Google+ Followers

Jumat, 18 Agustus 2017

I Forgive You

Kali ini tentang mantan.

Beberapa waktu lalu, aku melihat status mantan di facebook. Melalui statusnya itu aku tahu bahwa dia masih merasa tidak puas dengan keputusan sepihakku untuk putus, meskipun dia sudah menerimanya, mungkin tidak seratus persen. Padahal sudah cukup lama rasanya. Mungkin terlalu banyak hal yang dia sesali, mungkin selama denganku dia mengorbankan terlalu banyak hal sehingga menjadi sulit melepaskan diri. Aku bisa memahami itu. Aku juga pernah mengalaminya sekitar 8 atau 9 tahun yang lalu. Apa aku sudah menjadi lebih dewasa sekarang, aku sama sekali tidak tersulut untuk membalas, untuk membuat pembenaran, dan terlebih-lebih aku tidak merasa kasihan. Tunggu. Mungkin bagiku tidak tepat kalau mengatakannya sebagai rasa kasihan karena di dalam diriku aku menyesalkan juga mengapa hubunganku dan dia berakhir seperti ini. Butuh 9 tahun bagiku untuk menghadapi hal-hal seperti ini, untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana menanganinya. Tuhan tahu bahwa aku sangat lelet dalam hal-hal seperti ini, tidak heran beliau memberiku banyak ujian.

Aku menyayangkan status mantan. Kupikir semua sudah clear saat itu. Kapan itu? Awal Mei? Bukankah itu sudah hampir 4 bulan yang lalu? Dia baru membahasnya sekarang? Baru merasa galau sekarang? Baru sadar sekarang? Apa itu berarti bahwa dia juga tipe yang lambat? Yang berarti juga dia belum lulus dari ujian yang sama? Hanya Tuhan yang tahu. Tapi, terlepas dari semua itu, aku merasa lega. Aku lega sudah tidak berpacaran dengannya lagi. Meskipun aku akan dicap buruk oleh teman-temannya, oleh keluarganya, oleh orang tuanya, oleh orang yang hanya sekedar kenal dengannya atau denganku. Itu tidak apa-apa. Toh bukan mereka yang merasakan. Bukan mereka pula yang membuatku kenyang, atau terbebas dari panas dan hujan. Tapi, untung juga ada orang yang peduli pada mantanku untuk berbagi cerita, meskipun itu adalah cerita sedih. Dan aku mungkin perlu mengingat-ingat kapan terakhir kali dia menceritakan hal yang membahagiakan. LOL
Entah kenapa dalam memoriku yang tersimpan hanyalah perasaan berat, entah dimana lembaran memori yang memberi rasa ringan. Yang kuingat hanya keluhan-keluhan. Tapi, aku juga ingat banyak sekali pengorbanannya.

Aku mungkin tidak tahu berterima kasih, tapi aku tidak berpikir bahwa adalah hal yang baik mempertahankan sebuah hubungan hanya karena rasa terima kasih.

Aku saja yang mungkin menjadi tidak paham. Esensi sebuah hubungan adalah untuk menjadi bahagia. Bahkan bila hubungan itu harus berakhir adalah juga demi kebahagiaan. Jadi, intinya sekarang, hanya aku yang ingin bahagia. Maka dari itu hanya aku sendiri yang mengetahui hal-hal yang akan membuatku bahagia. Tapi, bahagiaku ternyata tidak serta merta membuat orang lain juga bahagia. Contohnya adalah mantan.
Dia tidak paham akan arti sebuah kebahagiaan bagiku. Aku juga tidak paham arti kebahagiaan baginya. Sekarang aku menyadari bahwa kebahagiaanku bukan kebahagiaannya. Aku menyesalkan hal itu.

Aku merasa beruntung telah melepaskan diri darinya. Kalau tidak, mungkin hidupku akan terus berada dalam tekanan.

Sebenarnya, aku benar-benar tidak paham hal-hal apa yang bisa membuatnya bahagia. Selama denganku dia tidak pernah mengatakan tidak bahagia, tapi ketidakbahagiaannya mungkin bukan karenaku. Selama ini dia dalam tekanan yang secara tidak langsung membuatku merasa tertekan. Dia mengeluhkan bisnis kecil-kecilannya yang selalu tidak dapat untung. Itu membuatku khawatir, aku mengkhawatirkan tentang masa depanku bila nantinya menikah dengannya. "Apakah dia akan terus-terusan mengeluh?" Selalu itu yang terpikir olehku. Seolah aku tidak paham kondisinya. Oke, mungkin aku memang tidak paham. Aku tidak paham dimana letak bagusnya mengeluhkan masalahmu pada orang yang notabene ingin kamu nikahi. Mengeluhkan masalah keuangan, masalah bisnis, kondisi keluarga yang secara ekonomi memang tidak mampu, sementara disisi lain menikah membutuhkan banyak biaya. Ah, aku benar-benar tidak tahan. Semua itu membebaniku. Dia tidak pernah paham. Padahal aku sudah mengatakannya berkali-kali, bahwa aku tidak suka dia mengeluh. Anehnya dia mengatakan dia hanya ingin curhat. Dia ingin orang yang dia cintai memahami kondisinya. Oke, anggap saja aku tidak bisa memahami, jadi tolong jangan curhat padaku. Memangnya apa gunanya curhat dengan orang yang tidak bisa memahamimu?
Aku masih bisa mencoba untuk lebih memahami. Aku juga mencoba memikirkan solusi, tapi pada saat bersamaan solusi apapun terasa buntu. Dia tidak mengerti bagaimana jalan pikiranku dan aku juga tidak mengerti jalan pikirannya.

