Google+ Followers

Selasa, 03 April 2018

Sampai Nanti di Waktu Yang Tepat

Malam ini, ibuku mendapat telpon dari teman masa SDku yang saat ini notabene sedang mencoba mendekatkan jarak denganku. Dia dari kasta yang lebih tinggi dan saat ini sedang berada di Jepang sebagai TKI. Disana dia memiliki ipar seorang wanita Jepang.

Saat dia menelpon kebetulan aku sedang berada disamping ibuku dan mendengar percakapan mereka. Tak lama kemudian ibuku memberikan telpon itu padaku.

Aku tak memiliki banyak ingatan tentang orang itu di memoriku. Yang kuingat dia hanya teman SD. Aku dan dia mungkin sebelumnya belum pernah saling bicara. Bahkan aku bertegur sapa. Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali bertemu dengannya.

Dalam obrolan yang cukup panjang antar negara itu, dia sebenarnya sudah dengan jelas menyatakan bahwa dia memiliki ketertarikan padaku bahkan sejak masih kecil. Tapi, seingatku tak pernah sekalipun aku menyadarinya atau mendapat sinyal-sinyal itu. Mungkin karena aku terlalu tumpul atau tidak terlalu memperhatikan. Mungkin juga karena tak pernah ada pikiran tentang dia dalam benak ini.

Kalau saja ini 2-3 tahun yang lalu, mungkin aku akan dengan senang hati menerimanya tapi dengan pemikiran yang tidak matang dan perasaan yang abal-abal. Sudah setahun lebih aku membuat keputusan mengenai masa depanku. Aku mungkin bukan tipe manusia yang bisa memiliki hubungan romantis dengan manusia lainnya. Jadi, aku memutuskan untuk melepas semuanya, beban, harga diri, rasa tanggung jawab, semuanya. Aku sudah pasrah, tak mungkin bagi diriku untuk jatuh cinta, jadi tak mungkin relasi yang kujalani akan bahagia. Aku ingin merasakan hati yang penuh. Hati yang terisi. Di usiaku, tidak mungkin aku menemukannya. Maka dari itu, aku tidak akan menikah dengan orang yang tidak kucintai dari dasar hati.

Determinasi itu tertanam begitu kuat sampai saat ini. Bahkan saat aku menemukan diriku jatuh cinta dengan Masa, aku masih berpikir bahwa tidak apa-apa bila cinta ini tak terbalas, berarti bukan untukku. Meskipun rasanya mungkin akan melebihi dari rasa menyakitkan. Hampir setahun aku mengenal Masa, jatuh cinta dan berpikir bahwa ini mungkin bukan sesuatu yang akan terwujud dengan mudah. Kalaupun ada kesempatan dengannya mungkin saat itu sudah terlalu terlambat.

Lalu datang teman masa SDku ini.

Bagi ibuku, dia membawa angin segar.

Saat dia bertanya alasan aku belum menikah sampai saat ini. Aku tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Tidak mungkin kukatakan tentang harapan besarku pada sebuah keluarga yang bahagia dan tanpa banyak masalah. Saking besarnya harapan itu aku menjadi takut kecewa dan terluka. Tak mungkin kubilang bahwa orang tuaku menjadi contoh nyata sebuah pernikahan yang tidak bahagia.

Aku hidup dalam keluarga semacam ini. Makanya bukan hal kebetulan bila aku akhirnya memiliki ketakutan-ketakutan tersendiri. Menjadi terlalu paranoid? Entahlah.. Dalam pikiranku aku terlalu sering berpikiran negatif, bahwa suatu hal yang mustahil untuk memperoleh kebahagiaan.

Mungkin sudah cukup diriku hidup dalam idealisme. Sudah saatnya aku memasuki realita. Maksudnya realita yang benar-benar nyata. Bisa juga dibilang, sudah cukup bermimpi. Sudah saatnya bangun. Apa selama ini aku menjalani kehidupan hanya untuk memahami hal ini?

Aku yakin bila saatnya tiba akan ada waktu yang tepat. Aku tak harus berada dalam kebimbangan. Aku tak harus selalu dipenuhi rasa penasaran. Aku juga mungkin tak perlu banyak menimbang-nimbang.
Sampai nanti di waktu yang tepat. 

