Jumat, 18 Januari 2019

I Think I Need to Check My Head Up

Dear Burogu~

Beberapa waktu belakangan ini aku terus berpikir untuk memeriksakan diriku ke psikolog.

Sudah lama aku merasa ada yang tidak beres dengan kondisi mentalku. Aku sakit. Sakit mental. Trauma secara mental.

Meskipun menyadari ada yang sedang korslet di kepalaku, aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa. Aku keras kepala dan sering memaksakan diri menghindari hal-hal yang membuatku kesakitan atau hal-hal yang melukai harga diriku, jadinya kupikir meskipun aku tahu cara untuk merehabilitasi diriku aku akan sulit melakukannya.

Sebenarnya, aku hanyalah orang yang butuh perhatian. Perhatian dalam artian ada orang yang berusaha memahami apa sebenarnya kesakitan yang kurasakan. Tapi, pada akhirnya aku bertemu dengan orang-orang bertipe sama sepertiku yang juga membutuhkan perhatian, hanya saja caranya berbeda.

Karena tak ada orang yang tampak peduli padaku, makanya aku sulit peduli pada orang lain. Orang menjadi mudah mengatakan aku orang yang egois. Pertanyaan yang muncul dibenakku, "Aku bisa apa?, Apa tujuanmu mengatakan aku egois?"

Aku hanya berpikir, apa tidak cukup hanya dengan menyadarinya saja, kemudian kalau memang merasa tidak cocok tinggalkan saja aku? Sesimpel itu cara berpikirku.

Kalau mau aku ya terima aku dengan segala keburukan yang kumiliki, bear with it! Kalau tidak bisa menerima itu ya tinggalkan saja. Well, aku hanya tidak paham tujuan seseorang mengatakan keburukan orang lain.

You want me to change? As if! If I change, it's not ME anymore, right? Then, the one you want is someone else.

Itu dia. Cara berpikirku terlalu jauh berbeda dengan orang-orang di sekitarku. Sebagai contoh saat aku single, beberapa orang akan mulai memperkenalkanku dengan seseorang. Aku yakin dalam benak mereka seperti ini: kamu single dia juga single jadi gak ada salahnya pendekatan atau siapa tahu jodoh.

Don't make me laugh!

Penyakit mental saya letaknya disitu saudara-saudara. Di hubungan.

Aku tak mudah menjalin hubungan. Tak mudah mempercayakan diriku pada seseorang. Tak mudah mempercayai orang lain. Dan bahkan aku sendiri tak dapat dipercaya.

Di drama-drama aku sering sekali mendengar kalimat: Orang yang tidak bisa mempercayai orang lain adalah orang yang tidak bisa dipercaya.

Penulis naskah drama benar-benar tidak main-main dengan tulisannya. Bunyi kalimat itu 90% akurat menurutku. 10% nya hanya keyakinan bahwa pasti ada orang yang meskipun tidak percaya orang lain namun orangnya dapat dipercaya.

Aku termasuk di 90% itu.

Makanya kubilang aku sakit. Mentalku sebenarnya rusak. Tapi, aku pandai menyembunyikannya. Dalam diriku juga ada bibit psikopat. Kalau saja aku tumbuh di lingkungan yang mendukung kriminal laten, aku mungkin jadi salah satunya. Atau mungkin akulah otaknya.

Tapi mungkin juga aku hanyalah si manusia biasa yang lemah.

Kamis, 20 Desember 2018

I want to get Married to a Perfect Husband

Hal yang paling mengerikan yang pernah terjadi padaku adalah ketika aku mulai memiliki harapan terhadap orang lain.

Saat harapan itu ada meskipun hanya sedikit, besar kemungkinan menimbulkan luka yang sangat besar bagiku saat "orang lain" itu tidak mampu memenuhi harapan.

Mungkin seharusnya aku menemukan seseorang yang memahami kerapuhan dan kelemahanku, bukan yang mengetahui kekuatanku. Kebanyakan orang tahunya aku kuat, aku mampu, kebanyakan tak melihat betapa besar usahaku untuk bertahan. Memang sih lebih banyak untuk menjaga harga diri.

Tapi, mungkin memang kelihatannya seperti itu ya.. diriku yang selalu tampak kuat.

Beberapa hari yang lalu tiba-tiba saja terlintas dalam benak, "biasanya apa ya yang kulakukan setiap hari, kenapa akhir-akhir ini aku merasa bosan?" Ketika pikiran itu muncul tandanya aku memiliki harapan pada seseorang tapi orang itu tidak sesuai harapan.