Mungkin permasalahannya cuma satu, apa yang dia rencanakan tidak sama dengan apa yang kurencanakan.

Dalam pikiranku, saat menjalin hubungan lagi dengannya, aku ingin ini untuk yang terakhir kali. Aku tidak ingin lagi mempedulikan apakah ke depannya aku hidup bahagia atau tidak. Aku ingin tidak terlambat menikah. "Paling tidak, enam bulan lagi aku pasti akan dinikahi." Pikirku yakin. Toh aku dan dia sudah pernah gagal sebelumnya, aku yakin kali ini pasti akan ada perubahan, akan ada kemajuan, akan ada sinkronisasi.
Lalu apa?
Enam bulan berlalu begitu saja.
Nyaris tanpa tanda.
Hanya ada wacana.
Aku mulai gelisah. Aku sudah mengorbankan waktu dan tenaga menunggu selama enam bulan. Oke, akan kutunggu sedikit lagi, paling tidak 3 atau 6 bulan ke depan akan ada kabar. Paling tidak pembicaraan tentang tanggal.
Lalu apa? Hampir setiap hari aku harus mendengar keluhan tentang seretnya kondisi keuangannya. Tentang tidak berkembangnya toko rintisannya. Tentang usahanya mencari pinjaman untuk bisa menikah, tentang hal-hal yang harus dilakukan agar aku dan dia bisa menikah. Paling tidak, pada saat itu aku bisa memaklumi kondisinya, ya tidak perlu acara besar, bahkan upacara pun sederhana saja asal sah, menikah di Griya pun aku tak masalah. Meskipun itu bisa saja menjadi hal yang paling nista yang akan dilakukan orang di keluargaku. Aku tidak masalah. Yang kumau hanya disahkan sesegera mungkin. Aku malu dengan usiaku yang semakin tua, aku malu pacaran lama-lama tanpa kepastian, aku malu melajang. Apapun akan kujalani demi menghindari cap "perawan tua".
Itu yang kupikirkan saat itu.
Sampai pada suatu hari, saat aku membahas mengenai pernikahan dengan dia, aku merasa ada ketidakikhlasan darinya ketika menerima bahwa aku tidak mau pindah tempat kerja. Saat itu mungkin akar permasalahannya. "Kalau aku tinggal disana aku kerja apa?" Dia bertanya seolah pikirannya mulai buntu.
Dalam hati aku terkejut, "Hah? Dia mempertanyakan pekerjaan padaku?" Bahkan kalau dia tidak bekerja dan hanya mengurus kebun di tempat yang kutinggali saja aku tidak masalah. Mau dia jadi kuli bangunan, jadi pegawai swasta, atau menerima tawaran ibuku membuka toko disini juga aku tidak masalah. Ibuku yang memberi ide untuk mengajaknya tinggal disini dan bersedia membuatkan lapangan pekerjaan. Tapi, dari cara dia bertanya, aku merasa seolah dia mendapat tekanan hebat. Pada saat yang sama semua rencanaku dan ibuku seolah retak sedikit demi sedikit. Tidak bisa diharapkan. Dia bahkan tidak bisa memikirkan pekerjaan apa yang akan dia lakukan bila pindah ke tempatku. Saat kuutarakan niat ibuku untuk membuatkan toko untuknya, entah apa jawabannya, aku bahkan tak ingat. Aku tahu dia tidak senang. Dari gelagatnya aku sudah menyadari dia punya keinginan untuk memiliki pekerjaan selevel denganku. Gajiku tidak besar tapi konsisten.
Lalu tawaran itu datang.
Dia mengatakan padaku bahwa dia mendapat tawaran untuk menjadi sekretaris desa atau apalah, yang katanya selevel pegawai negeri sipil. Saat itu, aku sudah mulai hilang harapan. Aku yakin dia akan menggunakan alasan pekerjaan itu untuk menarikku kesana kalau seandainya dia menerima pekerjaan itu. Maka dari itu aku memberinya pilihan, "Aku rasa aku tidak perlu mengulang lagi keputusan bulat yang sudah kukatakan. Kalau kamu menerima pekerjaan itu maka aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini."
Kupikir semua sudah clear pada saat itu. Tapi, ternyata tidak semudah itu berbicara dengan dia. Aku tahu dia sangat menginginkan pekerjaan itu. Sebenarnya aku sangat yakin dia akan memilih pekerjaan itu lalu ya sudahlah, berarti dia bukan jodohku. Karena aku yakin sebenarnya dia tidak ikhlas ingin tinggal disini. Aku telah memberikan dia tekanan yang begitu hebat, yang mungkin dirasakan oleh pria yang akan "nyentana" padahal dia tidak dalam status itu.
Berkali-kali dia membahas mengenai peluang pekerjaan itu, berkali-kali pula aku memberinya pilihan yang sama, meskipun sebenarnya aku sudah bosan, dan dalam hati sudah dongkol memikirkan betapa lambatnya sistem problem solvingnya, dia bahkan tidak tahu mana prioritas dalam hidupnya. Aku bahkan sudah menyarankannya untuk menerima pekerjaan itu, dengan resiko berpisah denganku. Sebenarnya aku merasa senang saat itu, "akhirnya aku punya alasan untuk mengakhiri hubungan buntu ini" hati kecilku berkata.
Tapi, dia berkata telah menolak tawaran itu. Astaga. Teriakku dalam hati. Apa itu artinya dia ingin mengatakan bahwa dia rela mengorbankan apa saja demi aku? Tapi, kenapa aku merasa tidak senang?
Alasannya mungkin terdengar rumit. Aku tidak paham dengan jalan pikiran orang yang tidak mempunyai mimpi. Dia sepertinya salah satunya. Mungkin dia mempunyai mimpi hanya saja mimpinya terlalu sulit untuk diwujudkan. Lalu dia beralih pada hal-hal lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan mimpi itu. Aneh. Dia tidak punya passion. Dia berpatokan padaku. Seandainya dia anakku, aku mungkin akan merangkulnya dan memeluknya erat, lalu memberikannya arahan menuju mimpinya. Tapi, ini berbeda. Dia seorang pria dewasa yang seharusnya bisa lebih memikirkan mana yang baik untuknya. Lalu kenapa, meskipun dia tidak ikhlas dia berkorban untukku. Dia tampak tak bahagia. Terlihat dari pembahasan mengenai hal yang sama (lagi) -tentang pekerjaan sekretaris desa- yang tampaknya belum move on padahal sudah dia tolak. Dia menyatakan penyesalannya, padaku. Aku turut menyesal. Aku sedih. Aku terpukul. Aku menangis dengan perasaan menderita. "Kenapa aku dihadapkan lagi dengan hal semacam ini dari orang yang sama?" Tanyaku dalam hati dengan perasaan yang hancur karena merasa telah membuat orang lain tidak bahagia. Aku telah membuat seseorang menjadi tidak bahagia karena memilihku. Itu benar-benar membebani. Seolah ada berton-ton beban yang menimpaku. Dia tidak akan paham rasanya. Karena selama ini yang dia lakukan hanyalah menuntut dariku, menuntut agar aku berfokus padanya, mencintainya, tidak lagi memikirkan mantanku yang sebelumnya (memangnya kapan aku memikirkan mantan? -seolah dia tahu segalanya tentangku, padahal dia sama sekali tidak tahu apa-apa). Kalau dia tahu, dia tidak akan curhat hal-hal yang bagiku tidak penting itu. Kalau dia tahu, dia tidak akan mengeluhkan masalah-masalah sepele di tokonya padaku. Kalau dia tahu, dia tidak akan meminta pertimbanganku untuk menerima pekerjaan penting itu atau tidak. Kalau dia tahu, dia seharusnya rela melepasku. Dia seharusnya tahu aku sudah meneriakkan alarm darurat untuk segera dinikahi.

