Google+ Followers

Senin, 13 November 2017

Kamu adalah Orang yang Baik

Pernah suatu kali kamu mengatakan, "Kamu adalah orang yang baik". Saat itu aku bertanya-tanya, apakah kata-kata itu hanya formalitas  semata? Baik bagi siapa maksudmu? Baik dalam ruang lingkup apa?
Sementara kamu mengatakan bahwa wanita yang kamu suka adalah wanita cantik. Cantik seperti apa maksudmu? Apakah itu cantik secara fisik? Atau cantik secara pribadi?
Lagipula, aku bahkan tidak termasuk ke dalam kategori manapun.
Aku hanya sedang kebingungan. Aku gelisah seorang diri menerka-nerka apa yang harus kulakukan. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, bagaimana aku menangani ini.
Aku selalu memikirkan kemungkinkan terburuk yang mungkin terjadi, lalu mulai membayangkan bagaimana perasaanku saat itu.
Aku mulai mempertanyakan, bagaimana jika seandainya kamu tak seberharga itu untuk kupendami cinta.
Mungkin lebih baik melihatmu memeluk wanita lain agar aku cukup terluka sehingga aku bisa melupakanmu. Bila itu memang harus terjadi, aku masih ingin menyunggingkan senyum terbaikku kepadamu.
Perasaan ini tidak mudah. Aku merasakannya seorang diri. Kamu tahu tapi kamu mungkin tidak bisa merasakannya. Kamu tahu tapi kamu mungkin tidak ingin mempedulikannya.
Aku hanya bisa diam. Menunggu keajaiban. Bila hal itu memang ada, seharusnya ada sesuatu yang terjadi. Tapi, kenapa hanya aku yang merasakannya?
Secara mengejutkan aku kehilangan kepercayaan diriku. Merasa rendah diri. Seandainya aku wanita cantik yang ideal bagimu. Seandainya aku bisa menjadi wanita sepadan denganmu, mungkin aku tidak akan merasa seperti ini.
Kamu mungkin akan mengejarku.
Seharusnya aku mencari teman utuk berkonsultasi tapi, bagaimana bila itu menganggu orang lain. Lagipula, setiap orang sudah memiliki masalahnya masing-masing.
Aku hanya dalam kebingungan.
Mungkin Tuhan masih memberi ujian.
Semua akan indah pada waktunya.
Kata-kata itu hanya mampu membuatku bersembunyi sementara seperti sedang berada dibalik topeng.
Tapi, memang benar bila ini belum saatnya bagiku.