Beberapa waktu lalu aku bertemu dengan orang yang diperkenalkan oleh temanku. Dulu saat dikenalkan aku merasa dia tidak potensial, tapi ketika bertemu kenapa rasanya dia menjadi potensial? Hati ini benar-benar sulit ditebak. Jadi, mulailah strategi untuk mendekat padanya, berharap dia membalas dengan senang hati. Tapi, mungkin itu salahku juga karena dulu mengabaikannya, wajar saja bila sekarang aku diabaikan juga secara perlahan.

Dan aku melarikan diri dari rasa kecewa itu.

Apkah aku pernah bercerita tentang pemuda yang dua tahun lebih muda dariku yang ingin mempersuntingku sekitar bulan November lalu?
Kemarin aku bertemu dia.
Ya...dari semua orang kenapa aku bertemu dia di tempat yang sudah jarang kukunjungi pula.
Dilihat dari dekat meskipun cuma sejenak, aku menyadari warna kulitnya yang bersih, cara berpakaiannya yang rapi, wajahnya yang tampan, senyumnya yang ramah meski canggung. Sejujurnya, aku menyukainya. Tapi, dilihat dari segi yang lain, pendidikan cuma sampai SMP, pekerjaan buruh, dan ekonomi keluarga agak kurang, aku menolaknya hadir dalam hidupku.

Rasa kecewaku teralihkan karenanya.

Kalau saja aku pria dan dia wanita, mungkin aku mau saja mempersunting dia. Haha

Hidupku sepertinya belum cukup rumit sehingga perlu ditambahkan banyak bumbu penyedap, yang terang-terangan kutolak.

Aku tak harus menambah kerumitannya lagi dengan drama. Misalnya seperti saat ini, tiba-tiba saja timbul keinginan untuk menawarinya ajakan keluar "temani aku makan, aku yang traktir." Atau "temani aku belanja". Atau mungkin yang lain, meskipun hanya sebagai teman.  Seandainya aku pria.

Jelas-jelas sebenarnya aku menyukainya, dari dulu malah, tapi terlalu banyak pertimbangan. Logikaku kadang-kadang terlalu keras kepala.

Kadang aku berandai-andai, kalau saja dia berpendidikan lebih tinggi, minimal D1 laahh, kalau memungkinkan sih Sarjana, pekerjaannya kurang lebih setingkat, paling tidak bekerja kantoran atau semacamnya, dan coba keluarganya lebih mampu sedikit lagi. Mungkin seleranya bukan aku lagi. Haha.

Apakah Tuhan sedang mengujiku? Benar-benar ujian yang tidak lucu.

Padahal sejak berhasil move on dari kegalauan karena sudah menolak si pemuda berondong itu aku terus berdelusi tentang pria impianku.

Dalam delusiku semua terasa indah. Aku bertemu dengannya di dalam pesawat menuju Singapura, seorang pengusaha yang wara wiri keluar negeri, menawarkan dirinya sebagai pemandu wisata secara gratis, lalu sekembalinya ke Bali masih tetap mempertahankan komunikasi dan akhirnya mengakui ketertarikan masing-masing. Dia akhirnya melamarku, lalu mau tinggal dan menetap di daerah dekat tempat kerjaku.

Selama berdelusi aku memikirkan, bila aku bertemu dengannya, masalah macam apa yang akan dan seharusnya kami hadapi. Aku tidak mau memikirkan masalah tentang adanya orang ketiga. Tidak mungkin. Masalah dengan orang tua? Juga tidak. Aku juga yakin bahwa masalah yang memungkinkan untuk kami hadapi tidak berasal dari internal diri kami sendiri. Aku masih nemikirkannya.

Delusi ini sebenarnya memberiku inspirasi untuk menulis "I'm Married a Perfect Husband".

Akankah perfect husband itu ada dalam hidupku?
Kalau aku berdoa terus, apakah Tuhan mau mengabulkan doaku?

Jumat, 23 November 2018

Apakah ini Satu Dari Sekian Ujian Hidup yang Harus Bisa Kulewati?

Sejak dulu aku selalu berpikir mengenai calon pasangan hidup, mengapa selalu orang-orang dengan tipe yang sama yang datang kepadaku?

Kenapa oh kenapa?

