Google+ Followers

Minggu, 23 April 2017

I Can't be With You Anymore

Kupikir aku sudah jelas-jelas mengatakan bahwa mari kita ambil jalan masing-masing.  Aku tidak bisa memenuhi janji itu.  Tak apa bila kamu juga tidak bisa.  Aku tidak peduli. 

Aku telah salah membuat keputusan untuk kembali lagi padamu. Mungkin itu kesalahan yang benar-benar tidak seharusnya kulakukan. Tapi bila aku tidak melakukannya aku mungkin tidak akan pernah sadar akan kesalahan itu. 

Aku benar-benar kasihan padamu. Apa aku telah membuat hidupmu kacau dan berantakan? Hanya itu yang kupikirkan. Kita yang tak pernah bisa saling memahami tak seharusnya bersama.  Tolong, berjalanlah di jalanmu sendiri dengan tubuh yang tegap.  Aku tidak akan lagi menoleh ke arahmu. 

Maaf karena aku selalu saja membuat keputusan sepihak.  Itu karena kamu tidak akan membuat keputusan apa-apa.  Aku merasa telah gagal belajar dari kesalahan yang dulu pernah kulakukan. Padahal aku pikir aku telah siap menerima konsekuensinya, tapi nyatanya aku tidak bisa. Sekali lagi aku telah menyerah. Aku tidak ingin lagi merasa telah menyakiti perasaanmu lebih dari ini.

Aku akan pergi.
Aku akan mencari apa yang telah lama kuurungkan.
Karena kamu tidak membuat pengorbananku berarti. 
Meskipun aku tidak membutuhkan penghargaan itu.
Kuharap kamu mengejar mimpimu. Aku hanya materi yang semu, aku tidak akan bisa menyatakan satupun impianmu.  Tolong pergilah. 
Aku tak ingin keberadaanku membebanimu. Aku juga tak ingin menjadikanmu beban bagiku.
Bersamamu aku tidak bahagia. Kumohon kali ini, mengertilah.

Kamis, 06 April 2017

No Compromise

Aku merasa -entah sejak kapan- sulit berkompromi. Aku mungkin terlalu memikirkan dalam dalam semua perasaan kecewa yang kurasakan, aku bosan, aku muak dan jenuh dengan semua itu. Aku merasa telah menahan diri sampai batasku, tak mengeluh, tapi juga tidak bisa berkomentar terang-terangan. Aku tidak mengharapkan orang lain untuk paham perasaan terluka itu, aku juga tidak mengharapkan orang lain memberi sokongan, dukungan atau nasihat. Aku tahu bahwa aku bisa menyelesaikan masalahku. Apapun itu.  Apa itu yang menyebabkanku membangun tembok terlalu kokoh terhadap orang lain? Aku memisahkan dengan jelas mana yang wilayahku dan mana wilayah orang lain lalu secara sadar aku tidak melewati batas-batas wilayahku, secara sadar pula aku tak menyentuh wilayah orang lain. Aku menjadi sosok berdarah dingin. Aku takut terluka, maka kuhindari hal-hal yang menyebabkan luka. Aku benci pertengkaran, maka kuhindari pertengkaran itu dengan hidup menyendiri. Aku melepas semuanya tak ingin stres sendiri.  Apakah aku melarikan diri? Entahlah. Aku hanya merasa melakukan hal yang wajar. Aku menghindari apa yang tidak kusukai. Aku menjauhi apapun yang aku benci. 

Aku tidak meminta pertanggungjawaban siapa siapa atas luka ini.

Minggu, 12 Maret 2017

Paling Tidak Aku Ingin Ada Satu Saja Hal Keren Darimu Yang Bisa Aku Banggakan

Kamu tidak pernah menyadari bahwa aku tidak pernah merasa bangga terhadapmu.  Aku bisa memahami bila kamu tidak bisa memahamiku karena aku juga sama, aku tidak bisa memahamimu hanya saja aku selalu merasa tahu apa yang sebenarnya ada di benakmu. Apakah ini insting seorang perempuan?  Entahlah.. 
Aku hanya tahu bahwa seperti itulah kamu, kamu yang di mataku tidak mensyukuri apapun yang kamu miliki, mungkin kita punya pengertian rasa syukur yang berbeda,  entahlah.  Kamu yang di mataku selalu mengeluh, sering membuat bathin ini terbebani, karena aku bukan orang yang tepat untuk memberikan layanan komplain dan keluhan, sungguh aku tidak pernah bercita-cita hidup menanggung beban orang lain. Kamu yang di mataku selalu terlihat menderita tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena apapun yang kukatakan tidak mempan bagimu, kamu menganggapku manusia di atas angin yang tak mungkin mengerti penderitaan orang lain, secara tak sengaja kamu telah membuatku merasa seolah-olah aku orang bodoh. Kamu yang di mataku terlihat begitu mencintaiku dan tak ingin kehilanganku,  berusaha mengikatku dengan perasaan itu tapi sayangnya yang kamu cintai itu hanya sebagian kecil diriku.  Kamu yang di mataku tidak memahami bagaimana diriku yang sesungguhnya. Kamu tidak tahu bahwa di dunia ini bukan cinta yang kukejar. Kamu juga tidak tahu bahwa di dunia ini bukan kekayaan materi yang kucari. Kamu tidak tahu apa-apa tentangku.  Hidupmu terlalu fokus pada dirimu sendiri. Kamu tak menyadari bahwa selama ini kamu tidak menerimaku seperti apa diriku.