Dia seharusnya menyadari bahwa aku tidak bahagia.

Setelah masalah pekerjaan sekretaris desa itu usai meskipun masih sering dibahas olehnya sehingga membuatku muak, dia sertakan pula masalah keuangan dalam pembahasan. Dia sudah berusaha mencari pinjaman tapi belum berhasil. Oke aku bisa bersabar. Karena hal ini sudah dibahas berkali-kali aku sudah hapal. Entah kenapa semua itu harus dibahas berkali-kali. Aku nggak bodoh. Diberitahu sekali saja rasanya sudah cukup bagiku, aku paham, fix, selesai masalah. Sudahlah nggak udah dibahas lagi, cukup.
Tapi apa?
Aku merasa diriku dianggap terlalu bodoh untuk bisa memahami kondisi keluarganya. Kadang aku berpikir, sebenarnya jawaban apa sih yang dia harapkan? Karena sepertinya aku tidak pernah menjawab dengan benar. Apa seharusnya pada saat itu aku mestinya mengatakan, "Bagaimana pun kondisi keluargamu, aku bisa paham, aku menerima kamu apa adanya, aku mencintai kamu, aku rela melakukan apapun demi kamu" begitu? Lalu dia akan kembali lagi membahas masalah dari awal? Ya Tuhan, ampuni aku. Aku tidak akan mengatakan hal segamblang itu. Apa tidak cukup jelas dari "penerimaan-penerimaan" yang sudah kulakukan selama ini? Menikah di griya, oke. Tidak ada pesta, oke. Upacara sederhana, oke. Keluargaku tidak punya, oke. Kami tidak punya tanah, oke. Sawah yang kami garap adalah sewaan bukan milik kami, oke. Semuanya, oke. Apalagi? Itu tidak cukup? Memangnya apa yang pernah aku tuntut?

Untuk kesekian kalinya, aku merasa diperlakukan seperti orang idiot olehnya.

Pernah suatu kali aku mengatakan aku tidak bahagia. Dia bertanya, "Apa sih yang menyebabkan kamu tidak bahagia?" Lalu, hal yang menurutku riskan itu berujung pada, "Kenapa sih masih mengingat-ingat tentang mantan?"