Sabtu, 17 Maret 2018

Hari Nyepi : Tahun Baru Saka 1940

Setiap tahun kami, umat hindu Bali selalu merayakan tahun baru saka, Nyepi. Sebuah hari yang sangat istimewa. Waktu masih kecil kupikir hari nyepi dirayakan seluruh dunia, maksudku waktu itu aku bahkan belum mengetahui dunia itu seperti apa. Setelah dewasa aku baru paham bahwa hanya "kami" yang melakukannya dan dunia memuji apa yang kami lakukan. Betapa hari ini begitu bermanfaat bagi dunia, mengurangi emisi, mengurangi polusi, bahkan hanya dilakukan di sebuah pulau kecil bernama Bali. Setelah dewasa aku mulai bangga melaksanakan hari Nyepi ini. Satu-satunya hari yang bisa menolak penerbangan internasional.Bayangkan, dimana lagi ada hal yang seperti ini? Hanya Bali yang bisa menghentikan pengoperasian sebuah bandara. Tapi, mungkin tidak seistimewa itu ya, Lol.

Dalam melaksanakan hari Nyepi kami memiliki 4 pantangan yang disebut "Catur Brata Penyepen" yang merupakan empat larangan, diantaranya Amati Geni tidak boleh menyalakan api, Amati Karya tidak boleh bekerja, Amati Leluangan tidak boleh bepergian, dan Amati Lelanguan tidak boleh berfoya-foya atau bersenang-senang. Tapi, pada kenyataannya kami umat hindu bukan kumpulan manusia yang fanatik, sehingga tidak semua orang melaksanakan ke empat larangan itu tanpa cela. Terkadang bila memungkinkan seharusnya kami berpuasa, tetapi puasa bukan hal yang populer yg dilakukan orang Bali. Kami tidak terikat pada aturan-aturan semacam itu. Tidak ada ajaran jelas yang menjanjikan surga bagi kami, semua tergantung diri sendiri dan tidak akan ada yang mencela atau memprotes kalo kamu tidak melaksanakan satu ajaran dengan benar. Yang kami cari adalah kedamaian.

Selama ini aku tidak pernah membahasnya tapi aku percaya bahwa Hindu yang dianut orang Bali adalah Hindu yang berbeda dari Hindu di daerah lain ataupun agama lainnya. Salah seorang teman dari organisasi kehinduan pernah mengatakan bahwa agama hindu sebenarnya baru dianut orang Bali sekitar tahun 60-70an dimana saat itu ada aturan pemerintah yang mengharuskan setiap warganya untuk menganut agama yg diakui pemerintah. Orang Bali yang notabene tidak beragama dan masih menganut animisme akhirnya memilih untuk menganut agama Hindu karena dirasa ajaran hindu-lah yang paling cocok dan paling mendekati dengan paham yang dianut orang Bali. Tidak seperti agama kebanyakan yang "diikuti" penganutnya, di Bali justru Hindu yang mengikuti paham penganutnya. Orang Bali tetap bertahan pada paham yg telah ada. Kami adalah umat yang memuja leluhur. Kami terikat bukan pada agama tapi pada leluhur, pada tanah kelahiran, pada alam, hal-hal yang tak kasat mata yang kami buatkan persemayaman berupa pura, atau sanggah, atau pelinggih. Bahkan setiap daerah di Bali memiliki caranya masing-masing.

Kembali pada topik Hari Raya Nyepi. Tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya, nyepi kali ini aku habiskan bersama ipar. Tanpa ibu, karena ibuku pulang ke rumah mudanya.

Aku masih ingat bagaimana aku dan keluargaku menjalani hari Nyepi ketika aku masih anak-anak. Sewaktu masih ada nenek. Sewaktu hubungan kedua orangtuaku masih lebih baik dibandingkan beberapa tahun ini. Saat itu satu hari terasa begitu panjang. Pernah di suatu waktu, aku menyusuri tegalan untuk membawakan makanan untuk pamanku yg sedang berada di kubu (rumah pesinggahan di tengah tegalan). Suatu kali aku pernah berjalan-jalan di jalanan yang sepi dan bermain bersama teman-teman sekolah. Dan tradisi keluargaku saat itu adalah tidur bersama di malam hari yang gelap gulita. Menjelang malam di hari nyepi biasanya kami akan menyiapkan karpet, bantal, dan tirai di sekenem (bale bengong permanen yang memiliki enam adegan/pilar penyangga). Kami semua tidur disana sepanjang malam.