Aku hanya tidak menyangka bahwa kamu tidak pernah berubah.  Semakin mengenalmu aku semakin menyadari banyak hal yang ternyata menjadi tidak memiliki arti bagiku. Aku semakin menyadari bahwa aku tidak memiliki perasaan bangga terhadapmu,  bukan karena kamu tidak kaya,  bukan karena kamu tidak punya penghasilan tetap, bukan karena kamu memiliki banyak hutang, bahkan perasaan cinta yang kamu utarakan yang membuatmu tak mau kehilanganku sama sekali tak membuatku merasa bangga. 
Dulu di mataku kamu itu keren, yang jelas bukan karena tampang,  tapi karena kamu pekerja keras, kamu kuliah sambil bekerja, membiayai kuliah dengan uang sendiri, kamu hidup dengan hemat dan sederhana. Saat itu aku merasa bahwa kamu memiliki impian yang besar, fokus pada satu jalan, punya tujuan yang jelas,  aku suka dengan jurusanmu, saat itu bagiku itu adalah hal yang keren dan aku bangga.
Tapi semua berubah, mungkin itu terjadi saat kamu mengaku bahwa pendidikan yang kamu tempuh adalah karena terpaksa, itu bukan minatmu, itu bukan cita-citamu. Saat itu aku mulai berpikir mungkinkah sebenarnya kamu tidak punya impian?
Masih ingatkah kamu ketika aku menyampaikan keinginanku untuk pergi ke pulau seberang demi mewujudkan cita-citaku? Saat itu kamu bertanya padaku mengenai bagaimana dengan dirimu, bagaimana nasibmu sepeninggalku. Kamu tidak tahu bahwa itu membuat pikiranku buntu.  Aku merasa seperti sedang berjalan ke arah tujuanku dengan membawa tas besar berisi batu.  Berat rasanya membawa beban itu yang dulunya kukira emas.  Kamu memikirkan dirimu sendiri. Kamu tidak memberiku dukungan. Kamu tidak memahami bahwa impianku jauh lebih berarti daripada kamu.  Kamu juga tidak memahami bahwa itulah alasan sebenarnya aku memutuskan pergi dari hidupmu saat itu.  Aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang tak mendukung itu.  Aku memutuskan untuk membuang tas besar berisi batu itu. Lalu entah darimana datangnya, dewi keberuntungan berpihak padaku, aku tak perlu ke pulau seberang untuk mewujudkan impianku.  Aku mendapatkannya di tanah kelahiranku. Saat itu aku bagaikan sekali mendayung dua pulau terlampaui.  Tujuanku sudah kuraih, keinginan orang tuaku pun terpenuhi karena aku akan tetap tinggal di tanah kelahiranku.  Tidak ada alasan bagiku untuk meninggalkan tanah ini seperti harapan mereka. Ya. Aku pun berpikir begitu. Hidupku terasa ringan tanpa beban, aku bisa hidup seperti apa yang kumau.  Itulah yang kupikirkan. Tapi semua tidak berakhir sampai disitu, tidak, sampai saat aku mulai dipaksa untuk memikirkan tentang pasangan hidup. 
Semua orang berpikir bahwa dengan apa yang sudah kumiliki bisa membuatku dengan mudah medapatkan apapun.  Tapi, percayalah, aku tidak berpikiran seperti itu. Sebenarnya aku justru berpikir bahwa dengan semua yang kumiliki justru membuatnya semakin sulit. Orang pasti berpikir bahwa aku punya selera yang tinggi. Harus memenuhi banyak kriteria? Tidak.  Orang tidak tahu bahwa aku tidak punya kriteria mengenai pria.  Hanya saja pasti ada hal-hal yang fundamental,  seperti kecocokan karakter, mungkin?
Kalau aku dengan kamu, jelas-jelas bahwa aku merasa kamu berada di level intelektual yang sama denganku, paling tidak kamu memahami bahasa inggris, kamu juga setidaknya bisa memahami hobi dan minatku.  Hal-hal seperri itu yang tidak bisa kudapat dari pria lain.  Paling tidak aku mengenal kamu cukup lama, begitu pun sebaliknya. Saat memutuskan untuk kembali dengan kamu, aku merasa bahwa kamu telah menemukan impianmu karena kamu melanjutkan kuliah.  Aku berpikir itu hal yang bagus.  Menemukan impian akan membuat seseorang berada di jalan yang benar, itu yang kupikirkan. Lalu,  apa? Ditengah jalan ternyata kamu memilih untuk berhenti. Aku mulai berpikir, apa ini salahku? Kenapa saat aku hadir kembali dalam hidupmu kamu memutuskan untuk mengubur impianmu? Aku sungguh tidak mengerti. Apa seperti itu pengorbananmu untukku? Kenapa aku sama sekali tidak merasa keberartian dari pengorbanan itu? Karena menurutku itu keputusan yang salah. Aku tidak komplain, kalau aku komplain aku 100% yakin semua yang kukatakan akan kamu balas dengan segudang alasan.  Aku muak dengan semua itu, aku hanya bisa diam dan berpura-pura percaya padamu. Hebatnya kamu tak pernah menyadari itu. 
Aku tidak akan mengeluh atau komplain. Hanya demi kamu tidak mengeluh dan komplain padaku.  Sekali lagi, aku bukan pekerja layanan masyarakat yang bersedia menerima keluhan.  Bukan itu tujuanku menjalin hubungan.  Aku ingin merasa bahagia dan perasaanku lega.  Aku ingin setidaknya ada satu atau dua hal yang terpuaskan agar aku tidak terus merasa kecewa.  Paling tidak,  jangan beri aku beban yang sama seperti dulu, apa kamu tidak pernah belajar? Apa kamu tidak pernah sekalipun merasa dirimu bersalah? Apa kamu tidak pernah sekalipun merasa ingin memperbaiki dirimu? Aku hanya tidak mengerti. Aku mulai menyesali keputusanku kembali padamu.  Seharusnya aku tidak pernah kembali.  Seharusnya aku tidak mengulangi membuat kesalahan yang sama.
Saat kamu bilang kamu mengubur impianmu demi aku, semakin membuatku yakin, semua ini murni kesalahanku.  Di satu sisi kamu merasa telah berkorban banyak demi aku, sementara di sisi yang lainnya, aku merasa pengorbanan sama sekali tidak berarti.  Dulu aku pergi untuk mengejar impianku, sekarang lebih baik aku pergi agar kamu tidak perlu mengubur impianmu, seharusnya itu menjadi impas.
Paling tidak buatlah dirimu bangga menjadi dirimu sendiri, baru kamu ciptakan satu kebanggan buatku.  Aku tidak pernah berpikir bahwa kebanggaan itu harus dinikmati bersama.  Aku hanya berpikir, kehadiranku sama sekali tidak membawamu ke jalan yang benar. Suatu saat nanti aku ingin merasa bangga telah meninggalkanmu sehingga kamu bisa menjadi manusia yang hebat.  Karena mungkin kehebatan itu tidak bisa kau dapat bersamaku.  Aku menolak menanggung beban seumur hidupku karena telah membuat hidup seseorang menderita dan tak berarti.  Karena itu,  buatlah aku bangga karena telah meninggalkanmu. 

