Google+ Followers

Kamis, 05 Oktober 2017

Suddenly Feels Really Sad Then Cry

Dalam perjalanan pulang dari tempat kerja tadi, tiba-tiba ada perasaan sedih merasuk ke dalam dada.
Tanpa dikomando air mata mulai mengalir.
Ini bukan pertama kalinya terjadi seperti ini.
Otakku terlalu banyak memikirkan hal yang sejatinya tidak perlu.
Bukan hal yang penting tapi tak bisa berhenti memikirkannya.
Di satu titik yang entah kenapa muncul dalam pikiran, "hari ini aku diminta sembhyang di merajan almarhum kakek (ayah dari ibu) karena ada sesuatu yang hanya harus aku" terlintas seperti itu dalam benakku.
Aku mulai bertanya-tanya, ada apa? Kenapa hanya aku? Apa kakek memiliki karma tertentu terhadapku? Atau aku yang telah memiliki karma tertentu pada kakek, mungkin dari masa sewaktu aku masih bayi.
Aku mulai berpikir bahwa mungkin ini akan ada hubungannya dengan kelanjutan perjalanan takdirku. Terutama jodoh. Saat itulah perasaan sedih menyelimutiku, air mataku mulai mengalir.
Aku hanya menduga-duga, mungkin ada sesuatu yang diberikan kakek padaku saat aku masih bayi lalu sampai pada akhir hayatnya beliau tidak ingat untuk mengambilnya kembali.
Ini hanya spekulasi.
Kebenarannya akan kuketahui nanti, jika paman (kakak dari ibu) tidak keberatan memberitahuku.

Hari ini, aku berpikir tentang takdir dan jodoh. Kedua-duanya adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Bagiku, takdir dan jodoh memiliki kaitan dengan karma.
Sejak dulu aku bertanya, kenapa meskipun saling mencintai dua orang tidak bisa hidup bahagia bersama, atau mengapa meskipun tidak saling mencintai tapi dua orang bisa hidup bahagia. Dan mengapa meskipun dikatakan berjodoh dua orang tidak bisa saling mencintai atau pun menemui happy ending.
Entah sejak kapan aku mulai memahami alasan-alasannya. Takdir dan jodoh adalah hasil dari karma. Takdir bisa diciptakan karena adanya karma. Begitu pun jodoh. Jodoh itu tidak harus bahagia, karena jodoh adalah untuk memenuhi karma.
Aku akan fokus pada jodoh karena saat ini aku galau karenanya. Dalam pemahamanku, jodoh bukan berarti harus bersama, bukan juga berarti harus saling mencintai. Bahkan dengan orang yang tidak sengaja kita temui di jalan pun kemungkinan memiliki jodoh dengan kita. Bisa jadi suatu saat di waktu yang tepat di masa yang telah digariskan kita akan bertemu lagi dengan orang yang sama lalu membuat ikatan. Di saat itulah ada jodoh dan takdir mulai membuat jalannya.
Atau mungkin sebaliknya, karena seperti itulah takdirnya. Apakah kemudian ikatan itu bertahan lam atau tidak itu tergantung dari karma kita, bahkan seberapa kuat ikatan itu tergantung dari karma kita. Bisa saja suatu saat di waktu yang tepat, ikatan itu tiba-tiba putus. Tidak ada yang tahu.
Kadang kupikir semua ini hanya khayalanku belaka. Aku terlalu banyak berpikir, aku terlalu banyak mempercayai hal-hal di luar nalar.
Mungkin ini hanya fantasiku semata.
Hanya karena aku memiliki perasaan yang kuat bahwa aku tengah menunggu seseorang, bahwa orang itu suatu saat akan kutemui. Dan, aku juga merasakan sesuatu yang kuat bahwa dalam hidupku ini aku mungkin tidak bisa mencapai happy ending dalam hubungan cinta.
Mungkin karena itulah aku selalu merasa sedih di waktu-waktu tertentu. Meskipun kadang-kadang aku bertanya, apa arti dari rasa sedih itu?