Tipe yang berasal dari keluarga yang ekonominya "agak kekurangan" atau "menengah ke bawah" atau "pas-pasan ke bawah". Kualitasnya pun secara acak mengalami penurunan dari segi pendidikan dan kemampuan intelektual.

Sebenarnya aku mempercayai bahwa orang yang kubutuhkan adalah orang yang berpendidikan (inginnya yang pendidikannya lebih tinggi dariku), punya pekerjaan (yang gajinya lebih besar dariku), maunya kemampuan ekonomi keluarganya cukup baik supaya aku tidak direpotkan masalah uang dan supaya aku bisa menabung untuk liburan ke luar negeri.

Kalau berbicara tentang cinta orang pasti tidak memikirkan hal-hal semacam itu. Tapi, kenapa aku selalu berpikir ke arah itu? Itu membuatku buta akan ketulusan orang lain. Aku tidak mau hidup susah atau disusahkan. Aku juga tidak berniat memulai sebuah hubungan dengan perjuangan ekonomi dari nol. Kalau dipikir,
apa umurku tidak terlalu tua untuk itu? Kapan aku akan bisa membangun rumah impianku, kapan aku akan memiliki mobil, kapan aku bisa jalan-jalan dengan santai ke luar negeri?

Sudah pasti aku terkesan sangat sombong. Aku bahkan tidak memiliki wajah yang cantik untuk diperjuangkan orang untuk bisa diajak jalan-jalan keluar negeri, sifatku juga bahkan terlalu buruk untuk dibuatkan rumah impian, sikapku tidak cukup baik untuk difasilitasi dengan mobil. Tapi, masih saja aku bermimpi yang muluk-muluk tentang pasangan hidup yang mapan dengan keluarga yang tak merepotkan. Memangnya dengan itu saja aku akan merasa cukup? Aku tidak yakin. Karena aku harus mengorbankan seluruh hidupku bersama orang itu, aku hanya merasa perlu memiliki rasa cinta, paling tidak rasa sayang, apakah dengan itu saja bisa? Sejujurnya aku tidak merasa ada yang cukup berharga untuk kukorbankan seluruh hidupku demi dia.

Meskipun ini sangat sombong, aku merasa aku berhak untuk itu. Aku memiliki banyak mimpi dalam hidupku, aku tidak bisa mengorbankannya begitu saja. Aku juga merasa bukan untuk itu aku hidup.

Jadi, sepertinya aku bukanlah orang yang sederhana.

Kalau begini terus, aku bisa saja melewatkan jodohku begitu saja. Tapi, kalau jodohku orang yang berkekurangan ekonominya lebih baik aku tidak usah bertemu dengannya. Terlebih kalau dia tidak berpendidikan sepadan denganku lebih baik aku tidak bertemu dengannya. Juga, kalau dia tidak punya kemampuan intelektual yang sama denganku lebih baik juga tidak bertemu dengannya.  Karena hidupku akan terbebani olehnya. Aku tidak ingin hidup dengan penuh beban. Aku bahkan berharap agar tidak berumur terlalu panjang.

Kalau direnungkan, aku yakin sesuatu yang mendasari diriku dengan pemikiran ini pasti ada. Hanya saja, aku sendiri bertanya-tanya apa yang mendasarinya.

Ini hidupku, biarkan aku dengan hidup ini seperti apa yang kuinginkan. Kalau orang lain tidak bisa memberi aku tak harus meminta bukan?

Kalau orang-orang yang telah kutinggalkan pada akhirnya menjadi kaya dan hidup bahagia, bukan menjadi alasan aku untuk menyesal telah meninggalkan mereka. Justru aku merasa beruntung telah meninggalkan mereka, kalau bersamaku belum tentu mereka bisa seperti itu bukan? Aku yakin tidak ada yang kusesali.

Jadi, mau sampai kapan lingkaran semacam ini akan menghampiriku terus-terusan. Aku harus mengambil peran antagonis you know? Tuhan, ini tak adil. :(
Aku tak pernah jadi tokoh utama atau peran protagonis. :(
Tapi, peran antagonis sepertinya yang paling cocok denganku, baiklah, aku akan menerima itu.

Akan kuanggap ini ujian hidup.

Minggu, 28 Oktober 2018

Sesuatu yang Takkan Pernah Kumengerti

Dear blog,

Akhir-akhir ini aku terus kepikiran dengan sebuah pertanyaan yang sebenarnya bukan lagi pertanyaan asing.