Jumat, 10 Februari 2017

Aku Tidak Se-Desperate itu.

Aku tidak se-desperate itu untuk menikah. Hanya saja tekanan dari berbagai arah memaksaku. Aku juga sebenarnya berpikir sudah saatnya,  hanya saja mungkin kuasa Tuhan berkata lain. Aku bisa membuat rencana, tapi tak bisa menjalankannya sendirian.  Seandainya menikah bisa dilakukan seorang diri,  tentu aku tak perlu repot-repot menunggu.  Hari ini pun bisa.  Tapi, menikah sesungguhnya itu melibatkan 2 keluarga dan tidak dengan biaya yang sedikit.  Ketika pacarku bilang, "kita bisa menikah, hari ini pun kalo ada uang." Entah kenapa kalimat itu tidak melegakan.  Seperti berkata, "aku akan membeli mobil kalo nanti sudah kaya", lalu kapan kayanya? Aku bertanya-tanya,  kapan uang itu akan ada? Kalau seandainya dia mengatakan, "aku sedang mengusahakan supaya kita bisa cepat menikah", mungkin itu lebih baik. Tapi tetap saja rasanya tidak ada kepastian.  Di saat seperti ini aku hanya berpikir lebih baik tidak punya pacar, sehingga tidak ada yang kuharapkan dan sedikit kekecewaan yang kurasakan.  Aku juga tidak perlu merasa malu pada keluarga dan orang di sekitar. Sampai usia ini, punya pacar tapi tidak dinikahi, bahkan rencana pun tidak ada. Rasanya seperti tidak punya muka. Masih lebih baik ketika tidak punya pacar.
Saat punya pacar yang bilang siap untuk menikahi tapi menunggu sampai punya uang,  aku mulai berpikir, "apa sebaiknya aku mencari yang lain?" Setiap kali pikiran itu muncul selalu mempertimbangkan betapa sulitnya mencari orang yang bisa diajak membicarakan hobi. Di sisi lain aku berpikir, disini aku menunggu seseorang yang belum pasti akan meminangku atau tidak, apakah tidak memungkinkan di luar sana ada seseorang yang tengah siap untuk meminangku. Mungkin saja orang diluar sana itulah jodohku. Aku tiska percaya pada hal-hal seperti jodoh, belahan jiwa, cinta sejati dan lain sebagainya, tapi tetap saja aku mempertimbangkan hal itu juga, siapa tau hal-hal yang bersifat emosional itu benar adanya.  Aku mungkin terdengar egois, tapi aku juga memikirkan mengenai pacarku,  bagaimana jika seandainya bukan aku jodoh untuk pacarku. Bagaimana jika berhubungan denganku membuatnya jauh dari jodohnya? Sama seperti aku yang mulai menjauh dari jodohku?  Oh ayolah.. Semakin kupikirkan ini menjadi semakin masuk akal. Aku menjadi takut untuk menghalang-langi jodoh orang lain, karena itulah aku selalu berkata padanya, "bagaimana kamu saja". Aku berkata begitu sambil menyembunyikan maksud sebenarnya. "Ya bagaimana kamu saja, setiap keputusan yang kamu buat akan mempengaruhi keputusan yang kubuat, aku sudah memberi statement, seharusnya kamu mulai berpikir ke arah mendukung statement itu, karena aku tidak se-desperate itu untuk menikah dan itu pun juga tidak harus dengan kamu meskipun kamu adalah pilihan yang lebih baik".
Kalau saja tidak ada tekanan untuk menikah,  aku mungkin tidak harus segencar ini menegaskan apa yang ingin dan yang tak kuinginkan dalam sebuah pernikahan. Sedari jauh aku sudah memikirkan, kalaupun aku tidak menikah aku bisa menjadi orang tua angkat seorang anak, karena impianku bukan menjadi seorang istri tapi lebih kepada menjadi seorang ibu. Meski begitu alangkah baiknya bila aku bisa menjadi kedua-duanya. 
Mungkin aku kurang gencar, kurang tegas dalam menyampaikan maksudku, terlalu memikirkan kondisi pacar dan keluarga, berusaha bersabar. Ya, orang lain tidak melihat itu, jadi seharusnya aku bisa menahan perasaan malu dan kecewa ini lebih lama. Di saat aku sudah tertekan seperti ini, mana mungkin aku memberi penekanan pada pacarku yang kuyakin akan menjadi bumerang bagi diriku sendiri. Yang kuyakini, bukan jawaban melegakan nan menentramkan jiwa yang kudapatkan. Aku mungkin tidak punya tameng untuk berlindung. Memikirkan itu saja sudah membuat hati menjadi sakit apalagi kalo itu benar-benar terjadi. 
Aku tidak se-desperate itu untuk menikah, hanya saja tekanan di luar diriku jauh lebih besar, aku menjadi sulit menghela napas, tidak bisa memberi jawaban, tidak bisa memberi senyum nan tulus. Hanya ingin mengatakan "biarkan aku dengan hidupku! Stop mengurusi hidupku! Urusi urusanmu sendiri!" Ibarat gunung berapi, saat ini kalimat itu masih sekedar magma di dalam perutku. Suatu saat nanti bisa saja aku benar-benar akan memuntahkannya. Bila stok sabarku sudah habis.  😂