Senin, 25 September 2017

Gunung Agung Berstatus "Awas"

Sejak Jumat malam status Gunung Agung telah mencapai level IV (awas) yang berarti bahwa kapan saja memungkinkan untuk terjadinya letusan.
Menurut kabar dari teman-teman dari sosial media di daerah Karangasem dan sekitarnya telah terjadi gempa vulkanik maupun tektonik berkali-kali dalam skala ringan hingga sedang.
Aku masih berharap letusan itu tidak terjadi. Tidak ada yang mengharapkan hal tersebut.
Sebagai warga Bali yang tinggal di bagian paling barat Bali, aku dan rekan-rekan disini tidak bisa memberikan bantuan moral, hanya bisa berupa materi.
Pagi ini, sebagai pesan awal kepada siswa-siswa kelas IV di kelasku, aku memberikan sedikit pengarahan tentang bahayanya Gunung Agung apabila sampai meletus. Kuceritakan sedikit tentang peristiwa meletusnya Gunung Agung di bulan Maret tahun 1963 yang berlangsung selama satu tahun hingga Januari 1964.
Yang kuceritakan adalah bagaimana yang guruku ceritakan sewaktu aku masih di sekolah dasar. Aku juga menyamakan dengan cerita nenek yang mengalami peristiwa itu, membaca sejarah singkat Gunung Agung dan menonton video bagaimana letusan itu terjadi dan dampaknya.
Siswa-siswaku punya karakter senang mendengarkan hal-hal yang bagi mereka menarik, jadi, selama beberapa waktu mereka terdiam dan setelah selesai menyampaikan ceritaku, beberapa dari mereka mulai berkomentar.
"Wah, ngeri, Bu, ya", "Takut, Bu", "mudah-mudahan tidak meletus"
Setelah itu, aku mengimbau siswa-siswaku untuk menyiapkan masker dan cara penggunaannya apabila letusan itu sampai terjadi. Dampaknya akan sangat luar biasa. Abu vulkanik di udara, kemungkinan hujan asam, dan terjadi penggelapan di langit. Mungkin tidak hanya di Bali tapi juga sampai ke luar pulau.

Disini aku masih memiliki tugas negara yang tak bisa kutinggalkan. Sebenarnya ingin sekali terjun langsung ke daerah bencana untuk membantu. Tapi, dengan materi pun aku rasa cukup. Hanya bisa berharap keadaan ini segera membaik.

Sejak Jumat lalu, memang kondisi langit tidak seperti hari-hari biasanya. Tiba-tiba terjadi hujan ringan, bahkan di minggu malam terjadi hujan cukup lebat di Bali barat dan kemungkinan di beberapa titik di seluruh Bali. Matahari sepertinya enggan menampakkan wujudnya. Aku sedikit takut memikirkan ini sebagai pertanda. Pertanda bahwa letusan itu akan terjadi (?) Entahlah. Berkali-kali memohon kepada Tuhan agar hal itu tidak sampai terjadi. Seandainya manusia dan alam bisa berkompromi.

Tapi, lihat sisi baik dari adanya bencana ini. Manusia-manusia saling membantu tanpa pandang bulu. Meskipun tentu saja sisi buruknya tak kalah menarik. Binatang-binatang peliharaan ditinggalkan. Hewan-hewan ternak dijual murah. Ada yang terpisah dari keluarga. Dan ada saja yang memanfaatkan situasi untuk mencuri di rumah-rumah yang ditinggalkan pengungsi.
Yah, semua ini ada hikmahnya.

Kami semua berdoa supaya tidak terjadi letusan Gunung Agung. 🙏

Sabtu, 23 September 2017

Pikiran Tradisional atau Modern (?)