"Hah?"

Oke, aku menyerah. Aku tidak paham. Cukup. Tidak usah dibahas. Lalu dia mulai mengoceh lagi. Demi Tuhan, aku ingin hubungan yang damai. Yang tanpa prasangka, tanpa curiga, yang tanpa pertengkaran, yang bisa sejalan, yang seiya sekata, tapi mungkin memang bukan jalannya aku menemukan hubungan semacam itu. Aku merasa buntu.
Suatu hari, di tengah kebuntuan itu, aku mulai mendapatkan pikiran-pikiran aneh. Tidakkah hubungan ini menjadi penghambat bagiku untuk bertemu jodohku? Atau lupakanlah mengenai jodohku (karena kupikir aku tidak akan pernah jatuh cinta dalam hidupku), bagaimana dengan dia? Mungkin saja di luar sana jodohnya telah menunggunya. Tidakkah keberadaanku menghambat jalan jodohnya? Abaikan tentang jodohku yang entah berada dimana, dengan siapa, dan apa yang sedang dia lakukan. Bagaimana dengan dia? Aku tidak bahagia dengannya. Bukan berarti dia tidak boleh bahagia. Aku ingin dia bahagia. Aku ingin dia mendapatkan apa yang dia inginkan, yang tidak mungkin dia dapat dariku. Aku ingin dia menikmati hidupnya. Aku ingin dia bahagia dengan orang yang bisa mencintainya dengan tulus. Aku ingin dia merasakan kebahagiaan dalam sisa hidupnya. Aku tidak ingin dia membuang-buang waktu denganku, menjalani hal yang jauh dari nuraninya. Aku ingin dia melakukan hal-hal yang dia suka.
Abaikan tentangku, tentang mimpiku untuk menikah sebelum usia 29, tentang mimpiku untuk memiliki anak di usia 30, tentang mimpiku memiliki keluarga kecil yang bahagia, tentang hidup yang penuh dengan senyum dan tawa tanpa beban, tentang hal-hal yang ingin kulakukan setelah menikah. Lupakan semua itu. Saat itu aku benar-benar merasa tidak membutuhkannya lagi. Aku ingin sendirian. Aku ingin melepas semuanya. Semua rasa jenuh, beban, bosan, muak, tersakiti, kegelisahan, kebuntuan. "Ikhlaskan semuanya", bisikku dalam hati sambil menangis. Mungkin belum saatnya. Kucoba menguatkan diri.
Abaikan semua gunjingan orang, abaikan usia yang semakin tua, abaikan harapan orang tua, abaikan harapan adikku yang sudah siap menikah, abaikan semuanya. Ikhlaskan. "Kamu berhak meraih kebahagiaan". Setelah sekian lama, aku mengucapkan kalimat itu lagi. Kalimat yang sebenarnya sangat egois. Sambil berlinangan air mata, aku menguatkan diri. Kutahan rasa sakit, rasa kecewa, rasa penyesalan, semuanya. Aku bukan siapa-siapa yang berhak membuat orang lain menjadi tidak bahagia. Aku bukan siapa-siapa yang berhak membuat orang lain mengorbankan banyak hal untukku. Aku bukan siapa-siapa yang membuat orang mencintaiku dengan membabi buta. Aku tidak pantas. Semua hal itu terlalu berharga bila untuk orang sepertiku. Aku tidak seberharga itu untuk diberi banyak pengorbanan.
Mimpiku adalah meraih kebahagiaan.
Aku tidak bisa mewujudkannya bila terus bersama dia. Dan aku mulai tidak yakin bahwa dia akan bahagia bersamaku.
Paling tidak aku paham bagaimana rasanya ketidakbahagiaan dalam sebuah hubungan. Ada contoh nyata dalam hidupku. Dan mereka masih hidup. Lihat bagaimana mereka hidup. Mereka hidup dalam satu atap tapi sama-sama tidak bahagia. Orang tuaku.
Aku hanya merasa bila hubunganku dengannya dilanjutkan, bahkan bila aku harus memaksakan diri menikah dengannya, aku yakin keadaanku dan dia akan sama seperti keadaan kedua orang tuaku. Tidak ada keseimbangan. Tidak saling mendukung. Saling mencurigai. Tidak bisa saling memahami. Tidak pernah seiya sekata. Seperti ada tembok transparan tebal yang memisahkan mereka.
Aku tidak menginginkan hal seperti itu terjadi.
Pada saat itulah, keputusanku bulat untuk berpisah dari dia. Dia berhak meraih kebahagiaan. Aku juga berhak meraih kebahagiaanku sendiri.
Itulah yang menjadi tolok ukur keputusan itu.
Itulah bagaimana aku dengan begitu cepat dan tepat mengakhiri sebuah hubungan, dengan melalui pemikiran panjang, melihat dari berbagai sudut pandang. Lihat sisi positifnya.
Pada saat itu aku juga telah memikirkan bahwa selama beberapa waktu aku harus tahan dengan rengekan, curhatan di sosial media yang membicarakan tentang keburukanku, keluhan, tangisan, banyak hal buruk yang akan menimpaku, tapi, semua itu akan berakhir suatu saat nanti. Karena aku memiliki keyakinan bahwa setiap orang menghadapi kegagalan untuk suatu saat siap menghadapi kesuksesan.