Minggu, 02 Oktober 2016

Ketika Foto-foto Prewedding Muncul di Beranda Socmed

"Oh sial...I don't want to see this!"
Pikiran itu muncul begitu saja saat melihat ada foto prewedding atau foto pernikahan di beranda socmed Facebook. Ada perasaan iri, benci, dan tidak bisa bahagia melihatnya. Jangankan memberi komentar atau ucapan selamat, kalau bisa aku justru ingin menyembunyikan tampilan itu. Tidak ingin melihat bahkan tidak ingin membaca komentar, qoute dan segala macam tentang foto-foto itu. Aku benci. Kalau dilihat lebih lama, aku akan merasa semakin iri dan benci dan pada akhirnya aku akan menangis. Aku sudah berhenti mengharapkan moment bahagia seperti itu. Entah kemana perginya pikiran positif 6-8 bulan yang lalu, saat ini aku sudah tidak bisa merasakannya lagi, tidak bisa kupikirkan lagi. Apa memang begini sensitif seorang perempuan lajang yang akan menginjak usia 30th? Yang sudah bosan dengan pertanyaan "Kapan nikah?", yang sudah bosan mendengar orang tua memberi alasan ke orang lain "Belum ada niat nikah mungkin.." He to the loooooo.... Gak bisa diem ya... Dipikirnya aku batu. Dipikirnya aku tidak sakit hati. Kalau bisa aku ingin sekali berteriak, menyuruh mereka diam. Diam! Gak usah tanya, gak usah komen, kamu semua gak ngerti apa-apa! 
Dipikirnya mudah di usia yang seharusnya sudah punya anak dua tapi masih  lajang mendapat pertanyaan semacam itu. Dipikirnya aku sesantai itu. Aku ingin sekali santai, tapi tekanan pertanyaan itu tidak bisa membuat santai, ditambah semakin banyaknya teman, kenalan, bahkan saudara yang sudah dan akan menikah. Dipikirnya mudah, memangnya mau menikah bisa tinggal ngomong saja?! Mikir! Memangnya yang menentukan menikah itu bisa satu orang? Heloowww... sudah cukup aku menjawab, "Tunggu saatnya." Sudah cukup becandaannya, sama sekali gak lucu! Aku bukan batu! Aku bisa sakit, aku bisa depresi. 
Kemana perginya pikiran positif 6-8 bulan yang lalu? Kemana perginya optimisme saat itu? Aku kecewa. Semua memberikan tekanan hebat padaku. Semakin berusaha menghindar semakin besar impact-nya padaku. Semakin lama hanya pikiran negatif yang muncul di benakku. "Bisa gak, gak nanyain soal itu? Memangnya kamu sudah bener ngurus diri sendiri? Jangan sok-sokan ngurus urusan orang!" Kurang lebih kalimat itu yang rasanya ingin aku lemparkan kepada orang-orang yang bertanya tanpa memikirkan perasaanku itu. Apa aku terlalu serius menanggapinya? Apa aku terlalu ambil hati? Meskipun kenyataannya aku hanya menjawabnya dengan senyum, masih berusaha sopan, sambil berusaha menyimpan perasaan terluka. 
Beberapa waktu yang lalu, saat pacar adikku mampir ke rumah, bapak dengan sengaja menanyainya, "Gimana, ada rencana menikah?" di hadapanku. Kalau saja aku tidak menjaga perasaan orang lain, kemungkinan besar aku dan bapak sudah bertengkar hebat mengenai sopan santun. "Kamu punya anak perempuan yang lebih tua yang belum menikah, apa maksudnya menanyai pacar anak kedua soal pernikahan? Aku gak masalah kalau memang mereka ingin menikah duluan, masalahnya yang ditanyai perempuan. Apa sih wewenang perempuan untuk menyatakan dia akan menikah atau tidak?! Memangnya yang akan melamar dia?!" Aku memendam kalimat itu di dalam hati. Tangan sudah mengepal karena geram. Rasanya benar-benar tidak ingin mendengar pertanyaan yang terucap tanpa ampun itu! Sudah ada begitu banyak hal yang membuatku membenci kedua orang tuaku, sekarang ditambah hal-hal semacam ini. Tolong jangan buat aku membenci kalian lebih dari ini. Cukup drama yang kalian tunjukkan selama ini, jangan tambah drama lagi. 
Sampai saat ini aku bahkan tidak tahu kapan aku akan menikah. Sudah berbagai macam alasan pernah kugunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai pernikahan. Mulai dari pacar masih lanjut kuliah, pacar masih merintis karir, pacar lagi bangun rumah, belum dilamar, belum ada pembicaraan, belum ada planning. Dan aku benci mengatakan alasan itu berkali-kali. Lalu, aku hanya bisa menjawab dengan senyum. 
Di suatu waktu saat orang-orang tahu pacarku dari daerah yang jauh, mereka berkata, "Jangan cari yang jauh-jauh, yang deket-deket aja." Aku hanya menjawab dengan senyum. Beginilah akibat lidah tak bertulang, orang ngomong seenak jidatnya. Kalau aku tidak memperhitungkan perasaan orang lain, mungkin sudah aku skakmat kalimat mereka. "Kok kamu yang ngatur? Memangnya orang yang berasal dari dekat rumah bisa menjamin hidup lebih baik. Oke, aku memang tidak bisa menjamin pacarku bisa lebih baik, tapi tidak ada yang bisa memberi jaminan. Memangnya hidupmu sudah baik sekali sampai-sampai berani ngasi nasihat ke orang lain?!" Isi hatiku dibalik senyumku adalah seperti itu. Isinya pernyataan sinis, menghakimi. Masalahnya, aku kesal. Mungkin karena aku orang yang seperti ini makanya sampai saat ini aku tidak menikah. Aku menyadari betul dibalik sikap mengalah dan memikirkan perasaan orang lain ada sosok egois dalam diriku. Aku egois dengan tidak membiarkan orang lain, berpikir, berkata, berbuat melebihi hak-haknya terhadapku. Memangnya kamu siapa? Memangnya kamu yang memberiku makan? Memangnya kamu yang menghidupiku? Seenaknya saja kamu mengatur hidupku. Memangnya hidupmu sudah baik? Seenaknya memberi nasihat padaku.
Dan disini aku menangisi semua ini. Tidak mampu berbuat apa-apa, tidak mampu melakukan lebih, cenderung tanpa harapan. 