Berbeda dari tahun-tahun tersebut, tahun ini kami membaringkan diri beralaskan batu sikat yang hangat dan tikar di halaman depan rumah sambil memandang langit yang penuh bintang. Di pinggir jalan depan rumah duduk bapak bersama beberapa tetangga sedang mengobrol. Hari nyepi masih selalu menjadi hari istimewa bagiku.

Selamat hari raya Nyepi.
Happy Silent's day.

Sabtu, 10 Maret 2018

What am I crying for?

Catatan: Ketika menulis postingan ini aku tidak menangis.
Dalam playlist JOOX-ku sedang memutar lagu Evanessence yang berjudul "Bring Me to Life", salah satu lagu favoritku. Lagu ini memutar dalam mode putar ulang hanya 1 lagu. 
Dalam beberapa moment kehidupan yang kualami, ada saatnya memang ketika mendengarkan lagu ini tiba-tiba saja timbul perasaan ingin menangis. Aku merasa diriku seperri dalam lagu. Diri ini kosong, jiwaku entah tertidur dimana, aku tidak merasa hidup. Diriku yang terkubur di dalam sana seperti sedang terus-terusan berteriak meminta diselamatkan. Kalau terus mengatakan yang sebenarnya seperti ini mungkin aku benar-benar akan menangis. Aku hanya merasa cukup menyadari bahwa entah dimana pun tidak ada yang bisa menyelamatkanku. Kadang-kadang aku terlalu mengharapkannya dan membuat diri semakin terluka dan malah mengubur diri semakin dalam.

Meskipun begitu, bahkan aku sendiri pun tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan diriku sendiri. Harus bagaimana seseorang itu untuk menyelamatkanku. Aku tidak tahu. Itu seperti sebuah "quest box" dalam game yang hanya akan kita ketahui jawabannya ketika sudah menyelesaikan suatu misi. Tapi bahkan, meskipun kita sudah menemukan box tersebut kadang kala kita mendapatkan box kosong. Masalahnya mungkin hanya ada pada peruntungan. Meskipun sudah bekerja keras,  tanpa peruntungan yang baik semua itu akan menjadi sia-sia.

Jadi sebenarnya apa yang harus kutangiskan? Aku akan diselamatkan suatu saat nanti, entah kapan.

Minggu, 25 Februari 2018

If Only

Sudah beberapa kali terselip dalam angan, "jika saja aku bisa mengubah semua ini di masa depan".

Seperti yang kutuliskan dalam postingan sebelumnya bahwa usia terpanjangku mungkin hanya sampai 70-80 tahun. Itu berarti aku akan hidup sekitar 40-50 tahun lagi. Itu waktu yang sangat lama.

Aku telah memikirkannya. Aku tak menemukan hal berarti yang bisa kubanggakan dari hidupku saat ini. Meskipun begitu aku merasa cukup bersenang-senang dan ada sedikit guna meskipun aku merasa tidak lengkap. Orang melihat dengan sudut pandang yang berbeda jadi tidak akan pernah paham akan apa yang sebenarnya kurasakan dan kupikirkan. Aku mempunyai pekerjaan yang bagus, gaji yang bagus, memiliki hari libur, tapi aku merasa tidak memiliki apa-apa. Aku melakukan semua ini untuk diriku sendiri dan itu terasa tidak berarti. Aku mulai merasa lelah. Di tempat kerja mulai terasa tidak menyenangkan dengan rekan kerja yang entah kenapa mulai rutin memojokkan rekan kerja lainnya. Sejak kapan mereka seperti itu? Aku merasa seperti kembali ke tempat kerja lamaku. Aku tidak betah, merasa sendirian, merasa terpojok, padahal bukan aku yang mereka pojokkan, merasa mungkin di belakangku mereka juga memojokkanku. Entah sejak kapan auranya berubah sangat kelam. Aku menjadi mudah tersinggung dan mudah lelah. Apa mungkin sebenarnya hanya aku saja yang berada dalam kondisi psikis yang buruk? Entahlah. Mungkin aku perlu berubah sedikit.