Beberapa waktu belakangan ini aku tidak bersemangat untuk membuat postingan.
Entahlah, setiap kali mau menulis sesuatu aku seperti kehabisan ide, bahkan saat aku menulis postingan ini.
Beberapa waktu lalu aku akhirnya mengungkapkan rahasiaku pada rekan-rekan sekantor, bahwa aku kini berstatus jomblo. Seperti dugaanku, rekan-rekan kerjaku heboh. Mereka panik seolah aku baru saja melakukan kesalahan besar dalam hidupku. Seperti dugaanku pula, mereka mulai berpikir untuk mencarikanku kenalan, menjari cowok jomblo lainnya, mencarikan siapa saja yang available.
Aku hanya bisa berkata, "Gak usah, gak perlu sampe gitu", berkali-kali. Sebenarnya aku malu bila ada yang hendak memperkenalkanku dengan seseorang. Seperti beberapa minggu yang lalu aku terpaksa harus menemui seorang cowok hanya karena yang mengenalkannya adalah teman ibuku yang sudah seperti ibu bagiku.
Ada rasa tidak enak untuk menolak meski pada akhirnya cowok itu tidak tertarik padaku. Aku sangat bersyukur.
Lalu pada kasus pengungkapan status jombloku pada rekan kerja yang sepertinya mulai kusesali tapi juga entah kenapa aku cukup lega mengakuinya karena aku tidak akan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seputar mantan dari teman-temanku.
Jika ini diriku 10 tahun yang lalu, aku tidak akan memilih untuk menjomblo. Aku mungkin akan bereaksi dengan cara yang berbeda. Mungkin aku tidak akan menulis postingan. Tapi, ini adalah diriku yang sekarang. Orang-orang mungkin berpikir aku terlalu naif, mungkin juga mereka pikir aku bodoh, atau mungkin ada juga yang berpikiran berbeda. Hanya saja, sebagian besar tidak membenarkan posisi jomblo yang kusandang.
Mulai dari "sudah umur", mungkin maksudnya bukan waktunya lagi untuk berpetualang. Wanita akan sulit melahirkan di usia 30an, keburu kehabisan stok cowok (hello?), atau yang lainnya.
Setiap kali nasihat orang-orang selalu membuatku berpikir satu hal. Mereka sama seperti diriku 5 sampai 10 tahun yang lalu. Berpikiran idealis. Tapi, bahkan idealis itu sendiri berbeda-beda bagi setiap orang, hanya saja intinya sama.

Salah satu contoh pikiran idealis, cewek harus menikah di usia 20 agar tidak kesulitan melahirkan.

Dalam hati aku menjawab, apa kabar ibu-ibu yang melahirkan di usia 40an? bukankah mereka juga masih bisa melahirkan?

Contoh lain, kamu pegawai negeri, punya gaji tetap, pasti mudah mencari suami.

Jawabanku dalam hati, mungkin itu hanya tidak berlaku padaku. (?)

Yang lain lagi, mau kukenalkan pada seseorang yang juga sedang jomblo?

Dalam hati aku bahkan tidak bisa berkata-kata.

Masih lajang di usia menjelang 30 memang membawa dampak psikis yang sangat besar bagiku. Dan ternyata dampaknya juga berlaku bagi orang-orang di sekitarku. Yaahh, karena mereka peduli. Tapi, sayangnya aku sedang tidak membutuhkan kepeduliaan semacam itu.
Bahkan ketika seseorang mengajak berkenalan, tiba-tiba menjadi girang setengah mati setelah mengetahui aku jomblo, mungkin dia berpikir itu lampu hijau, oh please, tolong jangan berdelusi. Kenapa tidak ada yang bertanya padaku, "apa kamu sedang menyukai seseorang?". Bukankah itu pertanyaan yang sangat penting?

Tidak ada yang tahu betapa kerasnya hatiku. Hanya dengan memikirkannya saja aku merasa sudah mau menangis. Bayangkan, kamu sedang jatuh cinta pada seseorang yang tidak kamu ketahui bagaimana perasaannya terhadapmu, takut untuk bertanya, kamu bingung tidak tahu harus bagaimana, kamu takut terluka dan kecewa, tapi kamu bahkan gak bisa berpaling darinya. Sementara di sisi lain ada banyak pilihan yang bisa dengan mudah dipilih seperti memencet tombol-tombol di touchscreen. Tapi, hati yang keras ini seperti telah memahat wajah dan nama hanya untuk satu orang.

Orang-orang seperti melupakan esensi dari sebuah hubungan.