Jumat, 10 November 2017

A Dream About Preparing Our Wedding

Pagi ini bertepatan dengan Hari Penampahan Kuningan, aku terbangun dari mimpi. Sebuah mimpi yang membahagiakan tapi juga menyedihkan.
Di dalam mimpi itu, keluarga Bali yang telah dianggap keluarga oleh Masa menanyaiku apakah aku mau menikah dengan Masa. Aku sendiri tidak berpikir lama, tentu saja aku menjawab "mau".
Alhasil, sesegera mungkin mereka menyiapkan pernikahanku dan Masa. Dalam masa-masa itu, aku yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa menerima. Ajik dan Gustu kelihatan senang sekali. Gungmas membantuku menyiapkan pakaianku. Saat dia mengajakku memilih selendang, dia memakaikan sebuah selendang lalu melepaskannya lagi dan meletakkannya lagi pada deretan pilihan selendang yang banyak sekali dengan berbagai macam warna. "Bagaimana dengan bajunya?" Tanyaku. Dia hanya mengatakan bajunya sudah ada. Lalu aku teringat bahwa aku mempersiapkan pernikahanku tanpa memberitahu orangtuaku. Gungmas mengatakan semua sudah diatur, kamu tidak perlu memikirkan itu. Dan tiba-tiba aku melihat keluargaku. Aku seperti tengah berada di halamn rumah di merajan keluarga besar. Mereka tampak sibuk. Mungkin mempersiapkan pernikahanku?
Saat aku melihat keluargaku, kakak sepupuku menitipkan ponselnya padaku, tapi saat berjalan aku malah menjatuhkannya di atas batu. Ponsel itu kelihatan baik-baik saja tapi saat kuambil casingnya agak membuka, saat kutekan untuk menutupnya malah sisi lain yg terbuka. Sampai akhirnya casing belakangnya lepas. Seperti tidak pas pemasangannya.
Dan mimpiku pun berakhir.
Aku tersadar dari mimpi dengan perasaan yang penuh di dada kiriku. Aku merasakan perasaan yang bahagia, masih terbawa suasana di dalam mimpi. Bahkan saat aku membuat tulisan ini. Perasaan penuh itu masih ada.
Meskipun begitu, aku juga merasa sedih. Aku sedih karena semua yang terjadi itu hanya di dalam mimpi. Dan ada kemungkinan mimpi itu memiliki arti yang sangat jauh berbeda dari yang terlihat. Jadi, mungkin mimpi itu tidak benar. Mungkin juga mimpi itu adalah ekspresi dari rindu yang kurasakan terhadapnya. Perasaan rindu ini benar-benar terasa menyakitkan, sampai-sampai ingin menangis, dan aku benar-benar menangis.
Itu terjadi dua hari yang lalu.
Di hari Senin aku melakukan sebuah petualangan solo. Dari rumah (Negara) aku berangkat menuju kampusku di Singaraja, membutuhkan waktu 3 jam untuk sampai disana. Setelah berkeliling sebentar di kota itu, urusanku di kampus selesai, aku menemui temanku, Retno di rumahnya di Sukasada. Dia telah menikah dan memiliki anak. Bahkan anak keduanya akan segera lahir. Dia hidup dalam keluarga kecil yang bahagia.
Perjalananku kulanjutkan menuju Denpasar. Perjalanan ini juga membutuhkan waktu 3 jam. Di Denpasar aku bertemu dengan Hery. Temanku yang satu ini akan segera menikah. Lebih tepatnya dia akan menikah di tanggal 23 Nopember ini. Aku menemuinya jauh hari karena di tanggal itu aku tidak bisa datang. Hery adalah satu-satunya teman curhat dan gila-gilaanku yang masih lajang, jadi ketika dia bilang mau menikah rasanya seperti anak perempuan yang mau ditinggal menikah oleh bapaknya. Aku turut bahagia, lega tapi juga sedih karena aku tidak bisa lagi sebebas dulu chatting dengan dia. Satu persatu temanku yang berlainan gender akhirnya menikah. Pertanyaannya, aku kapan? Bisakah semua terjadi seperti di mimpi?
Saat malam menjelang aku dan Hery sudah menyelesaikan makan kami dan menutup obrolan, kami pun berpisah. Aku berangkat menuju Kuta, menjemput temanku, Gungmas yang bekerja di salah satu hotel bintang lima disana. Perjalanan menuju hotel itu benar-benar lama karena aku salah mengambil jalur. LoL
Tapi, aku bisa sampai ke tempat itu dengan selamat. Lalu, kami beranjak menuju pantai Kuta. Disanalah, di parkirannya aku bertemu Masa. Dia telah bersiap akan pulang menuju kosnya. Begitu juga dengan keluarga temanku, Ajik dan Gustu.
Bertemu Masa dalam kondisi seperti itu membuatku benar-benar malu. Aku tidak sanggup mengatakan sepatah katapun. Hanya bisa tersenyum. Kalau mengingat kejadian itu rasanya aku ingin berteriak. LOL
Keesokan harinya aku mengantar temanku bekerja lalu ke pantai Kuta sendirian berharap orang yang kutemui pertama kali adalah Masa. Tapi, sampai matahari meninggi dia belum juga muncul. Mungkin sekitar jam 11 dia baru datang di saat aku tengah membantu mempersiapkan warung. Aku tidak bisa berkata-kata, hanya bisa tersenyum dan memandanginya. Entah kenapa aku tidak bisa berkata-kata.