Suatu saat nanti, entah kapan. Aku berharap dia bahagia bersama orang lain yang mencintainya dengan setulus hati.

Aku telah memaafkan semua pengorbanan sia-sia yang telah aku dan kamu lakukan selama ini. Aku telah memaafkanmu untuk waktu yang telah terbuang, bukan tanpa arti, karena ini memberikan pelajaran bagiku, entah bagimu.
Aku memaafkanmu atas sakit, kecewa, lelah, semua perasaan negatif yang telah kamu ciptakan untukku, meskipun itu tidak kamu sadari. Semoga maafku akan membukakan jalan jodohmu.
Terima kasih karena kamu pernah hadir dalam hidupku. Terima kasih kamu pernah memberikan harapan-harapan besar dalam hidupku. Terima kasih kamu telah berkorban begitu banyak untukku. Terima kasih atas pengalaman yang berharga ini. Ini menjadi pelajaran bagiku.
Maafkanlah aku telah mengecewakanmu. Maafkanlah aku agar pintu jodoh terbuka untukku.

🙏

Selasa, 15 Agustus 2017

Anata no Sobani Itai

Melalui blog-mu aku tahu kamu sedang sakit. Memang sejak beberapa hari belakangan ini aku merasa ada yang aneh.
Beberapa waktu lamanya, kamu yang biasanya menulis blog lebih dari dua kali sehari sudah seperti kebutuhan makan bisa-bisanya tidak update. Saat itu aku merasa janggal.
Atas dasar ketidaktahuan, temanku pun tidak memberi kabar tentangmu, akhirnya kamu mengupdate blog dan mengatakan diri sedang demam tinggi.
Aku tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku ingin sekali berada disana, disisimu saat kamu sedang sakit.
Kamu membutuhkan seseorang, meskipun itu bukan aku, aku ingin ada orang yang menjagamu.
Apa yang harus kulakukan?
Hontou ni, anata no sobani itai.
Suki na hito, odaijinishite kudasai.

Minggu, 13 Agustus 2017

Hey Kamu, Orang Yang Terikat Benang Merah Denganku

Apakah itu kamu?
Yang muncul di mimpiku, memegang tanganku.
Apakah itu kamu?
Orang yang terikat benang merah takdir denganku.
Apakah itu kamu?
Orang yang sepanjang hidupku kutunggu.
Apakah itu kamu?
Belahan jiwaku yang telah lama terpisah.

Apakah pada akhirnya kita akan bersama?

Sebenarnya aku diliputi keraguan, apakah benar mimpi berjalan denganmu lalu kamu memegang tanganku berarti kamu adalah jodohku, atau aku akan segera bertemu jodohku. Apakah jodohku mengambil wujudmu dalam mimpiku? Atau dia benar adalah kamu. Aku tidak yakin 100%. Aku tidak pernah yakin sepenuhnya. Tapi, jauh di dalam hatiku yang terdalam, aku percaya akan satu hal. Bahwa kita dipertemukan oleh takdir. Entah takdir itu sebagai pasangan yang terikat benang merah, atau hanya ikatan hutang masa lalu. Tapi, aku mempunyai firasat yang kuat saat membaca tulisan dalam blogmu. Bagaimana perjalanan hidupmu membawamu sampai di tempat ini, bertemu dengan orang yang kukenal, hingga akhirnya kita bisa berkenalan dan bertatap muka. Bukankah ini hal yang luar biasa? Aku jatuh cinta padamu bahkan sebelum kita bertemu. Ada perasaan aneh yang kurasakan. Tapi, aku tidak paham apa itu.

Aku dan kamu, seperti apapun kita nanti, aku sedang berusaha mengikhlaskannya. Bila seandainya bukan kamu orangnya, aku hanya bisa mensyukuri semuanya, setidaknya aku bisa memahami apa yang disebut jatuh cinta. Meskipun begitu, aku juga tidak tahu berapa persen perasaan jatuh cinta yang kurasakan. Aku belum pernah mendapat ujian itu. Setidaknya selama ini, sejak aku mengenalmu, ada banyak hal yang berubah dalam diriku. Aku mulai mengurangi berpikiran negatif, berusaha menjadi positif, menjadi lebih banyak tersenyum, menjadi lebih ingin menjalin silaturahim dengan sahabat, kerabat, menjadi banyak bersyukur, dan sangat sedikit mengeluh. Aku menjadi pribadi yang lebih baik, kurasa. Kecuali bila kita membicarakan mengenai tindakan sehari-hari. Aku masih pribadi yang malas. Lol.

Aku meyakini bahwa pertemuan kita adalah takdir.

Bila saja kita bertemu di waktu-waktu sebelumnya, aku yakin perasaan yang kumiliki saat ini tidak akan pernah terjadi. Kamu tahu, Tuhan tahu benar bagaimana mengatur segalanya. Dia tahu benar pribadi macam apa aku ini. Aku yang harus banyak belajar dari pengalaman, harus melalui berbagai macam hal untuk dapat lebih memahami tentang satu hal. Aku memahami sesuatu dengan sangat lambat. Bahkan untuk memahami bahwa yang kubutuhkan adalah perasaan jatuh cinta dengan pasangan saja butuh waktu bertahun-tahun dan menjalani dengan berbagai macam orang. Hanya pada saat aku pacaran untuk pertama kali di usia menjelang akhir 20 tahun aku pernah merasa hidupku sempurna. Hanya saja saat itu aku belum dewasa. Diriku yang labil belum saatnya bertemu denganmu.