Di hidupku, aku telah melihat berbagai bentuk ketidakharmonisan hubungan. Mulai dari pertengkaran, perselisihan, perceraian, kebisuan (?). Semua itu membuatku tidak paham akan apa yang sebenarnya diinginkan setiap orang dalam hubungannya dan dengan apa sebenarnya mereka membangunnya. Tapi, kemudian itu membuatku berpikir lebih keras. Memiliki kekayaan, memiliki pekerjaan, memiliki cinta dan kasih sayang saja tidak cukup.
Dan ini salah satu pengalaman pribadiku. Di usiaku yang ke 25 tahun, aku mulai menyadari apa yang yang kuinginkan dari seseorang. Di tahun itu menjelang kelulusanku dari universitas, aku mengalami kebuntuan dalam hubungan. Aku tidak tahu apakah orang-orang juga memungkinkan untuk mengalaminya atau tidak, hanya saja pada saat itu, aku berpikir, "ini gak akan berhasil, aku merasa aku tidak bisa merasa bahagia".
Aku memutuskan hubungan itu. Lalu memulai sebuah hubungan dengan orang lain. Berselang satu tahun hubungan itu pun harus berakhir. Dan merasa bahwa bebanku telah hilang.
Kenapa sebuah hubungan bisa menjadi beban bagiku? Aku pun tidak paham, meski aku mencoba untuk memikirkannya tidak ada jawaban. Sampai akhirnya aku menyerah pada apa yang sesungguhnya aku cari. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku balikan dengan mantan. Sedari putus dengannya aku memang sempat berpikir bahwa suatu saat nati mungkin kami akan kembali bersama. Kupikir ini takdir.
Tapi apa? Berhubungan lagi dengan mantan membuatku sadar bahwa selama ini aku telah mengambil langkah yang salah. Tidak. Bukan mengenai balikan dengan mantan. Tapi, tentang konsep kebahagiaan dalam hubungan.
Pikiran yang sama terus muncul. "Aku tidak merasa bahagia". Dan akhirnya, aku memutuskan untuk sendiri. Awalnya kupikir aku harus mempercayai kesempatan kedua itu. Rupanya kesempatan kedua yang diberikan padaku untuk membuatku menyadari banyak hal dalam hidup ini. Tuhan tahu benar bagaimana cara membuatku belajar. Karena aku cukup tumpul dalam hal-hal semacam ini (?).

Orang berpikir usia matang berarti harus terburu-buru, tergesa-gesa, harus segera, jangan ditunda-tunda, dan aku lelah mengatakan bahwa aku santai saja. Tentu saja aku tidak bisa mengatakan "Aku sudah meminta adikku untuk menikah duluan dan mungkin di saat aku sudah memastikan bahwa aku tidak akan menikah dalam hidupku ini, aku akan meminta adikku dan istrinya memproduksi seorang anak yang akan kujadikan sebagai anakku, untuk persiapan masa tuaku nanti, setidaknya hanya agar ada yang mengurusku kelak".
Tidak mungkin kan?
Meskipun itu adalah pikiranku yang sebenarnya.
Meskipun itu adalah niatku yang sebenarnya.

Usia matang berarti bahwa aku membutuhkan seseorang? Ya..setidaknya aku tidak pernah mengatakan aku terlalu sibuk untuk cinta. Entahlah, aku membutuhkan seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta. Seseorang yang mungkin sudah kutemukan tapi sekali lagi harus kukatakan, aku menemukannya tapi dia tidak menemukanku.

Orang-orang berpikiran terlalu tradisional. Atau mungkinkah itu adalah pikiran modern? Sebenarnya aku hidup di jaman apa sampai-sampai aku percaya pada rasa jatuh cinta, takdir dan semacamnya? Sebenarnya siapa yang berpikir tradisional? aku atau orang-orang?

Senin, 04 September 2017

Gebrakan Dalam Bersosial Media

Hari ini, sejak kemarin tepatnya, di sosial media Facebook tak ada hentinya aku menerima pemberitahuan video-ku di share seseorang (ralat: banyak orang) yang sama sekali tidak kukenal.

Itu hanya video sederhana tentang pembuatan ketupat untuk sarana upakara "sesayut" yang memang sengaja kubuat untuk sekadar berbagi. Siapa sangka video tersebut menarik minat banyak orang untuk menonton dan berbagi.

Aku merasa ini sedikit menakutkan. Ini pertama kalinya semenjak aku bergabung di facebook postinganku memperoleh respon sedemikian besar. Dan tiba-tiba aku menerima banyak "Friend Request". Di satu sisi aku senang, tapi di sisi lain aku takut.

Alasan ketakutanku hanya satu, aku takut menjadi orang yang tidak sesuai ekspektasi orang yang meng-add-ku. Aku memang seperti ini dan selalu berubah-ubah. Aku bukan pribadi yang akan selalu memposting hal-hal yang positif dan berguna sepanjang waktu. Makanya aku menjadi takut.

Di lain sisi, aku sangat memilih berteman di sosial media. Jadi, kurang lebih, aku juga bingung harus bagaimana. Tidak mungkin serta merta menerima semua request tersebut. Belum lagi request yang memang sudah lama menumpuk. Ada seratus lebih. Dan mungkin kan terus bertambah. Sama seperti jumlah video shares nantinya.