Jika saja semua dapat kuubah di masa depan. Di masa depan nanti aku masih ingin menjadi diriku sendiri, dengan kepribadian seperti sekarang ini, dengan begitu kekurangan yang kumiliki, dengan begitu banyak pertanyaan, keluhan, protes dan pikiran-pikiran anehku, dengan begitu sedikitnya potensi yang kumiliki, sifat pasif yang tak bisa kutangani, dan dengan hati yang sekuat baja, ah tidak, untuk yang satu ini aku berbohong, hatiku sama sekali tidak sekuat baja. Hatiku lebih pada kaca, tapi aku berpura-pura bahwa itu adalah baja. Tak apa, aku mencintai diriku apa adanya.

Di masa depan nanti, mungkin 130 tahun lagi. Perhitungannya, paling lama 50 tahun lagi aku akan mati lalu mungkin aku akan butuh waktu sekitar 50-100 tahun kemudian untuk terlahir lagi. ika memungkinkan aku lahir sebagai manusia lagi, aku ingin lahir di keluarga ilmuwan. Aku akan menjadi ilmuwan yang bercita-cita menjelajahi luar angkasa. Space traveler. Jika pada saat itu bumi belum mengalami kehancuran total.

Dalam bayanganku, beberapa waktu di masa yang akan datang bumi akan mengalami pembaharuan zaman. Sebagian besar permukaan bumi akan mengalami perubahan penampakan. Tapi peradaban manusia akan tetap maju. Aku berharap di zaman itu manusia tidak meributkan persoalan agama dan kepercayaan. Juga, semoga tidak terjadi perang antar negara. Mungkin negara-negara di dunia akan bersatu saat itu menjadi sebuah union. Kuharap saat itu manusia bumi sudah menemukan teknologi untuk menumbuhkan tumbuhan di luar angkasa, atau teknologi lain yang bisa menciptakan oksigen agar manusia bisa hidup di planet lain.

Jika saja alam semesta menjadi tempat penjelajahan yang memungkinkan, aku ingin menjelajahi seluruh alam semesta. Aku ingin memiliki kapalku sendiri, menjelajahi luar angksa seorang diri.

Jika saja memungkinkan, kuharap di masa depan manusia masih memiliki moral, etika dan budi pekerti. Tapi aku juga ingin agar sains selalu dipertimbangkan dan bisa melegalkan beberapa hal. Karena di kehidupan ini banyak hal yang menjadi terhambat karena pertimbangan agama dan moral, aku harap di masa depan sains yang digunakan sebagai pertimbangan. Jika memungkinkan, aku berharap bisa menciptakan kloningan, atau melahirkan bayi tanpa menikah. Misalnya, aku tidak bisa menemukan pria yang kucintai, lebih baik aku hidup sendiri dan melanjutkan hidup dengan kloningan, atau bila ada pria yang kucintai tapi pria itu mencintai oang lain aku ingin dilegalkan melakukan program bayi tabung dengan sperma pria itu. Kalau hal seperti itu terjadi, munin tak kan pernah ada pernikahan ya. Karena, jika itu aku, yang kubutuhkan bukanlah seorang suami, tapi seorang atau dua oang anak. Dengan adanya hal seperti itu, ada berapa banyak impian wanita yang akan terwujud. Paling tidak impian wanita sepertiku, yang tidak memiliki harapan akan cinta.

Di kehidupanku yang sebelumnya, aku penasaran, visi masa depan macam apa yang kumiliki? Di kehidupan ini, apa aku telah memenuhi ekspektasi diriku di kehidupan sebelumnya? Siapa diriku di kehidupan sebelumnya? Apa waktu itu aku menikah dan hidup bahagia? Meskipun aku menanyakannya aku tidak akan pernah mendapatkan jawaban. Karena itulah, aku hanya akan nemikirkan masa depan.

If only it could be changed. 

Selasa, 20 Februari 2018

Aku Ingin Pindah ke Finlandia

Aku bahkan tidak tahu Finlandia itu dimana dan bagaimana kehidupan orang-orang disana, tapi aku punya feeling bahwa jika aku ingin pindah tinggal ke luar negeri maka negara itu adalah pilihan yang tepat.

Dari namanya saja sudah membuat hati merasa adem. Seandainya saja aku bisa pindah ke luar negeri, aku ingin pindah kesana, aku ingin menmukan pria Finlandia, menikah dengannya lalu mendapatkan green card sehingga aku bisa tinggal sepuasnya disana. Aku ingin menghabiskan hidup dengan pria yang penuh cinta, perhatian, dan mencintai sepenuh hati dan tulus. Meskipun pria semacam itu hanya ada dalam cerita romantis.