Masa duduk di warung sebelah dan memesan makanan, lalu datang seorang bencong menggodanya. Lol. Dia bahkan membuat story di instagram menampilkan si Okama itu, haha, aku benar-benar iri dengan bencong itu. Aku iri dia bisa ngobrol dengan bebasnya dengan Masa. Aku iri dia bisa duduk berdampingan dengan Masa. Aku iri dia bisa terlihat begitu ceria di hadapan Masa. Sementara aku hanya bisa tersenyum dan memandanginya.
Sekembalinya dari bekerja, Masa bertemu dengan beberapa orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan Gustu. Dia menerima anggur dari seseorang lalu segera mendekatiku dan menawariku anggur itu. Aku kaget dan tidak paham maksudnya tapi aku mengambil anggur itu dua biji. Dia sepertinya bermaksud supaya aku mengambil lebih banyak tapi aku tidak paham. LOL. Kesulitan terbesar kami adalah di bahasa. Mengesalkan sekali tapi disitulah menariknya.
Yang paling membuatku tak bisa berhenti tersenyum adalah saat aku memandanginya, dia akan melihat kearahku sambil tersenyum. Aku suka itu. Aku suka saat pandangan kami bertemu. Aku suka saat dia melihat ke arahku. Meskipun sama-sama tidak bisa mengatakan apa-apa. Aku hanya merasa itu begitu berarti dan dadaku terasa penuh. Maksudnya penuh dengan bunga. LOL.
Siang harinya Masa meninggalkan pantai, seperti biasa tanpa mengatakan sepatah katapun, dia tiba-tiba saja menghilang. Padahal siang itu aku berencana mengikutinya bekerja. Tapi, ya sudahlah. Saat sore menjelang jam 6 dia baru datang. Dan melanjutkan bekerja. Sementara aku harus beranjak untuk menjemput Gungmas. Tapi sebelum menjemput Gungmas, aku berjalan menuju pantai dan duduk di atas pasir putih dengan pendaran cahaya matahari senja yang akan terbenam sambil mencari sosok Masa di tengah keramaian. Benar-benar ramai. Benar-benar sulit menemukannya hingga tanpa kusadari dia telah ada di depan mataku tapi dengan jarak yang cukup jauh. Aku mengambil beberapa fotonya. Dan saat kuperhatikan beberapa foto sunset yang kuambil, di salah satu foto ternyata ada dia. Aku hampir menangis melihatnya. Berkali-kali kusebut, "oh my God". Aku hampir tidak percaya pada foto yang telah kuambil.
Meskipun aku sangat ingin mengikutinya, aku tidak bisa. Aku harus segera menjemput teman.
Keesokan harinya temanku bekerja pagi, Gustu mengantar Ajik ke puskesmas untuk mengecek kondisi kesehatan Ajik yang tampak buruk. Hari itu aku sangat berharap bisa bertemu Masa di warung, aku sudah menyiapkan skenario pernyataan cinta di dalam otakku. Tapi, mungkin memang belum rejeki. Hari itu Gustu tidak ke warung. Kami tidak ke Kuta. Aku sedih. Tapi, aku tidak bisa menunjukkannya. Meskipun ingin, aku juga tidak bisa menghubungi Masa. Hari itu aku menangis diam-diam. Saking rindunya dengannya, saking tidak bisanya perasaan itu diungkapkan, saking kerasnya perasaan u harus kutahan, tidak bisa mengeluh kepada siapapun, tidak bisa mengadukan kesedihanku pada siapapun, tidak bisa berbuat apa-apa. Benar-benar menyiksa. Tapi, aku bisa mengatasinya. Daijoubu.
Hari itu, pertama kalinya aku minum bir. Gustu menawariku minum bir, awalnya aku menolak tapi dia menawarkan bir Bintang lemon yang mengandul kadar alkohol rendah. Rasanya seperti "tuak wayah", juga mirip Green Sand, seperti minuman soda biasa. Meskipun begitu aku meminumnya sedikit-sedikit dan perlahan. Aku berusaha keras menghabiskan setengah gelas yang diberikan padaku. "Tidak buruk" pikirku. Mungkin lain kali aku akan minum bir itu lagi. LOL.
Dan itulah kisah perjalanan sedih yang kualami.
Menyenangkan, penuh petualangan, seru, dan nostalgic.
Keesokan harinya di hari Kamis, pagi hari, aku bersiap pulang kembali ke Negara. Kali ini aku tidak mengirimkan pesan apa-apa kepada Masa. Aku hanya menitipkan pesan pada Gustu, karena hanya dia yang paling sering bertemu dan mengobrol dengannya. Entah pesanku disampaikan atau tidak. Lol.
Masa tidak mungkin mengirimiku pesan.
Aku memang tidak memiliki harapan tapi aku masih ingin berusaha. Aku tidak bisa begitu saja berpaling. Meskipun aku tidak bisa bersamanya kupikir aku juga tidak ingin bersama orang lain. Lagipula sedari awal aku telah membuat keputusan bahwa aku tidak akan menikah dengan orang yang tidak kucintai dan yang tidak bisa membuatku jatuh cinta. Jadi, mungkin menikah itu hanya bisa kunikmati di dalam mimpi.

