A Goddess who brings happiness is not actually a Goddess of happiness, shes's not even a goddess nor brings happiness.
Minggu, 05 November 2023
Ketika Harapan Terkhianati Kenyataan
Minggu, 25 Juni 2023
Dosa Apa Aku?
Jumat, 03 Februari 2023
Nyinyir Part 1
Senin, 23 Januari 2023
I am Now 35 YO!
Minggu, 22 Januari 2023
Menikah Bukanlah Akhir tapi Sebuah Awal Ujian yang Baru
Sabtu, 09 Juli 2022
Satu dari Sejuta
Rabu, 29 September 2021
Ketika Melepas adalah Keputusan yang Tepat
Sabtu, 21 Agustus 2021
Ketika bahkan Kutak dapat Bicara
Kamis, 01 Oktober 2020
When Money is the Most Reason
Selasa, 26 Mei 2020
Being Pregnant is Like...
Dear burogu~
Minggu ini mungkin aku telah memasuki fase baru gejala-gejala kehamilan. Kusebut fase baru karena berdasarkan pengalaman menjalani kehamilan selama sekitar 3 bulan ini setiap minggunya aku mengalami gejala yang berbeda-beda. Gejala normal masih tetap sama, muntah. Di fase baru ini, aku mempunyai keinginan makan yang sangat besar, ingin makan apa saja dengan jumlah yang banyak, minum apa saja, tapi kondisi pencernaan masih belum bisa diajak kompromi. Sebelumnya aku hanya mengalami muntah sebanyak 1-2 kali sehari, sekarang aku mengalami muntah berkali-kali.
Karena kondisi terus seperti ini aku terus menahan diri untuk minum obat. Aku khawatir akan memuntahkan obat yang kuminum. Ya maklumlah, harga obatnya tidak bisa dibilang murah, sejauh ini, baru semenjak hamillah aku mengetahui ada obat yang harganya bisa mencapai 500K satu pel-pel isi 7 butir. Mungkin yang disebut dengan kesiapan kehamilan itu ada di pendanaannya kali ya, haha. Belum biaya USG setiap bulan.
Menjadi wanita hamil itu bukanlah hal yang mudah. Membuat kehamilan itu sendiri juga bukan hal yang mudah. Banyak hal yang harus diperhitungkan. Begitu hamil, lebih banyak hal yang tidak mudah harus dijalani, dihadapi dan dilewati tanpa boleh merasa stres. Ibu hamil tidak boleh stres. Tapi, untuk tidak stres itu adalah yang tersulit. Bagaimana mungkin tidak stres? Mengalami morning sickness hampir sepanjang hari, susah makan, susah minum, susah BAB, susah kentut, susah bersendawa, perut begah, kadang dibarengi dengan sakit kepala dan nyeri di sekitar perut, di saat tertentu mengalami asam lambung naik sampai rasa terbakar di jantung, beberapa lama juga sempat mengalami hipersalivasi dan gangguan genital.
Bagaimana bisa kujalani kehamilan dengan menyenangkan?
Setiap hari rasanya ingin menangis. Makan ini itu muntah. Yang paling banyak memicu muntah adalah setelah minum. Sekarang sudah tidak bisa lagi minum segelas air. Paling tidak harus seteguk atau dua teguk. Lebih dari itu muntah. Efeknya, mengalami dehidrasi, air kencing pekat, dan BAB menjadi makin sulit. Pemicu muntah yang lainnya adalah gosok gigi. Hampir setiap kali selesai menggosok gigi aku muntah.
Tapi, aku masih bersyukur suami selalu mensupport. Selalu siap menyediakan air panas di termos kalau-kalau aku muntah, karena gak bisa minum air dingin. Selalu siap juga membelikan apapun yang ingin kumakan. Meskipun sebagian besar makanan tersebut berakhir kumuntahkan.
Disamping semua kesulitan dalam menjalani kehamilan ini, aku masih bersyukur bisa hamil. Semoga kondisi kehamilan ini segera membaik dan aku bisa menjalani kehamilan dengan menyenangkan sampai waktu kelahirannya nanti.
Senin, 11 Mei 2020
Apa Yang Sebenarnya
Dear burogu~
Akhir-akhir ini aku mendapati status whatsapp temanku terkesan frustrasi dan dipenuhi kata-kata kasar.