"Mengapa belum menikah?"

Kali ini pertanyaan itu datang dari orang yang benar-benar asing, yang tak sengaja kutemui di depan rumah.

Sampai saat ini aku belum menemukan jawaban yang bisa menskak-mat semua penanya. Sebenarnya kalau mau bisa saja aku menjawab dengan sombong, "Saya tidak minta makan dari anda, hidup saya tidak dijamin oleh anda, anda tidak memiliki tanggung jawab apa-apa terhadap hidup saya, untuk apa anda repot-repot menanyakan tentang kehidupan pribadi saya?"

Tapi, mustahil menjawab seperti itu. Memangnya aku tidak berpendidikan? Ayolah, itu seperti aku tidak butuh orang lain dalam hidup ini.

Pada kenyataannya aku hanya bosa menjawab, "Ya karena belum saja". Haruskah aku menambahkan dengan basa basi seperti, "mungkin belum ketemu jodoh, carikan donk"

Sinting!

Hati saya ini hati manusia woi, pertanyaan anda saja sudah sukses membuat saya sakit hati.

Tapi yang sebenarnya aku lebih merasa "Ini nggak seperti anda akan mendatangkan pria tampan, tinggi, kaya raya dan baik hati untuk saya kan? Apa point-nya saya menjawab pertanyaan anda?"

Ya, lebih tepatnya seperti itu yang kurasakan.

Kalau aku harus mengatakan yang lebih jujur, aku tidak akan mengutarakannya pada setiap orang. Paling tidak sampai saat ini belum ada satu orang pun yang kupercayai bisa memahami esensi dari alasan kenapa sampai saat ini aku belum menikah. Bahkan tidak bagi yg sama-sama single di usia yang sama.

Sampai saat ini aku sulit membayangkan diriku menjadi istri seseorang.

Istri seseorang.

Sama sekali tidak bisa tergambarkan dalam benak ini. Sampai-sampai aku berpikir, kalau suatu hari nanti aku benar-benar menikah, menjadi istri seseorang, aku pasti bukanlah istri yang baik.

Aku juga tidak bisa membayangkan diriku menjadi menantu seseorang. Aaarrghh...menyebutkannya saja sudah membuatku mau merinding.

Tapi, meskipun begitu aku selalu membayangkan memiliki anak. Entah itu anak kandung atau anak adopsi. Oke, lebih ke anak adopsi. Setahun yang lalu, sewaktu aku masih menyukai Masa, aku selalu membayangkan memiliki seorang anak laki-laki blasteran jepang yang imut. Karena sesuatu dan lain hal aku harus membuang semua itu. Yang kemudian muncul dalam bayanganku adalah anak adopsi perempuan. Aku membayangkan diriku tidak menikah dan hanya mengadopsi anak perempuan.

Saat ini yang kupikirkan hanyalah "aku lahir bukan untuk hal-hal semacam percintaan, pernikahan, rumah tangga atau segala tetek bengeknya". Aku mungkin hanya tidak ingin menjalani hidupku untuk hal-hal rumit semacam itu. Aku hidup bukan untuk mendedikasikan hidupku demi seseorang dan keluarganya.  Aku sesekali ingin melakukan hal yang besar.

Sesekali aku ingin melakukan hal-hal yang membuat orang lain berdecak kagum menggumamkan "wow", sesekali aku ingin melakukan sesuatu yang baik dan berprestasi yang bisa diingat banyak orang, yah meskipun diriku hanyalah seorang aku.

Tapi, pada intinya aku hanya tidak ingin hidup ini meninggalkan penyesalan. Banyak hal yang ingin kulakukan tapi tidak bisa kulakukan. Banyak hal yang aku ingin agar terjadi tapi tidak bisa terjadi. Banyak hal juga yang terjadi bukan atas keinginanku. Tapi, sampai saat ini hanya sedikit yang mungkin kusesali. Aku cukup bersyukur dengan hal itu. Apapun yang telah terjadi semua memiliki semacam arti, tak ada yang sia-sia.

Pada titik dimana aku menyadari satu hal tentang diriku. Aku menjadi tidak bisa mengutarakannya dengan tegas. Aku bisa saja mengatakannya tapi tidak bisa membuat orang lain memahaminya.

Kembali pada topik mengapa sampai saat ini aku belum menikah.

