalah kisah pertarungan selama kurang lebih 27 tahun antara bapak dan ibuku. They always fighting.
Sedari kecil sebenarnya aku hidup dalam keluarga yang sudah berantakan. Ini keluarga hancur yang tampak utuh di luarnya. Ibaratnya telur busuk, kalau orang tidak ada di dalamnya tidak akan tahu betapa hancur dan busuknya telur itu. Atau apabila tidak ada yang memecahkannya, orang-orang tidak akan pernah tahu bau busuk itu.

Aku yang sedari awal ada disini, hidup disini dan entah akan berakhir disini, selama 26 tahun hidup dalam keluarga ini, aku merasa paling tahu bagaimana keadaan sebenarnya disini. Tetapi, karena sudah terbiasa, aku sering lupa kalau di keluarga ini bangunannya sering tiba-tiba roboh, pilar-pilarnya begitu rapuh dan mudah digoncangkan angin meskipun hanya angin sepoi-sepoi. Aku menjadi lupa dan kadang terlena dengan kemegahan yang tampak di luarnya.

They are not holding it back anymore. Selama ini kupikir, bapak dan ibuku tidak akan bertengkar lagi bila aku tinggal di rumah. Ini salah satu alasanku tidak meninggalkan rumah lagi setelah menyelesaikan studi. Aku meninggalkan segalanya demi tetap berada di rumah ini. Apa yang kucari? Apa yang kudapat? Adik laki-laki yang biasanya menjadi tameng bagiku berada di pulau seberang dan mereka mulai lagi aksi brutal itu. Kali ini apa? Ponsel jadi korban. Aku tetap bertahan disini karena mengkhawatirkan adik perempuan yang baru memasuki masa remajanya. Aku harus melindunginya dari perasaan menderita karena pertengkaran orang tua. Apa aku bisa? Sampai kapan kami bisa bertahan?

Aku tidak habis pikir. Apa yang terjadi sejak lama, tidak pernah ada habisnya. Selalu masalah yang sama. Selama ini aku berusaha untuk tidak peduli. Ini hanya masa puber kedua mereka. Benar-benar orang dewasa dengan sifat dan sikap anak remaja baru gede. Hah... kuso! They didn't even care about their children's feeling. Just what the hell is wrong with them..?

Kepada siapa harus kuadukan perasaan ini? Siapa yang akan menolong? I can't even tell my brother about this. It's frustrating. Really..
Mereka sudah gagal menjadi orangtua. Mereka telah membuatku tidak mempercayai cinta, mereka membuatku takut menikah, mereka membuatku merasa terbebani.

Ya Tuhan, berikan jalanMu.