Sambil menulis blog ini, aku mendengarkan lagu Peterpan "Bintang di Surga" dari kejauhan, entah siapa yang memutarnya.
Aku bisa paham kalau seandainya si empunya status itu anak abege yang notabene masih harus banyak belajar tentang kehidupan. Bukan berarti aku sendiri sudah belajar banyak. Paling tidak belajar dari pengalaman. Pengalaman diri sendiri dan pengalaman orang lain. Banyak menginstrospeksi diri dan sadar akan diri sendiri.
Temanku yang lebih tua setahun dariku itu, kupikir setelah menikah dan memiliki anak akan mulai menikmati kehidupan yang bahagia. Tapi, nyatanya setahun belakangan aku mulai sering mendapati statusnya dengan kata-kata kasar.
Mungkin dia tidak puas dengan kehidupannya.
Kenapa seseorang bisa sedemikian rupa? Masalahnya aku juga mendapati teman sealumni SMA ku juga seperti itu. Hanya saja kasusnya berbeda. Anak itu selalu merasa dikritik orang lalu berkoar di status Facebook nya tentang bagaimana seharusnya orang lain tidak mencampuri urusannya.
Ok, setiap orang memilih cara yang berbeda untuk menyelesaikan masalah. Tapi, bagaimana jika dengan cara yang dipilihpun masalah tidak pernah selesai?
Aku dulu pernah melakukan hal yang sama. Ketidakpuasan kan kehidupan, akan orang lain, akan suatu keadaan, hubungan, segala hal aku tuangkan di sosial media. Alhasil, tidak ada satupun masalah yang terselesaikan, yang ada justru menambah masalah baru. Ada yang merasa tersinggung, ada yang mengompori, ada yang merasa senasib, ada juga yang menasihati. Tapi, tidak menimbulkan rasa puas di dalam hati.
Sampai suatu ketika, aku hanya merasa lelah dengan semua itu. Kumulai menata kehidupan, mencari-cari yang positif darinya lalu menyadari bahwa selama ini aku memilih cara yang salah.
Aku tidak suka ada orang yang tersinggung atas apa yang kubagikan, aku tidak mau dikompori, tidak mau juga ada yang merasa senasib apalagi dinasihati. Daripada ribut di sosial media lebih baik berbicara langsung kepada siapa yang menyebabkan ketidakpuasan hidup itu. Kalau tidak cukup berani maka kuburlah, pendamlah, simpanlah, dan hilangkanlah, anggaplah tak ada.
Ketika itulah aku menyadari, saat kuanggap suatu masalah bukanlah sebagai masalah ternyata masalah tersebut menjadi tidak ada. Aku cukup puas dengan cara itu. Dan lagi, aku mulai memiliki cukup keberanian untuk berbicara langsung kepada siapapun yang terlibat masalah denganku. Daripada ribut di sosial media.
Kupikir kita hanya perlu mengetahui satu hal saja. Apa yang sebenarnya kita inginkan?
Karena inti dari ketidakpuasan terhadap hidup kita pasti disebabkan oleh keinginan yang tidak sejalan dengan kenyataan.
Senin, 23 Maret 2020
Dua Garis Merah
Dear burogu~
Di tengah-tengah merebaknya virus corona alias Covid-19, aku mendapat kabar gembira. Akhirnya dua garis merah itu muncul. Setelah beberapa bulan menikah, akhirnya aku hamil. Senang memang senang tetapi dampak dari kehamilan ini benar-benar tidak bisa dihindari. Morning sickness yg nyatanya berlangsung sepanjang hari, nafsu makan berkurang akibat terus mual dan bahkan muntah-muntah. Menjadi pemilih terhadap makanan, alhasil menjadi boros.
Sudah hampir seminggu symptoms ini kurasakan dan kujalani dengan dukungan suami yang sangat sabar. Kadang kasihan juga melihatnya melakukan pekerjaan rumah tangga yang biasa kulakukan, terlebih lagi dia pun sedang sakit.
Efek dari kehamilan ini benar-benar tak diharapkan. Namun, karena ini bawaan maka harus dihadapi dan dijalani apa adanya, sebisanya sampai semua gejala ini mereda.
Karena belum di USG, aku belum tahu pasti berapa usia kehamilanku. Menurut aplikasi Flo yang kugunakan sejak lama, usia kehamilanku sdh mencapai 8 minggu. Sangat tidak disangka.