Kehidupan percintaanku aku yakin bukan cerita romantis. Mungkin cerita hidupku adalah komedi tragedi. Rasanya genre itu yang paling masuk akal. Setragis apapun kisah hidupku, aku yakin pasti ada hal lucu yang bisa membuatku tertawa. Suatu saat ketika aku mengenang kembali masa-masa yang telah kulewati aku pasti akan menertawakannya.

Saat ini aku merasa sangat patah hati. Hatiku terluka, tapi aku masih bisa tersenyum. Aku merasa bodoh dan konyol. Dan tiba-tiba saja terpikir kembali keinginan untuk pindah ke luar negeri. Perasaan yang sama ketika adik laki-lakiku menikah sebulan yang lalu. Aku ingin pergi ke luar negeri, ke mana pun, jauh dari negara ini, jauh dari semua yang mengenalku, mencari kehidupan baru, menemukan hal-hal baru dalam hidup. Aku ingin memiliki hidup yang baru.

Aku ingin pergi dari negara ini dimana orang-orangnya mulai terasa menyebalkan. Orang-orangnya yang mulai melihatku sebagai wanita 30 tahun yang belum menikah. Melihatku sebagai wanita 30 tahun yang tinggal sendiri dan berpikir bahwa aku menyembunyikan pria di rumahku. Oh ayolah, aku bukan manusia mainstream. Dan apalagi yang orang pikirkan tentangku, sebenarnya aku tidak peduli, hanya saja aku merasa diri ini menyedihkan.

Seharusnya aku cukup depresi untuk memutuskan menikahi siapa saja yang tertarik kepadaku, tapi kenyataannya apa. Di tahun 2017 sudah berapa pria yang kutolak? Mengawali 2018 saja aku sudah menolak seorang pria yang notabene sudah mendekatiku selama 3 tahun. Apa aku terlalu keras pada diri sendiri? Tapi toh aku telah membulatkan tekad. Yang kubutuhkan bukan pria biasa yang mencintaiku, aku butuh pria luar biasa yang dapat membuatku jatuh cinta kepadanya. Maksudku, pria seperti itu tidak mudah. Aku memang tidak mematok syarat apapun, cukup dengan modal perasaan "jatuh cinta" itu saja dulu, aku bisa memaafkan yang lainnya. Lagipula aku juga bukan manusia luar biasa yang bisa membuat pria jatuh cinta.

Kembali pada topik ingin pindah ke luar negeri. Aku tidak tahu apa-apa tentang Finlandia, aku hanya merasa negara itu adalah negara yang cukup bersih, aman, bermoral, manusiawi dan sehat. Dan kuharap bukan negara yang religius. Aku bosan dengan segala hal yang berbau terlalu religi. Entah kenapa kesannya selalu sok suci dan selalu paling benar. Aku tidak benci, hanya tidak suka saja.

Fantasiku tentang Finlandia mungkin akan semakin panjang dan lebar. Padahal mungkin aku bahkan tidak akan mungkin menginjakkan kaki di negara itu. Tapi, tetap berdoa dan berharap.

Jumat, 16 Februari 2018

Menikah Tanpa Cinta

"Aku dan istriku menikah tapi tidak saling mencintai", itu kata temanku beberapa hari yang lalu. Pria yang dulu pernah mendekatiku tapi kutolak.
Apa rasanya menikah tapi tidak saling mencintai? Aku pernah mencoba membayangkannya, bahkan pernah ingin melakukan hal yang sama. Hampir. Tapi, takdir berkata lain. Aku disadarkan oleh kata hati yang menjerit-jerit itu. Rasa sakit yang tak tertahankan. Yang pada akhirnya membuatku berada dalam situasi saat ini.

"Di dunia ini tidak ada yang namanya cinta, cinta tidak bisa membuat kita kenyang. Yang lebih dibutuhkan wanita bukan cinta tapi uang", temanku menambahkan.

Saat mendengarnya, aku hanya bisa diam. Dalam hati aku mulai mempercayai bahwa pria ini sebenarnya percaya pada adanya cinta hanya saja dia mungkin mendapatkannya dalam bentuk yang berbeda dari yang dia harapkan.
Mungkinkah aku juga akan mendapatkan hal yang sama seperti itu? Menikah dengan orang yang notabene tidak mencintai kita dan kita juga tidak mencintainya? Jika aku yang mengalaminya berapa lama hatiku akan bertahan, berapa banyak korban perasaan yang harus kulakukan, berapa banyak penyesalan yang akan kusisakan? Aku tidak bisa membayangkan hidup semacam itu.