Masa-masa awal hingga pertengahan umur 20an adalah masa yang penuh dengan ketidakpastian. Yang kulakukan adalah penerimaan. Seperti yang banyak orang katakan padaku, lebih baik dicintai daripada mencintai. Jadi, aku mengabaikan rasa jatuh cinta. Tanpa jatuh cinta, aku berusaha mencintai seseorang yang notabene mencintaiku. Sampai pada titik dimana aku merasa sedang membuang-buang waktu. Aku telah membuang waktu berharga baik itu waktuku maupun waktu orang lain.

Terhadap mantan pacar yang terakhir, yang katanya sudah siap untuk meminang namun selalu mengeluhkan biaya pernikahan, yang membuatku selalu berpikir bahwa bagiku dia telah banyak berkorban, dan telah banyak menderita, tetapi justru itu menjadi senjata yang membuatku berpikir bahwa hubungan itu tidak sehat. Harapannya supaya aku bahagia tapi justru segala macam usaha yang dibarengi keluhan itu membuatku merasa sebaliknya. Aku tidak bahagia diperlakukan seperti itu. Hatiku menangis menahan perasaan tidak bahagia itu. Seperti ada beban berton-ton di dalam dadaku, aku sulit bernapas, kemana pun kakiku melangkah seperti menemui jalan buntu. Tidak tahu kepada siapa aku mengadu. Tidak bisa membagi beban itu dengan siapapun.
Sampai pada akhirnya setelah melalui proses berpikir yang panjang, keputusan untuk mengakhiri hubungan itu membulat sempurna. Yang kupikirkan saat itu hanyalah, "lebih baik sekarang sebelum semua menjadi sangat  terlambat". Saat itu aku tidak peduli, umur yang sudah semakin tua, pandangan orang tentangku, pandangan orang tuaku, pikiran orang lain, aku tidak ingin memusingkannya. "Aku punya hak untuk merasa bahagia. Lebih baik hidup sendiri daripada hidup berpasangan tapi tidak bahagia". Orang tuaku adalah sampel yang sempurna untuk situasi itu. Mereka bersama tapi sama-sama tidak bahagia.
Apakah hal itu yang kemudian membuatku terobsesi dengan perasaan bahagia?
Entahlah.

Yang kutahu, di saat hati ini melepas beban, merasa lega, datang temanku yang sudah begitu lama tidak kutemui, tak ada angin tak ada hujan, hanya kebetulan dia sedang libur, dia datang ke rumah membawa kabar tentang seseorang.

Setelah kupikir-pikir, ini seperti telah ditakdirkan. Tapi sekali lagi, entah takdir apa itu. Hal itu masih menjadi rahasia Tuhan.

Hey, kamu, orang yang terikat benang merah denganku, apakah itu kamu yang muncul dalam mimpiku memegang tanganku?
Jika itu kamu, balas messengerku! Lol.
Hahaha 😂

The Red Thread of Destiny

Adakah yang percaya pada "takdir benang merah"?

Kalau kamu percaya, berarti kita sama. Haha

Walaupun sulit dipercaya, tetapi dalam hati aku sangat yakin bahwa setiap manusia di dunia ini lahir dengan terikat pada benang merah dengan belahan jiwanya.

Ikatan itu tidak terlihat.
Tetapi, ikatan itu ada.

Aku selalu memikirkan mengenai hal ini sejak lama. Beberapa kali aku sempat menyerah untuk mempercayainya. Beberapa kali pula aku sempat mengabaikannya. "Untuk apa mempercayai hal yang belum tentu akan kita temui dalam hidup ini?" Itulah yang sering terlintas.
Meskipun, di dalam lubuk hati yang terdalam, aku masih mempercayainya, masih menunggunya, mempercayai bahwa "orang itu" pasti ada. Entah dimana dia saat itu, entah dia sedang bersama siapa, entah apa yang sedang dia lakukan. Aku percaya bahwa suatu saat, di suatu masa, di hari yang tepat dan saat yang tepat, aku pasti akan bertemu dengannya.

Mungkin dia sering muncul dalam mimpi mengambil wujud orang lain.

Sempat terlintas dalam pikiran, ketika memimpikan seseorang yang tak jelas wajahnya, "apakah itu kamu?" Pertanyaan itu muncul tiba-tiba. Ketika memimpikannya, ada perasaan lega di dalam hati. "Seseorang sedang berusaha menemukanku" atau "Seseorang yang ditakdirkan untukku, mungkin juga di saat yang sama sedang memikirkanku." Itu yang kupikirkan.

Apakah aku juga muncul dalam mimpinya?