Tapi, aku mulai berpikir untuk meneruskan kegiatan bermanfaat ini. Mungkin akan ku upload di youtube. Siapa tahu mendapat respon yang sama juga. LOL

Hari ini, disela-sela friend request dari orang tak dikenal dan pemberitahuan video share, aku menerima sebuah pesan messenger. "Huh, siapa orang ini memakai nama seaneh ini", pikirku merasa tidak kenal. Setelah dicermati baik-baik, anehnya aku merasa sedikit "tahu" tentang orang itu setidaknya dari pesan yang dia kirim. "Sepertinya orang ini kenal aku", pikirku selanjutnya. Dan, taraaaa.. kulihat profilnya. Sialan. Out of the blue, mantan pacar di tahun 2010an yang sebenarnya tidak begitu kuanggap tiba-tiba mengirim messenger? Setelah sekian lama?

Tapi entah kenapa aku sedikit merasa curiga. Mungkin itu bukan dia, melainkan pacarnya yang entah kenapa tahu tentangku, yang aku bahkan tidak pernah peduli. Tunggu, ini sama sekali bukan niat buruk, aku tidak pernah peduli bukan karena aku sangat tidak acuh, hanya saja aku tidak mau dipengaruhi oleh hal-hal yang berhubungan dengan mantan. Setidaknya aku tidak pernah merasa ingin tahu. Aku menghindari mereka-mereka itu hanya karena kupikir itu sudah berlalu, lagipula aku tidak memiliki kepentingan apa-apa terhadap mereka.

Apa itu terlalu dingin?

Berapa banyak teman yang telah kuhilangkan dari kehidupanku hanya karena alasan semacam itu?

Berapa banyak kesempatan silaturahmi yang kugagalkan hanya karena alasan semacam itu?

Tapi, aku sangat sadar, aku hanya berpikir untuk hidup hari ini dan hari esok. Hari kemarin biarlah menjadi satu hari yang telah berlalu. Memikirkannya toh tidak bisa membuatku menjadi kaya. Atau pun juga tidak bisa membuatku menjadi kenyang.

Meskipun begitu, di satu sisi aku juga senang. Pribadi dingin dan tak acuhku yang sudah akut itu tidak begitu saja membuatku tak mengindahkan sapaan orang yang kukenal. Jadi, tidak ada salahnya menjawab, dan sekedar berbasa-basi.
Meskipun sekali lagi aku curiga itu sebenarnya bukan dia.

Sebenarnya, kalau memang benar yang mengirimiku pesan adalah sang pacar, ini bukan pertama kalinya bagiku mengalami hal semacam ini. Istilahnya, seseorang merasa terusik oleh keberadaanku. Mungkin sekedar ingin memastikan satu dan lain hal. Beberapa pacar temanku sempat melakukan hal yang sama. Aku hanya berpikir, "mereka masih labil".

Yah, dan cukup sekian untuk hari ini.
By the way, lagi-lagi Masa menghilang. Di "live"  terakhirnya dia tampak tidak sehat. Mudah-udahan saja ini bukan pertanda buruk karena aku juga memikirkan kemungkinan kesibukannya mempersiapkan acara tahunan rutinnya di daratan Mongolia. Semoga ini bukan firasat buruk.

Minggu, 03 September 2017

Perasaan Down yang Mudah Sekali Muncul

Sebagai perempuan, lajang di usia matang, mudah sekali untuk merasa down.

Ya, aku down akhir-akhir ini.

Pertama, karena aku jatuh cinta pada seorang pria yang tidak memiliki ketertarikan padaku.

Kedua, karena pria yang kucintai itu tidak memiliki ketertarikan padaku.

Ketiga, karena dia sama sekali tidak memiliki ketertarikan padaku.

Dan aku pun down.

Sebenarnya, aku ingin sekali setidaknya satu kali dalam hidupku, ketika aku jatuh cinta pada seseorang orang itu juga jatuh cinta padaku. Semacam takdir?
Oh ayolah, apa hanya aku disini yang percaya pada takdir?
Oke, ini tahun 2017, memangnya masih ada hal-hal semacam itu?

Tapi, aku selalu mempercayainya. Itu semacam fantasi bagi setiap wanita, mungkin.
Itu juga fantasi bagiku.
Bertemu dengan seseorang yang ditakdirkan untukmu, orang yang selama ini mencarimu, dan orang yang selama ini kamu tunggu, lalu kamu dan dia saling menemukan. Bila hal seperti itu ada, itu pasti sesuatu yang paling romantis yang pernah ada di dunia ini.