Jumat, 03 November 2017

Ah I'm Human

I feel empty in the crowd,
Can't bear the loneliness,
It is me the weird one here,
Why is that?
I don't know,
Everything seems to be not in its place,
Such thing like light is not shine as its own,
It's no one fault,
It is me being the strange one,
Can't see what everyone are seeing,
Can't feel what everyone are feeling,
It's no one fault,
It's just me being lonely,
No one to talk to,
Can't speak up,
Everything is burried deep inside,
It'll never go up, "I should just give up"
The side of mine who scared of being hurt told me that,
That words make it even worst,
Because the other side just keep on silence,
Keep on waiting for miracle to come,
It's hurt,
But also grateful for the pain, "Ah, it makes sure I'm a human"
It's just natural,
As time pass me by,
Will the pain gone?
Will the emptiness become fullness?
Will the loneliness become happiness?
Can time tell me the answer?

Minggu, 29 Oktober 2017

Laksamana Matahari

Hay kamu,
Namamu telah terpatri dalam benakku selama beberapa tahun ini,
Kamu yang mungkin suatu saat nanti akan mengisi hari-hari sepiku dengan tawa dan canda,
Kamu yang suatu hari nanti akan menjadi pelipur laraku,
Ingin kupastikan hari itu akan datang,
Hari saat aku akan bertemu denganmu,
Hari saat aku akan membawamu ke dunia ini.

Laksamana Matahari,
Namamu adalah hasil pemikiran panjangku,
Otakku ini penuh dengan delusi,
Aku banyak bermimpi,
Aku penuh dengan harapan,
Meskipun aku juga dipenuhi rasa takut,
Aku takut hari itu tidak pernah tiba dalam hidupku,
Aku takut kamu tidak pernah hadir dalam hidupku,
Apa yang harus aku lakukan?