Bisakah sinyal-sinyal itu tidak diberikan dalam waktu yang bersamaan? Sehingga, aku mungkin merasa tertarik duluan sementara dia mungkin masih berkutat dengan hal lain. Apakah aku terlalu memikirkannya sampai-sampai aku berpikir dialah orangnya? Atau apakah aku menerima sinyal yang salah?
Ketika mungkin dia muncul dalam mimpiku, aku penuh harapan, sementara dia yang tak terpikir sedikitpun tentangku belum memperoleh sinyal apa-apa? Bisakah sinyal itu datang bersamaan? Semacam kepercayaan yang sama? Mungkin?

Tuhan, aku sudah kebal dengan ujianMu. Sekarang aku telah menjadi sedikit lebih dewasa, apakah sekarang masih belum saatnya?

Selama hidup ini, selama 29 tahun lebih, aku mengalami berbagai macam hal yang kuyakin itu sebagai ujian dari Tuhan. Aku lahir di keluarga seperti apa, bagaimana aku dibesarkan, dengan siapa aku berinteraksi, dengan siapa saja aku menjalin hubungan, seperti apa hubungan yang kujalani, bahkan bagaimana reaksiku terhadap dunia, semua itu adalah hal-hal yang telah digariskan padaku. Aku memahami bahwa semua itu adalah untuk menjadikanku manusia yang lebih baik. Semua itu berasal dari Tuhan. Hal-hal yang terjadi di dunia ini, baik ataupun buruk, semua adalah ujian dari Tuhan. Maka tak heran, ketika aku mengalami masalah yang sama berulang-ulang, "ah, aku belum lulus dari ujian ini" itu yang terlintas dalam benak.

Ketika aku masih merasa gelisah tentang belahan jiwa, hatiku tak henti-hentinya memberikan pemberontakan. Hatiku dan otakku terlalu sering berseteru.

Hal itu beberapa kali terjadi.
Ketika menjalin sebuah hubungan yang sepertinya tidak akan berakhir bahagia, hatiku menangis. Entah kenapa, aku sadar betul tangisanku bukan karena aku merasa tersakiti. Aku hanya meratapi diri, merasa putus asa, merasa menemui jalan buntu. Begitu menyadari bahwa "ini tidak sehat", dengan usaha keras aku akan bangkit. Aku akan berdiri, memberanikan diri, ini harus diakhiri. Karena itulah, tak butuh waktu lama bagiku untuk move on. 

Pada kenyataannya, semua hal yang kualami di masa lalu memberiku banyak pelajaran. Lalu timbul sebuah kepercayaan di dalam diriku, "semua ini harus kualami, harus kujalani, harus kulalui demi masa depan".

Ketika bertemu dengan seseorang, baik itu yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, baik ataupun buruk, aku mulai berpikir, "entah aku atau orang ini yang mempunyai hutang denganku di kehidupan sebelumnya, sehingga di kehidupan ini kami dipertemukan kembali". Aku mempercayai bahwa setiap orang di dunia ini memiliki ikatan yang tak kasat mata. Karena begitu banyak manusia di dunia, benang merah tanda ikatan itu mungkin saja bergesekan, berikatan, kusut, menjadi memusingkan, yang bukan ujung bertemu ujung mungkin disalahartikan, begitu banyak hingga butuh waktu lama untuk mencari solusinya. Aku kini berpikir, mungkin banyak juga orang yang tak bisa meluruskan benang merahnya dengan takdir hidupnya sehingga menerima begitu saja benang merah yang kusut. Mungkin itu penyebab banyak orang di dunia yang menjadi tidak bahagia.

Bilamana benang merahku tak kusut?

Kapan saatnya aku mengetahui bila benang merah yang terikat padaku sudah tak kusut lagi dan sudah menemukan ujung yang tepat? Kapan sebenarnya saat itu akan tiba? Bagaimana aku akan mengetahuinya?
Sampai saat ini, hal itu menjadi misteri.
Meskipun begitu, aku masih takut meminta pada Tuhan untuk bertemu dengan orang itu. Bagaimana bila ternyata orang yang ditakdirkan untukku bukanlah orang yang kucintai? Bagaimana bila orang yang kucintai saat ini sesungguhnya tidak ditakdirkan untukku?

Aku takut.

Jadi, sebenarnya aku belum lulus dari ujian ini.

Apakah begitu kusutnya benang merah takdirku sampai-sampai aku harus mendapat ujian terus menerus? Meskipun aku mengeluh lelah, aku masih tak mau menyerah. Aku percaya bila aku kuat Tuhan akan melakukan sesuatu untukku.

🌸

Sabtu, 12 Agustus 2017

Again! A Strange Dream Came to Me

A sign-like dream came to me.
It was strange.
My night full with dream these pass few days.
The other day,
I dreamt about the person I like honding my hand.
The after that,
I dreamt about my friend dan her family visit my house (hideout).
And just a while ago, a dream about my own self.
In my dream,
I lock the house door of my family house (my brother's house),
First, I lock the front door,
then maybe side door,
And then, I lock the back door.
All I could think in my dream, I lock the door so that there'll be way my father can enter the house because we leaving the house.
Just like how my mother did (in real life).
What is that suppose to mean?