Meskipun berat, semua ini harus dijalani dan harus bisa dilewati dengan baik. Semoga bayiku tumbuh menjadi bayi yang sehat.
Kamis, 02 Januari 2020
Halo Januari 2020
Dear burogu~
Tahun 2019 menjadi tahun yang jarang sekali update postingan. Tahun yang sibuk.
Awal tahun seperti biasa dimulai dengan semester baru, menjelang akhir triwulan pertama aku mendapat pacar, awal triwulan ketiga aku mendapat panggilan PPG, akhir triwulan ketiga lulus PPG daring dan memulai PPG tatap muka, pertengahan triwulan ke empat aku mengikuti ujian PPG dibarengi dengan persiapan pernikahan, kemudian di bulan terakhir triwulan ke empat aku dinyatakan lulus.
Tahun 2019 kuakhiri dengan memperoleh seorang suami. Orang yang kupacari dari bulan Maret itu kini resmi menjadi suamiku.
Tahun 2019 kujalani dengan cukup santai. Sesekali diselingi dengan kesedihan, tangis, tawa, resah, gembira, semua dapat kulewati.
Dan kini di awal tahun 2020 aku dan suamiku mengawali hidup yang baru bersama. Cita-citaku di tahun 2020 yang pertama hamil. Kemudian kalau bisa aku ingin melahirkan anakku pada tanggal 10-10-2020. Semoga terkabul.
Halo Januari 2020, bulan kelahiranku. Be kind to me. Welcome 2020.
Jumat, 27 Desember 2019
Today, I'm Getting Married
Dear burogu~
Sudah ada sekitar dua bulan dari sejak orang tua Yudistiraku membahas perihal pernikahan. Sangat tidak disangka dan tidak diduga, hari ini hari baik itu telah tiba. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, aku memiliki keraguan tiap kali ada yang mengajak membahas pernikahan, kali ini tidak ada keraguan. Aku merasa cukup yakin untuk menikahi dan dinikahi olehnya.
Untuk pertama kalinya aku merasa mantap untuk menikah.
Kami menjalani berbagai prosesi, bersama keluarga kecil, kemudian keluarga besar. Selanjutnya melakukan sesi foto prewedding sebanyak dua kali.
Kemarin kami sudah mengadakan resepsi di rumahku, hari ini adalah harinya, dan besok resepsi di rumahnya. Semua proses ini harus dijalani.
Selasa, 28 Mei 2019
It Ends just Like That
Dear Burogu,
Yudistira ingin putus.
Aku hanya bisa mengiyakannya.
Ini salahku.
Pada akhirnya, betapa pun besar rasa cinta terhadap seseorang itu tidak cukup untuk mendamaikan.
Seperti yang kubilang sebelumnya, kalau tidak menjalani mana bisa tahu akan bagaimana jadinya. Hubungan ini rapuh sejak awal. Fondasinya tidak kuat. Orang-orang mungkin bisa melihat itu, hanya aku yang menganggap "kali ini aku bisa".
Hito ga Kowai Desu ne
Dear burogu,
I think, it's happen again. The feeling of not being accepted by someone.
People really is scary.
I want to go back to my shelf.
I want to build an higher wall.
I think, being alone is the best thing for me.
I can't take this never ending loop anymore. I've had enough. When I want to try again, it back to the loop again.
Minggu, 26 Mei 2019
Kapan Sebenarnya Aku Akan Menikah, Ya Tuhan?
Udah itu aja.
Pertanyaan yang sampai saat ini tidak terjawab. Banyak PHPnya.
Bukan berarti aku desperate sekali ingin menikah.
Ya taulah...menikah itu impian setiap wanita.
Aku sudah putus asa.
Aku hanya berharap kali ini bukan PHP.
Dan bukan sekedar harapan.
Nyatakanlah, Ya Tuhan.
Bahagiakanlah, Ya Tuhan.
Baru kali ini berdoa semacam ini. Lol.
Kamis, 23 Mei 2019
Curahan Hati
Dear burogu,
Beberapa hari belakangan ini aku bermimpi buruk. Mulai tentang zombie, sampai pada mimpi berada di thailand dan terpisah dari rombongan.