Diri ini tidak pernah sempurna,
Tapi, aku telah banyak membuat draft tentang masa depan,
Aku ingin memastikan kamu hidup dengan baik,
Saat hari itu tiba, aku yakin tidak ada apapun di dunia ini yang mampu mengalahkanmu atas diriku,
Kamu akan menjadi duniaku,
Kamu akan menjadi segalanya bagiku,

Hey Laksamana Matahari,
Aku berharap kamu akan seperti matahari,
Hangat,
Adil,
Dan selalu bersinar,
Kamu adalah bintang bagi semua makhluk,
Aku berharap bisa mendidikmu seperti apa yang kuharapkan,
Kamu tak harus sama persis seperti dalam bayanganku,
Hanya saja ada sedikit harapan bahwa kamu akan melebihi ekspektasiku,
Kamu boleh nakal,
Kamu boleh setiap hari pulang dengan luka,
Asal itu luka demi kebaikan,
Aku tidak melarangmu berkelahi,
Asal itu membela yang lemah dan demi keadilan,

Kamu tak harus pintar,
Aku lebih ingin hidupmu penuh petualangan,
Di akhir pekan dibanding ke mall, aku lebih ingin mengajakmu berkemah,
Tak apa meskipun kita berkemah di kebun belakang rumah,
Atau mungkin di halaman rumah,
Aku tak ingin hidupmu berpatokan pada angka-angka,
Aku tidak mau kamu terlalu berambisi,
Hidup untuk memenuhi ambisi hanya akan memberikan beban berat,
Aku ingin hidupmu santai,
Aku juga ingin kamu berpikiran santai,
Seperti di pantai,

Bila nanti ayahmu si pekerja pantai itu, namamu takkan sama,
Tapi aku ingin "matahari" melekat padamu,
Aku akan selalu menunggumu,
Kapan pun kamu mau, datanglah.
Aku selalu menantikanmu.

Selasa, 24 Oktober 2017

Aku Masih Akan Hidup 50 Tahun Lagi

Jika usia rata-rata manusia 70 hingga 80 tahun, maka aku masih mempunyai sisa hidup 40 hingga 50 tahun lagi. Itu akan menjadi waktu yang sangat lama.
Di usiaku yang menjelang 30 ini saja meskipun merasa sudah cukup memahami kehidupan, nyatanya masih banyak hal yang tidak bisa kupahami.
Sebut saja satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam benakku ketika melihat buah mangga yang masih kecil di halaman sekolah, buah yang awalnya kulihat kecil-kecil semakin hari semakin membesar. Otak jahilku bertanya-tanya, "Kapan mangga itu bertambah besar? Tahu-tahu sudah segede itu."
Aku cukup mencintai ilmu biologi jafi jawaban logisnya adalah, semakin hari sel dalam buah mangga mengalami pembelahan, dan itu adalah pembelahan normal. Yang menjadi masalah adalah, aku tidak bisa melihat dengan mata bulatku secara langsung bagaimana hal tersebut terjadi. Maka setiap hari kuanggap apa yang kupelajari itu telah memuaskan rasa penasaranku. Tapi itu tidak sepenuhnya benar.
Aku mengabaikannya setiap hari karena berpikir memikirkan hal tersebut tidak begitu berguna, aku tidak akan mendapat jawaban yang membuatku puas.
Setelah dipikir-pikir, ada berapa banyak hal di dunia ini yang kuabaikan hanya karena hal tersebut kupikir tidak akan pernah kudapatkan jawabannya?
Berapa banyak hal yang telah kujauhi, kuhindari dan aku telah melarikan diri darinya hanya karena aku tidak akan pernah tahu jawabannya. Mungkin juga tidak mau tahu.
Apakah sisa hidupku yang terlama 50 tahun itu mampu memuaskan rasa penasaranku terhadap hal-hal yang terjadi di dunia ini?
Meskipun begitu, bahkan bila aku harus terlahir kembali setelah kematianku di masa ini, aku masih ingin lahir dan menjalani kehidupan seperti hidupku saat ini. Tidak ada yang ingin kuubah. Meskipun aku harus hidup seorang diri.
Aku percaya bahwa Tuhan adalah the Great Planner, apakah beliau mempunyai rencana-rencana dalam masa depanku? Apakah semua itu akan terjadi seperti apa yang telah dirancangkan? Apa yang terjadi padaku adallh apa yang kubutuhkan. Selama hidup aku mempercayainya. Meskipun selalu terasa menyakitkan bahwa apa yang paling kuunginkan tidak ada dalam rencana-rencana Tuhan untukku.
Meskipun aku sangat ingin tahu apa yang akan terjadi dalam hidupku bila aku memaksakan kehendakku.
Entah berapa kali aku harus memohon, "kali ini saja kumohon, kali ini saja, kumohon, kali ini saja"
Meskipun tetap saja di dalam hati aku meyakini bahwa apa yang paling kuinginkan tidak akan pernah kudapatkan. Atau paling tidak "belum saatnya". Akan ada waktu yang tepat. Entah kapan. Atau entah dengan situasi dan kondisi yang bagaimana.
Bila aku tidak menyerah mungkin aku bisa mewujudkan paling tidak satu dari sekian banyak hal yang paling kuinginkan.
Bila aku harus memilih, meskipun hidup di masa sekarang harus menyakitkan, aku masih ingin tetap hidup seperti ini di kehidupan selanjutnya.
Aku sedang menjalani karmaku, inilah peranku dimana di duniaku akulah pemeran utamanya.