*Kalo aku hidup di dalam dunia Psycho-Pass, aku yakin koefisien kriminalku cukup tinggi untuk menjadi seorang kriminal laten*
Pasalnya, aku terlalu banyak menyimpan pikiran negatif di dalam kepalaku dan isi hatiku juga cenderung negatif, berisi cacian, makian, amarah, ditambah dengan kekecewaan dan kesedihan yang terpendam dan bertumpuk-tumpuk. Rasanya ini sudah menjadi sebuah penyakit.




Sabtu, 24 September 2016

When You Choose Money Over a Guy

Beberapa waktu belakangan ini bahkan sampai saat ini aku banyak berpikir. Lalu, secara tiba-tiba sebuah pikiran terlintas. Jika saat ini ada yang memberiku pilihan, uang semilyar atau pria yang siap menikah? Ini mungkin hanya perumpamaan tapi kalau seandainya ada pilihan seperti itu, aku akan memilih uang. Bukan berarti aku tidak ingin menikah. Hanya saja, pilihan itu benar-benar muncul dari sekelebat pikiran, bukan karena aku memikirkannya cukup lama, bukan juga tanpa pertimbangan. Seperti menjawab pertanyaan cepat, yang kalau dalam beberapa hitungan tidak dijawab maka pertanyaan itu akan gugur. Ya, seperti itu. Seorang perempuan lajang di usia menjelang kepala tiga memilih uang ketimbang pria? Kalau ada yang memikirkannya dengan serius kemungkinan dia berpikir aku sudah gila. Kalau saja rekan kerjaku di kantor tahu pilihanku, aku yakin dia akan memberikan ceramah panjang lebar mengenai usia dan pernikahan. Kemungkinan dia akan mulai bercerita lagi tentang bagaimana dia dulu memaksa pacar dan keluarga pacarnya untuk segera menikahinya dengan ancaman dia akan menikah dengan orang lain kalau permintaannya tidak dipenuhi. Lalu, dia akan menyarankan padaku lagi agar melakukan hal yang sama. Memaksakan kehendak agar dinikahi? Ah tidak. Itu bukan gayaku. 
Aku bisa saja egois seperti itu, tapi aku bukan orang yang tak berpikir. Meskipun selalu terlihat tenang dan santai, di dalam kepalaku ini tak pernah berhenti berpikir. Meskipun acuh tak acuh aku selalu berpikir untuk menyelesaikan setidaknya satu atau dua persoalan setiap harinya dari banyaknya persoalan yang kupikirkan. Hanya saja aku selalu memikirkan penyelesaian termudah. Dan aku cepat mengabaikan persoalan yang berat. Saran rekan kerjaku contohnya. Itu menjadi salah satu persoalan juga yang sampai saat ini tidak bisa kutemukan cara penyelesaiannya karena tidak mungkin aku mengatakan padanya alasanku sebenarnya. Entah bagaimana kelihatannya bagi orang lain, yang jelas tentang pernikahan aku angkat tangan. Aku menyerah. Meskipun ada pacar, entah kenapa aku tidak memiliki kepercayaan diri. 
Sekali lagi, aku memilih uang. Aku lebih mempercayai uang ketimbang manusia. Entah sejak kapan aku mulai tidak mempercayai siapapun. Lebih tepatnya, kehilangan kepercayaan, terhadap manusia. Apa ini semacam penyakit? Tapi, ada yang pernah mengatakan, "Semakin dewasa seseorang semakin sulit ia mempercayai orang lain". Apa aku sedang dalam stage kedewasaanku? Entahlah. Sampai saat ini aku hanya merasa belum ada yang bisa memenuhiku. Belum ada yang bisa memenuhi celah kosong itu. Sesuatu yang sepertinya sudah sejak lama hilang dari dalam diriku. Sialnya, aku tidak tahu apa itu. Bahkan kemungkinan celah itu sudah terpenuhi pun aku tidak tahu. Mungkin juga ketika satu celah telah terpenuhi, celah lain pun muncul. Seperti bermain Sliding Puzzle, petak kunci harus dilepas agar bisa menggeser petak-petak yang lain. Yang kuingat, saat pertama kali memainkannya aku takut tidak bisa mengembalikannya ke semula, sehingga hanya berani menggeser satu dan dua petak saja lalu mengembalikannya ke bentuk semula. Tapi semakin lama aku  merasa semakin berani menggeser satu persatu petak, semakin sering bermain semakin mudah mengembalikannya ke bentuk semula sampai aku kehilangan petak kuncinya. Kehilangan kunci sama artinya dengan kehilangan cara untuk tetap dalam bentuk sempurna. Apa itu alasan dari kerapuhan?