Mimpi yang terakhir ini yang paling tidak mengenakkan. Terpisah dari rombongan di Thailand karena kesalahan sendiri mengambil sandal dan akhirnya ditinggal. Yang tidak mengenakkannya saat mencari sandal tak ada sandal "yang beres" yang bisa kupakai. Sandal yang pertama berwarna biru ukurannya tidak sama, satunya baru satunya sdh usang, sandal yang kedua aku lupa problemanya apa, apa tidak ketemu pasangannya ya? Sandal selanjutnya beda pasangan dan ada rusaknya seingatku. Akhirnya pilihan jatuh di sandal pertama karena sdh panik akan ditinggal.
Tapi toh aku tetap ditinggal.
Saat kembali ke tempat berkumpul sudah tidak ada siapa-siapa, tapi aku ingat tujuan rombongan berikutnya ke sebuah tempat wisata, hanya saja aku tidak yakin nama tempat itu ada atau tidak. Pada saat diskusi tempat kunjungan aku memilih tempat itu. "Nusatapa". Seingatku.
Ditunggal oleh rombongan aku menyusul sendirian, bertanya ke seorang siswa Thailand dengan menggunakan bahasa inggris. Anak itu memberitahuku arah Nusatapa. Aku berjalan di jalan yang berlumpur sangat dalam, sangat berlumpur. Sulit berjalan tapi aku bisa mencapai ke sebuah tempat yang aku tak yakin apakah tempat itu bernama Nusatapa atau bukan. Tapi, aku tidak bisa bertemu dengan rombonganku. Dan selesai.
Aku menganggapnya mimpi buruk.
Beberapa hari ini aku memang sedang kepikiran sesuatu tentang hubunganku dan Yudistira, pacarku yang lebih muda 6 tahun dariku. Sebut saja dia Yudis.
Dari teman-temanku aku mendengar obrolan mereka dengan kakaknya Yudis yang mengatakan bahwa kakaknya belum siap apabila Yudis menikah secepatnya. Bagi kakaknya Yudis masih kecil.
Aku maunya tidak kepikiran tapi semakin didengarkan semakin aku kepikiran. Aku tidak pernah mendesak Yudis untuk segera menikahiku. Tapi, mungkin orang-orang melihatku dan dia dengan cara yang berbeda.
Ditambah lagi tadi pagi, bapaknya Yudis berkata, "pelan-pelan, pelan-pelan tapi pasti" saat aku menjemputnya untuk berangkat kerja bersama. Entah kenapa rasanya ada makna tersirat dalam kalimat itu. Bukan tentang berangkat kerjanya tapi tentang hubunganku dan Yudis. Maksudnya pelan-pelan menjalani hubungan, jangan buru-buru untuk menikah. Pelan-pelan tapi pasti.
Aku hanya berpikir, seandainya aku seusia dengan Yudis aku pasti tidak akan tersinggung mendengar kalimat itu. Mungkin juga aku tak paham. Tapi, inilah aku. Aku yang berusia 31 tahun yang lebih tua 6 tahun dari Yudis. Rasanya seperti aku akan merebut anak usia TK dari orang tuanya.
Mungkin salahku juga. Di mata orang-orang aku mungkin telah melewati batas-batas wajar hubungan pacaran. Apa aku yang tidak bisa menjaga diri dari pandangan buruk orang lain. Mungkin perlu juga menjaga jarak.
Dua bulan yang lalu, saat memulai hubungan ini, apa ya yang ada di dalam kepalaku? Dengan mudahnya aku mengiyakan untuk pacaran dengannya. Tapi kalau saat itu aku tidak mengiyakan dan tidak berpacaran dengannya aku tidak akan tahu problematikanya.
Sebenarnya aku sudah lama juga berpikir kalau ini semua salah. Tapi, aku berusaha membenarkannya hanya karena kupikir "kapan lagi aku bisa berada dalam sebuah hubungan dimana aku mencintai seseorang dan merasa dicintai juga?"
Awalnya juga kupikir tak kan lama sampai Yudis sadar dia bisa mendapatkan yang lebih baik, yang lebih muda, yang lebih cantik.
Kalau itu terjadi, aku tidak tahu harus bagaimana.
Minggu, 21 April 2019
I am just a Little Lonely
Dear burogu~
Ohisashiburi da na~
Hari ini adalah minggu ke-4 aku pacaran dengan Yudistira, pria yang lebih muda hampir 6 tahun dariku.