Sabtu, 21 Oktober 2017

Ohisashiburichiii~

Halo!
Sudah lama aku tidak menulis.
Selain sibuk, aku juga tidak mendapat inspirasi untuk menulis. Hari-hariku tidak begitu bersemangat.

Sudah sejak beberapa hari yang lalu sebenarnya aku ingin menulis, terutama menuliskan mimpi yang menurutku aneh. Ya memang setiap mimpi itu aneh LOL

Sekitar dua hari yang lalu aku terbangun dari tidurku sekitar jam 3 pagi. Saat bangun aku masih bisa mengingat mimpi yang kualami. Dalam mimpi itu aku bersama dengan Aris, mantan pacar berondongku yang bahkan tidak pernah muncul sekelebat pun dalam kehidupan sehari-hari. Tiba-tiba malam itu aku bermimpi menuju ke suatu tempat dengannya. Tempat itu sejenis tempat makan self-service. Awalnya aku berjalan dengannya sambil mengambil beberapa bulatan bakso dan bahan lain yang hendak dimasak. Sampai di tempat makan aku melihat sebuah meja kosong dan mulai berpikir, "kita akan makan di tempat ini lagi?"

Aku dan Aris akhirnya duduk berhadapan di tempat itu, lalu aku pergi ke arah dapur untuk mencari alat masak. Anehnya di restoran u tidak ada pelayannya. Aku mencari alat masak tapi tidak ketemu. Aku menyerah lalu kembali duduk. Pada saat itulah aku melihat Aris memperhatikan ke arah layar yang tengah menampilkan video. Di dalam video itu aku melihat diriku sendiri dengan dua orang gadis lainnya sedang melakukan suatu kegiatan, aku tidak ingat, aku hanya bisa menyimpulkan yang kulakukan dalam video itu hanya bermain-main di padang rumput dan mengobrol dengan kedua gadis yang tidak kukenal itu. Di dalam video itu aku dan kedua gadis itu mengenakan kimono hitam dengan dalaman putih, persis seperti siswa jepang pada jaman dahulu.
Setelah itu aku tidak ingat apa yang terjadi, mungkin aku langsung terbangun dari mimpi.

Akhir-akhir ini hampir setiap malam aku bermimpi dan biasanya aku tidak ingat mimpi apa saja itu. Hanya saja dalam kehidupan nyata aku sering merasa "dejavu". Seolah-olah aku pernah mengalami ini dan itu entah itu memang pernah terjadi atau hanya pernah muncul dalam mimpi. Aku terkadang sampai bingung membedakan mana yang kualami dalam mimpi dan mana yang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.
Kupikir ada yang salah dengan memori di otakku. Tapi aku yakin bukan sesuatu yang berbahaya

Sekian.