Tapi, semua kisah tidak bisa seideal itu. Hidup di dunia nyata, tidak semua seperti apa yang ada dalam bayangan, dalam fantasi. Kalau tidak nyata ya anggap saja sedang bermimpi. Jadi mungkin selama ini aku lebih banyak hidup dalam dunia mimpi.

Seperti mimpi yang pernah kualami. Kamu yang meraih tanganku dan menggenggamnya, apa maksud semua itu? Apa mimpi itu hanya bunga tidur yang tak ada artinya? Sayang sekali, itu membuatku menjadi terlalu banyak berharap. Aku menjadi bingung.

Bila benar kamu ditakdirkan untukku, aku bingung memikirkan bagaimana masa depan denganmu. Aku mulai memikirkan seperti apa kamu terhadapku nanti. Tapi, di sisi lain juga ada keraguan. Mungkin kamu dan aku bertemu bukan untuk bersama.
Dan lagi-lagi, aku jatuh cinta padamu bukan untuk ditakdirkan menjadi pendamping hidupmu.

Aku sudah mulai menghindarimu.

Kita memang tidak bertemu selama waktu yang cukup lama, bahkan tidak berkomunikasi. Apa yang tidak bisa kukatakan secara langsung, aku telah menuliskannya tapi itu pun tidak sampai kepadamu.

Kemudian aku berpikir, mimpi itu mungkin hanya pesan yang menyampaikan bahwa kamu membutuhkan bantuanku. Ya, karena beberapa hari setelah mimpi itu, kamu jatuh sakit. Aku berusaha keras memberitahukan orang-orang terdekatmu, yang kamu anggap keluarga itu untuk memperhatikanmu. Semua menjadi sulit ketika mereka juga mengalami masalah kesehatan. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Sampai disitu saja peranku. Dan itu tidak memiliki arti apa-apa bagimu.

Haaahhh.. entah kenapa di saat aku jatuh cinta, aku seperti jauh dari cinta yang berbalas. Tapi, ini adalah sesuatu yang luar biasa dalam hidupku. Aku merasa bangga pada diriku sendiri karena berani membuat keputusan.

Di saat aku resah dan gelisah memikirkan diri sendiri yang masih lajang di usia menjelang 30 tahun, aku justru berani membuat keputusan luar biasa dalam hidupku. Melepaskan seseorang pergi dari kehidupanku dan menbiarkannya menjalani hidup yg seperti yang dia harapkan.

Ini hal baiknya.

Aku down karena cintaku tak terbalas, di sisi lain aku bahagia dan bangga pada diri sendiri karena "mantanku" mulai menata hidupnya kembali. Dia mulai melakukan hal-hal yang dia suka, mulai bergaul dengan orang-orang yang menjadikan dirinya keren, dia mulai berkembang, dan lalu oh dia berfoto dengan seorang wanita. Itu membuatku senang. Ini kedua kalinya aku membuktikan bahwa dia hidup dengan lebih layak tanpa adanya aku. Seharusnya aku tak pernah lagi membawa dia ke dalam kehidupanku yang membuatnya penuh kesialan. Aku ibarat badai dan awan gelap mungkin dalam hidupnya, dan semua itu sudah berakhir.

Dan aku, apa yang akan kulakukan dengan hidupku?
Sejak awal aku sudah memikirkannya.
Aku tidak takut untuk membuat keputusan itu, karena sudah kupikirkan dengan matang. Aku sudah memantapkan hatiku.

Karena jatuh cinta akan menjadi hal yang mustahil dalam hidupku, saat itu aku berpikir, "aku akan sulit bahagia bila terus seperti ini, aku tak mungkin jatuh cinta pada siapa pun, itu akan menjadi hal termustahil yang akan terjadi, mungkin aku juga tidak akan pernah menikah, bila memang aku tidak menikah, aku akan mengadopsi anak untuk memeliharaku di hari tuaku nanti".

Tapi, tak lama berselang, ternyata aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta dengan begitu cepat sampai aku meragukannya, apa ini benar-benar cinta atau hanya fantasiku belaka. Mungkin sampai saat ini pun aku masih ragu.
Aku jatuh cinta pada orang yang tak pernah terpikirkan dalam hidupku. Ini berbeda dari jatuh cinta dengan karakter 2D di anime atau manga. Tapi, rasanya orang yang membuatku jatuh cinta ini tak jauh berbeda dari karakter anime atau manga. Dia pasti terlalu jauh dari jangkauanku. Bukan sesuatu yang bisa kumiliki.