Apakah inti dari semua ini adalah kerapuhan? Apakah alasan sebenarnya adalah karena aku rapuh? Entahlah... aku selalu merasa diriku kuat. Setidaknya aku masih bisa berdiri tegar menghadapi berbagai masalah, atau mungkin lebih tepatnya berdiri tegar dan tidak mempedulikan masalah apapun. Aku sekuat tenaga menganggap masalah sebagai bukan masalah, dan mencoba untuk menerima segalanya. Mencoba menerima tanpa mengeluh, tanpa komplain. Meskipun kenyataannya ada banyak keluhan dan komplain dan itu tersimpan rapat di dalam hati, yang kalau dipikirkan hanya akan membuat sesak tenggorokan dan bila memungkinkan untuk diutarakan hanya akan membuat bibir tercekat dan air mata mengalir. Lebay. Tapi itu kebenaran. Aku memikirkan diri sendiri dan orang lain dalam segala keluhanku. Semasih aku sanggup menahannya kenapa tidak kusimpan saja.
I choose money over a guy. Bahkan bila pria itu adalah pria yang mencintaiku, aku masih memilih uang. Bagaimana jika pria itu adalah pria yang kucintai? Hmm...aku tetap memilih uang. 
Pria yang mencintaiku ataupun pria yang kucintai, tentu adalah manusia. Manusia itu makhluk yang rumit. Mungkin tidak selamanya rumit, hanya saja situasi dan kondisi yang menjadikannya rumit. Bagiku masih jauh lebih mudah memahami uang ketimbang manusia. Uang berpikir sesuai dengan pikiran pemiliknya, bertindak sesuai dengan tindakan pemiliknya, uang berbicara seperti apa yang pemiliknya bicarakan. Ia mengikuti pemiliknya tanpa komplain. Meskipun uang memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang, di satu sisi ia sangat setia, di sisi yang lain ia mudah berpindah tangan, tetap saja lebih mudah memahami uang.






Selasa, 30 Agustus 2016

Lirik Lagu Anime Lama Part-2

Di bawah ini lirik lagu anime lama part 2. Beberapa lagunya sudah mulai saya lupakan, saat di-browsing juga tidak ketemu lagunya. Bagi yang ingat, mari bagi-bagi informasi ;)
Otanoshimi ni..:D


Kaleido Star

Apa yang ingin kau lakukan untuk mencapai citamu
Melihat langit yang biru, hatikulah jawabannya

Kalimat ini tak mudah terucap
Tunjukkan cahya dengan jarimu
Jika kau ingin menggapai sesuatu
Kadang kumenangis

Terus semangat percaya diri
Suatu saat kau pasti kan berhasil
Awan putih ada di dataran oh inda
Mimpi panjang...

Terus semangat percaya diri
Suatu saat kau pasti kan berhasil
Awan putih ada di dataran oh indah
Mimpi panjang yang indah...


===============================

Detective Conan

Walau masa berganti dan waktu pun berlalu
Namun di dalam hati kuakan tetap maju

Walau rintangan menghadang masalah kuhadapi
Semua kan kuterjang tuk hadapi dunia ini

(Walaupun sekarang aku terperangkap dalam tubuh kecilku
Namun aku akan tetap yakin dan aku tidak akan pernah ragu
Dan saat mereka semua coba mengerti
Yang kutahu hanya satu jawaban yang pasti)

Kini kucoba skali lagi walau terungkap pasti
Setelah kulalui penuh percaya diri
Saat sesuatu terjadi semua teka teki
Kan tetap jalani tuk menyingkap misteri

Kini kucoba skali lagi walau terungkap pasti
Setelah kulalui penuh percaya diri
Saat sesuatu terjadi semua teka teki
Kan tetap jalani tuk menyingkap misteri



 ===============================

Whistle *Opening*

Belaian angin merubah waktu berlari-lari
Langit pertama yang terlihat
Melihat impian di tempat ini ingin menangis
Walaupun dengan kekuatanku