Then, in my dream,
I was carrying a big basket with green things on my head.
While carrying thing, I walk on a small soil path
I was watched by someone from the back, but I feel like the watcher is me. Because I could see myself walking that path.
The path I was walking on is a small soil path with a lot of plant.
On the right side, there's a hill,
And on the left side there's a cliff.
Some of the things I was carrying fell to the ground.
I was angry to my mother who walked with me on the right, I told her help me take the things that fell back to the basket on my head.
I was angry because the things on my head was too many and heavy.
I couldn't take that fell things by my own self.
After my mother put the fell things to its place, I saw a path in front of me.
It was a bridge with a single and small wood and pipe(?).
That bridge connect a soil I stand and an island-like in front of me.
In my heart, with afraidness and anxiety,
"I have to walk that brigde" I said.
Then, without anymore long-thinking, I walked on that brigde.
While walking, I could hear the sound of waves, and I could see cloude.
Because it was really high.
Under me was a deep cliff,
But, I passed that bridge without problem.
It was a neverland-like island, or sangri-la-like (?).
Because the land is so high.

In that island, without anything on my head,
I walked on a road.
As I walk, the road I was walking on gradually higher to the top.
When I was at the top, I was standing while gaze to the sky.
Blue sky with a lot of cloude.
Then my eyes notice a moon-like thing hanging on the sky.
Was it a meteor?
It was round and rough.
I was about to take my phone, thinking that I'll take a photo of that thing while thinking of Masa.
I was thinking to show that thing to him.
That thing the slowly fell.
"Eh? It's falling!" I shout with panic.
I was thinking, what will happen if that moon-like thing fell to the ground?
But, that thing was falling slowly as it pass a club of cloude, gradually it looks bigger, and stop falling as it near the ground.
Then, that's the end of my dream.

I think, I understand what the meaning of that dream. I think, I am now, will somehow face my destiny. I'll walk a path that is fragile, dangerous, small, I'm afraid, scared, but I can evantually pass it to that island.
But, is it true? Is it really like that?
It is a sign from God.
I don't mind walking on that path, as long as I can pass every cliff, every waves, the hardness, afraidness, everthing.
To be with you (?).
The person I like.

I don't know why, but deep inside my heart I feel like you are the person who is destinied by redstring with me.
The person I was waiting my whole life.
But, I don't make any progress.
We don't make any progress.
So, what should I do?
Am I exaggerating thing?
Don't you have the same feeling?
Is it only on my mind?
Just my fantasy?
I'm afraid of having high hopes.
What should I do?

Kamis, 10 Agustus 2017

The First Time We Met

ねえ、覚えますか。
The first time we met, it was on Friday.
It was one fine evening, when the sun shine bright and warm.
The first time I saw you, you made that face.
Kind of surprise and somehow smile.
It was kind of awkward.
At that time, even now, I really have no confident.
I smile a lot.
I want to talk to you but have no courage.
Even at the first time we talk, I couldn't let my voice out.
I felt down quickly.
But, I don't want to give up easily.
My heart beating somehow unnatural.
It was strange.
Even now, I feel it is strange.
🌸

Selasa, 08 Agustus 2017

The Influence of Lunar Eclipse

Last night, it was hard to sleep.

At the news website, it said that "it will be a Parsial Lunar Eclipse Tonight around 11 until 2."

I really want to see the lunar eclipse but I have to wake up early every morning, so I always sleep early. But, last night I couldn't sleep until midnight. I don't know when I fell asleep, all I could remember was the 4 am alarm rang a few times until I shut it down, and the 5 am then rang but I countinued on sleeping. I felt tired because of the late sleep the night before.

At that time, I think I had a dream.
At the dream, I was in Kuta Beach. There is Masa beside me. We are about to take a walk from warung to some kind of place. While walking side to side with Masa, I could hear a laugh from behind, a teasing laugh from Gustu. It's like a was seen through by him.

While walking I and Masa talk about a place where we are about to walk to. Even in a dream, we talk in english. LOL. I never once imagine that kind of dream could come to me.
He said about a place "sky dive ---something" I couldn't remember the name. He point to far place with beach view, just like what it looks like in Kuta if you see to the south from the parking lot in from of Pura Dalem.

A light rain start to fall as we see the place we walk to, actually it's not that far place. It was a monument-like building made of black stone. We walk around that place, and as we walk I was try to make skin contact to Masa. I hold his arm.

As we see the name of the building, -I could see the "sky dive-something" letters- written in white paint, we pass a palm tree-like with grasses under it. Like a park.

After that, we countinue our walk under a black stone  dome-like to protect ourselves from the rain. At that time, he looks kind of cold. I asked him, "You couldn't stand coldness?"

"Hhn" he answer while looking at the rain. The rain got heavier.

"Me too" I said.

Then, as we walk, as our hand stick each other, my right hand and his left hand. Suddenly, he hold my right hand with his left hand fingers. I look at him. I could feel his anxiety, a bit hesitate, but he is trying his best. I smile and then cover his hand that hold my hand with my left hand. In my heart I truly understand what his anxiety is all about.

I could remember I wear a short black cotton dress with flower motif, an outfit I wear the other day to a friend house. But, I couldn't remember what his outfit in my dream.

That's the end of the dream, in such short time.
As I wake up, I look at my phone and it show 5.27. Around 30 minutes. Such sad but happy dream, I had it in only 30 minutes.

Because it was a lunar eclipse, I think, that kind of dream was a gift from God.