Meskipun begitu, sampai pada dua tahun yang lalu, aku masih menggantungkan harapan pada logika dibandingkan perasaan. Tapi, sekeras apapun aku berusaha semua itu tidak mudah. Apa yang dilakukan, apa yang dikatakan, bertolak belakang dengan apa yang dirasakan. Aku merasa kosong, gelap, buntu, tanpa arah. Di dalam hatiku ini ada celah yang tak bisa menutup. Ada bagian yang hilang disana dan aku tidak bida menemukannya di manapun. Entah dengan apa harus kutambal. Sampai saat ini masih terus menganga dan itu mudah sekali terasa sakit.

Aku hanya berpikir untuk paling tidak, tidak membuatnya tersakiti terus menerus. Entah sejak kapan celah itu ada, dan entah karena apa celah itu menganga. Yang kutahu hanya ingin celah itu tertutup.

Kembali pada topik tentang cinta.
Sampai saat ini, aku tidak pernah memiliki gambaran yang sempurna tentangnya. Belum pernah ada kejadian dimana saat aku mencintai seseorang, orang itu balas mencintaiku juga, atau di saat seseorang mencintaiku aku bisa membalas cintanya.
Meskipun di dalam hati aku ingin sekali mengalami salah satunya.

Sejak dulu aku juga sering mengatakan bahwa aku tidak percaya pada cinta, bahwa cinta sejati itu tidak ada, bahwa cinta hanyalah omong kosong, tetapi sesungguhnya saat aku mengatakannya aku sedang berusaha menekan kejujuran hatiku. Sebebarnya aku adalah orang paling mengharapkan akan adanya cinta sejati.

Kenapa rasanya begitu menyakitkan mengingat nasihat teman-temanku tentang hubungan percintaan? Yang membuatku semakin sakit adalah karena aku merasa mereka sedang menekan hati mereka dan sedang menahan rasa sakit. Dan hal itu mengingatkanku akan rasa sakitku sendiri.

Jumat, 09 Februari 2018

Aku dan Diriku yang Jatuh Cinta pada Cinta

Hey Blog!
Aku mulai berpikir tentang bagaimana caraku menghadapi semua ini. Tidak! Bukan semua. Tapi hanya satu hal saja.
Karena aku telah berpikir berkali-kali tentang apa yang sebenarnya harus kulakukan menanggapi apa yang mungkin akan terjadi.
Aku tidak punya kepercayaan diri.
Sejak awal aku memulainya dengan rasa tidak percaya diri dan seharusnya itu membuatku tidak memiliki banyak harapan. Tidak banyak yang bisa kulakukan. Tidak ada yang bisa menolong selain diri sendiri. Rasanya begitu berat.
Aku bertanya-tanya apakah orang lain mungkin merasakan hal yang sama? Tapi, kasusku mungkin sedikit berbeda. Hanya saja aku masih terlalu pengecut dan masih sering ingin melarikan diri.
Selalu berpikir bagaimana cara agar membuat hatiku tidak begitu sakit. Berada dalam ketidakpastian dan keragu-raguan benar-benar bukanlah hal yang baik. Begitu menakutkan. Aku harusnya bisa melewati ini sejak lama kalau saja kesempatan demi kesempatan tidak kulewatkan begitu saja.
Dan berpikir bahwa ini hanyalah sebuah rasa yang timbul tanpa sengaja. Itu bukanlah jatuh cinta. Atau mungkin saja itu memang jatuh cinta. Hanya saja, aku mungkin jatuh cinta pada konsep cinta itu sendiri. Jadi sebenarnya kepada siapapun aku mungkin akan merasakannya asalkan orang itu memiliki passion yang sama.
Semudah itu aku jatuh cinta. Karena passionnya, karena mimpinya, karena harapannya.. tapi bukankah apa yang dia lakukan tidak sebanding dengan apa yang ada dalam fantasy-ku. Passionnya, mimpinya, harapannya, tidak seberharga itu.
Ayolah... aku telah membuka mata, aku melihat kenyataan tapi kenapa aku tidak merasa kecewa dengan ketidaksesuaian itu? Mata yang mana lagi yang harus kubuka?