Maka dari itulah aku down.
Anggap saja aku sedang jatuh cinta pada karakter 2D.

Rabu, 30 Agustus 2017

Try to Remember the Kind of September

Sebentar lagi bulan September,
Tidak ada yang istimewa dengan bulan ini,
Hanya saja aku selalu teringat akan lagu tentang September,
September adalah awal dari musim gugur,
Musim yang ramah,

September sebentar lagi akan hadir,
Sementara aku masih disini,
Tetap seperti ini,
Masih dalam persembunyian,
Masih dalam dunia kecil yang berbatasan dengan tembok yang tebal,
Belum ada yang bisa menembusnya,
Kecuali aku sendiri yang ingin keluar,
Tapi,
Mungkin aku masih harus disini lebih lama lagi,

Disaat keramahan September akan menyapa,
Aku masih disini dalam kegelisahan,
Percayalah,
Ini bukan inginku,
Kalau aku punya kemampuan aku ingin melakukan lebih,
Aku ingin berusaha lebih lagi,
Aku tidak ingin berdiam diri saja,
Kau tahu aku tak seperti itu,

Saat September datang lagi,
Disaat itu mungkin menjadi masa yang kesepian,
Hujan mungkin akan jatuh lebih sering,
Udara mungkin akan menjadi lebih hangat,
Tapi itu tak cukup untuk mencairkan kebekuan di dalam hati,
Ah percayalah,
Ini bukan inginku,
Sungguh aku pun ingin melebarkan sayapku,
Aku juga ingin terbang melayang ke langit,

Kalau saja aku bisa,
Aku ingin menggapai sinar-sinar penuh harapan itu,
Aku juga ingin menjadi pemberi kehangatan,
Meraih cahaya,
Mencuri kehangatannya,
Membaginya dengan yang lain,
Dengan begitu kebekuan itu mungkin akan sedikit berkurang,

Aku tidak ingin terus-terusan menghela napas,
Aku tidak ingin terus-terusan merasa harus menyerah,
Aku ingin sekali bisa meneriakkan segala yang ada di dalam hati,
Aku ingin memperjuangkan sesuatu yang kuyakini
Tapi,
Selalu saja,
Perseteruan di dalam diri tak bisa berhenti,
Aku lelah,

Bangunkan aku saat September berakhir.

Minggu, 27 Agustus 2017

Aku Bisa Paham Bila Tak Ada yang Paham Tentang Apa yang Kupahami

Sebenarnya aku ingin juga sesekali menulis hal-hal yang berguna di blog. Tapi, menulis sesuatu yang berguna itu tidak mudah. Aku harus mencari informasi kesana kemari, menyelidiki, menganalis. Pada akhirnya hal yang paling mudah ditulis adalah apa yang ada di dalam pikiran, di dalam hati, di dalam sanubari. Meskipun semua itu pada dasarnya hanyalah uneg-uneg.

Apa terlihat sekali kalau aku tidak punya teman curhat manusia?

Sejujurnya di dunia ini tidak ada satu manusia pun yang kupercayai untuk melampiaskan uneg-uneg di dalam hati. Hey, tidak ada satu pun manusia yang bisa dipercaya. Orang lain terlalu mudah menilai, terlalu mudah memberi cap, terlalu mudah merasa mengerti padahal tidak paham apa-apa. Orang lain kadang merasa terlalu percaya diri ketika dicurhatin. Kadang-kadang ada juga yang saat dicurhatin suka nyahut. Hello, orang curhat butuh didengarkan bukan disahut!

Akhirnya sudah lama jiwa ini menyerah untuk mempercayai manusia sebagai tempat curhat. Mungkin juga pada dasarnya aku terlalu pemalu untuk mengutarakan perasaanku pada orang lain.

Sejak SMP aku suka menulis diary. Menulis hal-hal yang terjadi dalam satu hari atau beberapa waktu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Aku bisa berekspresi sesukaku, tidak ada yang menginterupsi, tidak ada yang menatap dengan pandangan miring, tidak ada yang mencapku terlalu ribut.

Aku bisa memahami bila orang lain tak bisa paham. Jadi, maklumi aku yang hanya bisa menulis. Aku ingin mengutarakan saja semua yang kurasakan. Tak peduli siapa yang membaca dan apa tanggapan pembaca. Aku hanya ingin menulis.