Pacaran dengannya bukan tanpa kecemasan. Tiap hari kupikir dia mungkin akan berubah pikiran, atau akan menemukan seseorang yang mungkin dia rasakan lebih cocok dengan dirinya. Atau mungkin dia akan menemukan hal-hal yang tidak bisa dia terima dariku. Atau mungkin yang lainnya.
Aku merasa inferior. Insecure. Tapi, selalu berusaha untuk tidak merasa seperti itu. Apa stok kebahagiaanku telah habis? Aku mulai menjadi sensitif dan merasa tidak berharga. Sebentar lagi mungkin aku akan membangun tembok lagi. Aku benci diriku yang seperti ini.
Kenapa aku tidak bisa menjadi pribadi yang lebih ceria dan lebih optimis, lebih positif tanpa pikiran-pikiran negatif? Kenapa?
Kalau aku harus mengatakan dengan jujur kepribadian yang terpendam ini, apa itu tidak akan membuat dia merasa aku mengerikan? Aku tidak bisa mengatakan betapa sedih rasanya hatiku. Apa ini? Sebegitu besar harapanku padanya sampai aku sesedih ini?
Apa semuanya hanya sedangkal ini?
Minggu, 07 April 2019
Yudistira Punyaku
Dear Burogu~
Hari ini tepat 2 minggu aku berpacaran dengan Yudistira.
Pemuda 25 tahun itu secepat kilat mampu mencuri perhatianku. Dia mencuri hatiku. Aku merasakan sesuatu yang berbeda. Pada awalnya semua terasa menakutkan, saat mulai menemukan kecocokan dalam obrolan kami, saat aku mulai merasa tak sabar menunggu balasan text darinya, saat aku merasa berdebar-debar setiap kali chatting dengannya, saat aku merasakan kenyamanan dengannya.
Aku tidak pernah lupa menasihati diriku sendiri.
Aku dan dia terpaut usia yang cukup jauh. Bisa dibayangkan, saat aku mulai masuk Taman Kanak-Kanak, dia baru saja lahir. Saat aku menamatkan D2-ku, dia baru saja masuk SMA. Di tahun 2019 ini aku mencapai umur 31 tahun, dia baru saja menginjak 25 tahun. Tapi, tak pernah ada keraguan pada dirinya untuk memilihku.
Dalam text-nya dia mengatakan, I don't like rushing thing, but you should've known from the moment some random guy texting you all day, he's interested in you.
Aku juga tidak suka terburu-buru, tapi pagi dini hari itu aku berasa tidak sabar. Seperti hari-hari sebelumnya, berbalas text dengannya membuat darah di sekujur tubuhku mengalir lebih cepat, membuat jantung bekerja ekstra, menimbulkan perasaan hangat pada setiap detak jantungku. Aku tersenyum dalam kengerian akan rasa mendebarkan itu.
Tidak, tidak mungkin. Arienai! Iya muri. Muri muri muri, dame dame dame!
Berhari-hari sebelumnya aku meneriakkan kata-kata penyangkalan itu dalam hatiku. Aku bahkan mencari pembenaran untuk menyangkalnya dengan menanyai teman-teman di komunitasku namun gagal total. Aku justru mendapati kemungkinan dalam setiap penyangkalan. Kenapa aku menyangkalnya? Untuk apa? Kenapa menyangkal rasa nyaman itu. Setiap senyum yg mengulum tanpa dikomando itu, perasaan tidak sabar itu, semua menjadi semakin terasa menakutkan.
Sambil bercanda kujawab, I keep smiling all day because of that some random guy texting me.
Dia pun mengatakan "suka" dalam bahasa jepang. Kutanya "kenapa?" Dan dia menjawab dengan pertanyaan. "Do we need excuse to love someone?"
Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasakan kejujuran dalam setiap kata-katanya. Tidak ada pemanis. Dia mengatakan apa yang ada dalam pikirannya dengan polos.
Itu salah satu hal yang kusuka darinya. Selain itu, ada juga hal lain yang aku sendiri tidak paham kenapa hatiku memilihnya. Seperti sebuah keajaiban. Aku dan dia seperti sedang saling menemukan.
Kamu yang bernama Yudistira. Kamu sekarang punyaku.