Dapat merubah masa depan
Sesuai dengan rasa dan asaku
Hingga tiba saat kita
Akan meraih impian

Dan jadi kenyataan di langit yang membiru
Sebelum kita semua jadi dewasa
Menata masa depan di tengah-tengah impian

Sampai saatnya nanti kita akan bertemu
Dan bersama dalam deburan angin
Dan demi hari itu hari esok masih ada



Whistle *Ending*

Awal hari ini yang akan dimulai
Menjadi sepak bola
Kuputuskan hanya tuk memikirkan dirimu
Ketulusan hanyalah tanda jasa
Walau aku coba tertawatu
Bagai harum bunga kota yang baru
Tiada merasa senang

Yang kuinginkan hanyalah menagis bersamamu
Langit yang tak terlupakan sesuatu yang berharga
Mungkin saja waktu itu jatuh cinta padamu
Kupastikan jatuh cinta padamu

Tempat kumengumpulkan angan
Berlarilah berlarilah kumencari-carimu
Sesungguhnya diriku iri padamu
Selamanya hanya ingin dirimu


 ===============================


Akazukin Cha-Cha *Opening*

Melayang bersamaku di awan
Dengan sinarnya yang menyilaukan
Terbang berarak ke langit biru

Marilah mencari ada apa disana
Segera berangkat menuju alam mimpi
Keluarkanlah keberanianmu melewati cakrawala
Terbanglah bersama-sama
Kosak angin yang berhembus

Yang terbaik kuberikan bagimu
Adalah senyuman yang manis
Jangan sampai kau kalah dan sedih
Semua yang paling kusukai darimu
Adalah senyuman yang manis
Pasti terkabul keinginanmu




Akazukin Cha-Cha *Ending*

Asalkan kita berdua mau lebih buka hati
Jawabannya pastilah akan kita dapatkan
Apakah yang membuatmu Selalu menangis sedih
Maafkan aku yang tak menyadarinya

Mari hadapi ini semua dengan seluruh jiwa raga

Kita semua pasti akan bisa berubah
Aku pun tak bisa tidur karna pikirkan dirimu
Kudatang memelukmu aku cinta padamu
Asal kita berdua selalu bersama-sama

===============================


Chibi Maruko-chan

Hal menyenangkan hati banyak sekali
Bahkan kalau kita bermimpi
Sekarang ganti baju agar menarik hati
Ayo kita mencari teman

Jalan panjang menuju langit biru
Tiba-tiba kulihat seorang anak
Yang menemukan harta karun di dalam sana
Alangkah senang dan hati gembira

Wangi angin panang rumput di sore hari
Sampaikan salam gembira

Hal menyenangkan hati banyak sekali
Bahkan kalau kita bermimpi
Sekarang ganti baju agar menarik hati
Ayo kita mencari teman...


===============================

Shaman King *Opening*

Antara langit bumi selalu bersimpangan
Di dunia tempat kita brdiam ini
Terlahir jiwa baru menggantikan yang lalu
Terus terulang di dalam aliran sang waktu

Ketika terlintas rasa putus asa
Kekuatan mimpi pun menghilang
Ayo bangkit sekali lagi di dunia ini

Di jalan kebenaran ini impian akan tetap hidup
Percayai kekuatan yang terpendam
Di jalan kebenaran ini masih tersimpan kegelapan
Singkapkanlah itu semuanya

Pedang yang telah diayunkan
Bukanlah untuk menyakiti
Dengan kekuatan kita
Bangkitkan dia
Dengan agungnya
Berikan cahya
Bangkitkan jiwa


Shaman King *Ending*

Kurasakan angin sepoi
Berhembus lembut menyibakkan rambutku
Hari ini kusendiri
Kupandang indahnya langit kala senja

Apakah yang terihat nan jauh disana
Masa depan pun terlihat
Pandang terus ke depan dan melangkah

Terkadang kurasakan gelisah
Terkadang kurasakan derita
Ingin hampiri peluk dirimu tuk ungkapkan
Tapi sekarang belumlah bisa
Sampai saat impianmu itu telah teraih
Pasti kan tiba
Aku percaya

===============================


Card Captor Sakura  *Opening*

Tip tap cinta seperti permen
Enak bagaikan buah yang segar
Selamat setiap hari adalah minggu
Jangan buru-buru hatiku

Mari kita ke kota hujan telah berhenti
Membuat gelembung permen dan rasa ingin tahu
Langit biru memantul dari kubangan
Air mata mengering dalam sinar temaram

Oooohh timbul rasa gembira haa..
Gembira oh gembira haa..
Ayo kita jalan-jalan
Ah ah ah ah

Tip tap seperti permen dalam mimpi
Kucoba yang terbaik kugembira
Selamat tinggal Senin yang baik
Jangan buru-buru mimpiku...


Card Captor Sakura *Ending*

Sendiri kumelamun di sisi jendela
Dan memancarkan rasa gembira
Oh Gembira
Hariku sepi
Kutatap hujan yang tidak berhenti

Sungguh aneh
Hanya dengan mengingatmu hatiku
Akan menjadi tenang
Senyumanmu menyejukkan
Seperti air susu
Manis bagai rasa madu


===============================


Yugi Oh *Opening*

Lembar majalah yang belum terbaca
Entah mengapa kujadi ingin membacanya
Di sudut kamar tertumpuk CD game
Tak kan berarti kalau tak dimainkan

Kamu yang ada dihadapanku
Meski kucoba untuk menyapa
Tetapi kau tetap tidak mau
Merubah raut wajahmu itu

Padahal disini aku dekat denganmu

Tak tersampaikan tak tersampaikan perasaan ini
Apa sebenarnya yang paling berharga bagi diri kita...