Kamis, 05 Oktober 2017

Suddenly Feels Really Sad Then Cry

Dalam perjalanan pulang dari tempat kerja tadi, tiba-tiba ada perasaan sedih merasuk ke dalam dada.
Tanpa dikomando air mata mulai mengalir.
Ini bukan pertama kalinya terjadi seperti ini.
Otakku terlalu banyak memikirkan hal yang sejatinya tidak perlu.
Bukan hal yang penting tapi tak bisa berhenti memikirkannya.
Di satu titik yang entah kenapa muncul dalam pikiran, "hari ini aku diminta sembhyang di merajan almarhum kakek (ayah dari ibu) karena ada sesuatu yang hanya harus aku" terlintas seperti itu dalam benakku.
Aku mulai bertanya-tanya, ada apa? Kenapa hanya aku? Apa kakek memiliki karma tertentu terhadapku? Atau aku yang telah memiliki karma tertentu pada kakek, mungkin dari masa sewaktu aku masih bayi.
Aku mulai berpikir bahwa mungkin ini akan ada hubungannya dengan kelanjutan perjalanan takdirku. Terutama jodoh. Saat itulah perasaan sedih menyelimutiku, air mataku mulai mengalir.
Aku hanya menduga-duga, mungkin ada sesuatu yang diberikan kakek padaku saat aku masih bayi lalu sampai pada akhir hayatnya beliau tidak ingat untuk mengambilnya kembali.
Ini hanya spekulasi.
Kebenarannya akan kuketahui nanti, jika paman (kakak dari ibu) tidak keberatan memberitahuku.

Hari ini, aku berpikir tentang takdir dan jodoh. Kedua-duanya adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Bagiku, takdir dan jodoh memiliki kaitan dengan karma.
Sejak dulu aku bertanya, kenapa meskipun saling mencintai dua orang tidak bisa hidup bahagia bersama, atau mengapa meskipun tidak saling mencintai tapi dua orang bisa hidup bahagia. Dan mengapa meskipun dikatakan berjodoh dua orang tidak bisa saling mencintai atau pun menemui happy ending.
Entah sejak kapan aku mulai memahami alasan-alasannya. Takdir dan jodoh adalah hasil dari karma. Takdir bisa diciptakan karena adanya karma. Begitu pun jodoh. Jodoh itu tidak harus bahagia, karena jodoh adalah untuk memenuhi karma.
Aku akan fokus pada jodoh karena saat ini aku galau karenanya. Dalam pemahamanku, jodoh bukan berarti harus bersama, bukan juga berarti harus saling mencintai. Bahkan dengan orang yang tidak sengaja kita temui di jalan pun kemungkinan memiliki jodoh dengan kita. Bisa jadi suatu saat di waktu yang tepat di masa yang telah digariskan kita akan bertemu lagi dengan orang yang sama lalu membuat ikatan. Di saat itulah ada jodoh dan takdir mulai membuat jalannya.
Atau mungkin sebaliknya, karena seperti itulah takdirnya. Apakah kemudian ikatan itu bertahan lam atau tidak itu tergantung dari karma kita, bahkan seberapa kuat ikatan itu tergantung dari karma kita. Bisa saja suatu saat di waktu yang tepat, ikatan itu tiba-tiba putus. Tidak ada yang tahu.
Kadang kupikir semua ini hanya khayalanku belaka. Aku terlalu banyak berpikir, aku terlalu banyak mempercayai hal-hal di luar nalar.
Mungkin ini hanya fantasiku semata.
Hanya karena aku memiliki perasaan yang kuat bahwa aku tengah menunggu seseorang, bahwa orang itu suatu saat akan kutemui. Dan, aku juga merasakan sesuatu yang kuat bahwa dalam hidupku ini aku mungkin tidak bisa mencapai happy ending dalam hubungan cinta.
Mungkin karena itulah aku selalu merasa sedih di waktu-waktu tertentu. Meskipun kadang-kadang aku bertanya, apa arti dari rasa sedih itu?