Setiap kali dalam sebuah hubungan aku selalu merasakan suatu ketidaknyamanan. Seperti tanda-tanda pengekangan, tanda-tanda dari pacar seolah-olah aku "milik"nya padahal cuma pacar, tanda-tanda dari pacar seolah-olah dia memiliki hak atas hidupku, mulai mengatur aku harus begini aku harus begitu, boleh begini tidak boleh begitu, tanda-tanda ke"lebay"an berlebihan,....

....apa lagi ya?

Yang jelas rasa tidak nyaman itu muncul ketika aku merasa kebebasanku terancam, ketika ruang gerakku dibatasi, ketika pacar merasa dirinya telah dekat dengan keluargaku dan semacamnya.

Aneh.

Seharusnya untuk point terakhir aku merasa senang, tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Masalahnya yang paling kurasakan adalah dengan seseorang yang kupacari terakhir kali, sangat lebay. Membuatku merasa jijik seketika. Dan sampai saat ini orang itu kudiamkan saja.

Kadang aku berpikir, mau sampai kapan aku terus bertemu orang yang salah? Kenapa aku terus-terusan bertemu orang yang salah?

Di sisi lain ketika aku melihat orang lain merasa menderita dan terpuruk karena diriku, aku berpikir, mungkin bukan mereka orang yang salah tapi justru akulah orang yang salah bagi mereka.

I'm the wrong one.

Hey kamu 'orang yang tepat', kapan kamu berencana hadir dalam hidup saya? Kamu bukannya belum lahir kan? Hello.. umur saya sudah mau setengah abad...kamu dimana? Dengan siapa? Sekarang berbuat apa?

Yolanda~

Malah nyambung ke lagu alay itu, LOL

Oke, kita serius lagi.
Yang paling aku tidak suka dari kebanyakan orang yang pernah kutemui adalah ketika mereka berlaku sebagai "korban". Aku benci berurusan dengan orang semacam ini karena kalau pada hubungan pacaran, yang akhirnya berperan sebagai pelaku kejahatannya pasti aku. Kenapa orang senang sekali "play the victim"? Merasa yang paling menderita, yang paling banyak melakukan pengorbanan, yang baling sengsara, yang paling banyak dirugikan, dan blablabla~
Oohh ayolah...don't make me laugh!

Kalau elu play the victim maka gw pelakunya, dodol! Kurang ksatria apa coba gw mau ditempatkan di posisi tersangka! Dan gw gak melakukan pembelaan terhadap diri sendiri!

Calm down. Calm down.

Anjir emang.

Karena hal inilah sampai saat ini aku belum pernah merasa menyesal telah memutuskan hubungan dengan si ini maupun si itu. Malah aku bersyukur telah membebaskan diri dari orang-orang semacam itu. Ya, memang semua adalah proses yang harus disyukuri.

Sampai saat ini belum ada satu orang pun yang bisa mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi kebahagiaanku. Dari sudut pandangku.

Pernah suatu hari aku berkata begini pada pacarku (sekarang mantan), "aku merasa gak bahagia sama kamu".

Dalam benakku reaksi yang kuharapkan, "Kenapa kamu gak bahagia? Apa aku melakukan hal yang tidak kamu sukai?" Atau dengan skenario lain, "Aku ingin kamu bahagia, raihlah kebahagiaanmu. Mungkin memang bukan aku orangnya."

Klise. Tapi, belum pernah ada yang seperti itu. Saking klise-nya kali ya, LOL

Selama ini justru malah seperti ini, "Kenapa sih kamu selalu bilang begitu, aku kurang berkorban apa lagi coba? Aku udah berkorban banyak buat kamu, aku udah melakukan segalanya buat kamu!"

Okay.

Fix. Bagi anda saya tidak melakukan  pengorbanan apa-apa?

Sedih.
Ketika aku berpikir bahwa aku tidak seberharga segala pengorbanan seseorang.

Aku hanya berprinsip, pacaran itu masanya dimana dua orang mencoba untuk menyamakan langkah, menyamakan irama, mempersempit 'gap' dan hal-hal lainnya pada saat yang bersamaan dan apabila setelah berusaha pun tetap tidak bisa seiya-sekata, sejalan, seirama maka hubungan itu tidak harus dipaksakan untuk terus bertahan.

Kalau aku akan memilih untuk menyerah.

Apa hanya aku saja yang begitu?

Orang bilang kalau tidak merasa klik, maka buatlah rasa klik itu.