Yugi Oh *Ending*

Tabung kaca berkilau-kilauan
Aku menunggu di Lab Fisika
Tangan yang dingin saling bertemu
Dengan begitu akan jadi terasa hangat

Siraman semangat
kuingin curahkannya padamu
Akan selalu kutopang dirimu
Yang kesepian itu

Siraman semangat
Tetap bijaklah seorang diri
Lingkaran persahabatan kita
Kan slalu menjagamu...

===============================


Hunter x Hunter *Opening*

Mari ucapkan slamat pagi
Wujudkan mimpimu lagi
Semoga hari ini jadi hari yang indah
Hal yang sederhana dan yang apa adanya
Bagai cahya mentari itu sesuatu yang paling berharga
Mimpi saat terjaga kan membawa
Keesok hari yang tak pasti
Merry Go Round Goes

Berjalan bersama dirimu
Bergandeng tangan denganmu
Aku ingin menjadi sahabat selamanya

Ucapkan selamat pagi
Wujudkan mimpimu lagi
Marilah kita hidup seperti ini untuk slamanya...


Hunter x Hunter *Ending*

Apa kau dengar suara angin yang berhembus
Di muka bumi
Bangkit kenangan di masa lalu
Apakah yang berada disana
Diujung awan yang berarak
Kutahu masa depan
Telah menntimu di balik hutan ini

Selamat jalan aa..
Jangan berpaling lagi dan teruslah melangkah
Percayalah aa..
Gejolak dalam dada kan jadi kekuatan

Suara langkahmu yang tengah berlari kencang
Sendiri kan kucari di tengah angin ini


===============================


Digimon II

Dimulai cerita yang berputar dengan cepatnya
Permukaan tanah berubah merah
Seluruh bumi menjadi surga yang kosong
Kan kami bebaskan dengan tangan ini

Jalan berbatu panjang dan tiada batas
Dan harus dibuang ke tempat jauh disana

Ayo bangkitlah pahlawan
Yang ada di dalam diriku
Jangan sampai kau menyerah
Untuk menggapai impian

Ayo tetap bersemangat
Walau debar membakar dada
Kembalikan pada kami
Hari esok yang terlupakan
Nyalakan api pertempuran


===============================


Tico and Friends  *Opening*

Mulailah jadi diri yang baru
Begitu dengar lonceng di dalam dada
Berangkatlah kapalmu
Ke peta biru luas membentang
Dan mulailah untuk menggurat
Masa depanmu..

Mari kejar kejayaan
Dan juga lampaui gelombang waktu
Jangan cemas hari esok
Percayailah Sea loves you

Mari kejar kejayaan
Kau tidak sendiri kubersamamu
Janganlah pernah khawatir
Janganlah bimbang
Sea loves you..


Tico and Friends  *Ending*

Kupandang langit malam
Saat mataku tak bisa terpejam
Bisikan bintang-bintang
Seakan bisa kudengar

Janganlah bimbang dan teruslah percaya
Keinginanmu suatu saat nanti kan terkabul

Mata yang selalu memancarkan impian
Seakan bisa berbincang dengan kerlipan bintang
Karenanya aku takkan berpaling sekarang
Sepenuh hati
Oh twinkle talk

===============================

Dragon League *Opening*

Di lapangan yang penuh berlumpur
Kuteteskan air mata
Sambil menahan sedih
Meskipun jatuh kuakan bangkit
Berlari menuju gawang
Untuk segera melesatkan bola
Sampai mencapai angkasa (Jauh dan tinggi)

Let's try to kick di tengah cahaya
Berlari menuju hari esok lebih berkilau
Let's try our best di setiap saat
Jadi diri sendiri dan mulai...melangkah...


===============================

Ranma 1/2  

Yapapai yapapai inzaten
Mari bergembira bersama cinta
Yapapai yapapi inzaten
Mari bergembira bersama cinta

Jatuh cinta Ranma Ranma Ranma
Kita menjadi teman selamanya
Jatuh cinta Ranma Ranma Ranma
Kita menjadi teman
kita menjadi teman
Kita menjadi teman selamanya

Katakan kau suka dengan tenang
Jangan seperti kuda liar
Bel tak berbunyi bagaikan angin
Dadaku jadi terasa hangat

Karena kau hidup dihatiku
Sangat mengganggu jiwaku
Malam ini tak apa-apa
Sampai besok pun tak mengapa
Bikin pusing kepalaku

Jatuh cinta Ranma Ranma
Kita menjadi teman selamanya

Berdua di pantai yang sepi
Waktu berjalan berputar-putar
Bola mata pun menjadi bulat
Waktu berjalan menakutkan
Lautan ombak pun pergi menjauh


===============================


Zenki  *Ending*

Hei tak usah kaujelaskan
A-air matamu
Hei kau yang sedang tertidur
Dengan nyenyak di padang rumput

Hei saat aku melihat
Wa-wajah lelapmu
Hei kupun tak marah lagi
Padamu yang ego

Bila tidak tegar
Tak kan mampu berjuang
Mungkin itu yang kau rasa

La la la di hari angin dan hujan
Yakinlah kamu kupasti kupasti
Akan tetap memelukmu

La la la di setiap tempat itu
Dan setiap tempat lain
Kupasti akan tersenyum padamu


Lirik lagu ending Zenki mengakhiri postingan ini.. sampai jumpa di lain kesempatan ;D