Kupikir, bijak banget orang ngomong seenak jidatnya, syukur banget mulut gak bayar pajak.

Seolah-olah aku tidak pernah berusaha.

Hey, saat hatiku meronta-ronta, menangis meraung-raung, bukan anda yang merasakannya. Bukan kata-kata bijak itu yang mampu meredamnya.

Saat jiwaku terkekang, tidak nyaman, menjerit-jerit minta dibebaskan, bukan anda yang stres. Bukan kata-kata bijak anda yang mampu menolongnya.

Aku hanyalah wanita dengan jiwa bebas. Seorang pemberontak.
Lebih suka mengikuti arus yang berbeda.
Kadang melawan arus.
Aku memiliki ukuran langkah yang berbeda dari kebanyakan orang.
Aku mempunyai sudut pandangku sendiri.
Aku tidak bilang bahwa aku mungkin melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Aku suka hidup dalam duniaku sendiri.
Aku tidak begitu suka ketika seseorang 'awam' mencoba masuk ke duniaku.
Aku lebih suka seseorang yang bisa memahami dan menghargai dunia masing-masing.

Hey kamu 'orang yang tepat', di dunia mana kamu berada sekarang?

Sabtu, 20 Oktober 2018

If I Could I Want to Turn Young back and Reset My Dream

Dear Blog,

Hari ini Sabtu, 20 Oktober 2018 aku telah menemukan mimpi baru yang mungkin tidak bisa kuwujudkan. Dari dalam kereta NEX menuju Narita, sebuah harapan muncul dari dalam diriku.

"Aku ingin kembali lagi ke tempat ini". "Kalau bisa aku ingin menghabiskan sisa hidupku disini, bekerja disini, menikahi orang disini, memiliki keluarga disini."

Apa itu mungkin? Di usia setua ini?

Tapi tak pernah ada kata putus asa untuk bermimpi.

Hari ini kami bisa dibilang telah menyelesaikan sebuah perjalanan yang cukup lama dan panjang. Meski begitu rasanya baru kemarin kami memulainya.
Besok kami akan kembali pulang ke rumah. Waktu benar-benar berlalu sangat cepat.

Sabtu, 13 Oktober 2018

Yume no Basho

Dear blog,

Finally, setelah menabung dua tahun, membuat planning, mempersiapkan segalanya, akhirnya hari ini kami tiba di tempat ini. Tempat yang kuimpi-impikan bertahun-tahun.
Begitu banyak proses yang telah kami jalani, mulai dari keluar masuk member, sampe masalah internal masing-masing. Sungguh inilah yang disebut perjalanan. Yokatta desu ne.
Arigatou Adit-san, arigatou Rendy-san, arigatou Hasma-chan. Let this journey begin!

Minggu, 07 Oktober 2018

Merangkak Bagai Bayi Tak Beribu

Dear Blog,

Selama seminggu ini banyak hal yang membebani pikiran dan tubuh ini. Masalah demi masalah datang bertubi-tubi, seperti rapelan. Apakah aku masih harus berpikir bahwa ini ujian?
Meskipun akar permasalahnnya adalah karena diri sendiri. Aku yang tidak becus, aku yang tak kompeten.
Aku mulai menyesali diri sendiri. Seharusnya aku memikirkannya lebih matang, seharusnya aku mendiskusikan segala masalah yang dihadapi dia masih kecil agar tidak menjadi besar seperti saat ini.
Aku sungguh berpikir ini salahku. Dan hanya aku yang tahu bagaimana mengatasinya. Meskipun hati diliputi kegelisahan, meskipun ada kalanya hati diliputi kepasrahan, ada juga harapan akan keajaiban.
Ya Tuhan, Aku tahu aku telah banyak membuat permohonan dalam hidupku, banyak doa yang telah kupanjatkan yang mungkin membuatMu bosan. Tapi aku selalu percaya bahwa aku masih bisa bertahan hidup di dunia ini semua berkat doa-doa itu dan kehendakMu.
Kali ini berilah jalan yang cukup terang, secukupnya agar aku tak tersandung, secukupnya agar aku tak terpeleset, secukupnya agar aku tidak terjatuh, secukupnya agar aku tak memberatkan perjalanan orang lain.
Berilah ketenangan jiwa dan raga ini. Berilah ketenangan pada kepala dengan otak di dalamnya yang tak berhenti berpikir.
Tolong jangan biarkan hambaMu ini merangkak bagai bayi tak beribu.