Minggu, 07 April 2019

Yudistira Punyaku

Dear Burogu~

Hari ini tepat 2 minggu aku berpacaran dengan Yudistira.

Pemuda 25 tahun itu secepat kilat mampu mencuri perhatianku. Dia mencuri hatiku. Aku merasakan sesuatu yang berbeda. Pada awalnya semua terasa menakutkan, saat mulai menemukan kecocokan dalam obrolan kami, saat aku mulai merasa tak sabar menunggu balasan text darinya, saat aku merasa berdebar-debar setiap kali chatting dengannya, saat aku merasakan kenyamanan dengannya.

Aku tidak pernah lupa menasihati diriku sendiri.

Aku dan dia terpaut usia yang cukup jauh. Bisa dibayangkan, saat aku mulai masuk Taman Kanak-Kanak, dia baru saja lahir. Saat aku menamatkan D2-ku, dia baru saja masuk SMA. Di tahun 2019 ini aku mencapai umur 31 tahun, dia baru saja menginjak 25 tahun. Tapi, tak pernah ada keraguan pada dirinya untuk memilihku.

Dalam text-nya dia mengatakan, I don't like rushing thing, but you should've known from the moment some random guy texting you all day, he's interested in you.

Aku juga tidak suka terburu-buru, tapi pagi dini hari itu aku berasa tidak sabar. Seperti hari-hari sebelumnya, berbalas text dengannya membuat darah di sekujur tubuhku mengalir lebih cepat, membuat jantung bekerja ekstra, menimbulkan perasaan hangat pada setiap detak jantungku. Aku tersenyum dalam kengerian akan rasa mendebarkan itu.

Tidak, tidak mungkin. Arienai! Iya muri. Muri muri muri, dame dame dame!

Berhari-hari sebelumnya aku meneriakkan kata-kata penyangkalan itu dalam hatiku. Aku bahkan mencari pembenaran untuk menyangkalnya dengan menanyai teman-teman di komunitasku namun gagal total. Aku justru mendapati kemungkinan dalam setiap penyangkalan. Kenapa aku menyangkalnya? Untuk apa? Kenapa menyangkal rasa nyaman itu. Setiap senyum yg mengulum tanpa dikomando itu, perasaan tidak sabar itu, semua menjadi semakin terasa menakutkan.

Sambil bercanda kujawab, I keep smiling all day because of that some random guy texting me.

Dia pun mengatakan "suka" dalam bahasa jepang. Kutanya "kenapa?" Dan dia menjawab dengan pertanyaan. "Do we need excuse to love someone?"

Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasakan kejujuran dalam setiap kata-katanya. Tidak ada pemanis. Dia mengatakan apa yang ada dalam pikirannya dengan polos.

Itu salah satu hal yang kusuka darinya. Selain itu, ada juga hal lain yang aku sendiri tidak paham kenapa hatiku memilihnya. Seperti sebuah keajaiban. Aku dan dia seperti sedang saling menemukan.

Kamu yang bernama Yudistira. Kamu sekarang punyaku.

Senin, 18 Maret 2019

Must be Nice Being so Young

Dear Burogu~

Lagi-lagi ada saja pembahasan masalah usia. Aku tentu menyadari usiaku bukan lagi muda. Orang bilang sudah saatnya berumah tangga. Dalam hati kubilang "aku masih punya banyak mimpi"

Tapi itu hanya alasan. Sebenarnya kalau saja aku bisa bersama seseorang yang benar-benar kucintai, aku bisa membuang semua mimpi. Seandainya bisa bersama dengan orang yang bisa membuatku merasa cukup asalkan "bersama dia" saja. Seandainya ada orang seperti itu dalam hidupku.

Masalahnya, aku terlalu tua untuk hal-hal yang muluk itu.

Hari ini aku masih bisa tersenyum menyembunyikan perasaan yang terluka saat orang mengatakan "Asal jangan sampai lewat umur 35, masih ideal untuk menikah". Memangnya aku harus ya dikatai seperti itu? Itu sama sekali tidak menghibur. Aku merasa seperti dijadikan objek.

Mungkin aku hanya memasukkannya ke dalam hati terlalu berlebihan. Seharusnya aku bisa santai saja.

Waktu aku masih muda, kupikir jalan masih panjang dan akan ada cukup waktu untuk memikirkan masa depan, terutama pernikahan. Tapi, begitu mendekati kelulusan aku justru menyadari masih banyak hal yang ingin kulakukan. Justru karena aku merasa cukup memahami diriku sendiri, aku tahu apa yang kumau dan kalau menikah aku akan sulit mendapatkannya.

Kalau harus menikah aku mau menikah dengan pria yang sudah mapan. Itu pikirku. Tapi, mapan saja ternyata tidak cukup. Pekerjaan yang baik, gaji yang memadai, ekonomi yang cukup ternyata bukan hal yang bisa memuaskan hatiku. "Personality orang itu cukup baik" pikirku, tapi tetap tidak membuatku merasa yakin untuk menikahi seseorang itu.

Kalau aku masih di usia awal 20an, tentu aku tidak akan memiliki pemikiran semacam ini. Kalau aku bertemu dengan diriku dari 10 tahun yang lalu apa ya pendapatnya tentang diriku saat ini? Andai aku tahu kalau di usia ini aku masih belum punya keyakinan untuk menikah, apa yang akan dilakukan diriku di 10 tahun yang lalu?

Aku yakin dia pasti sangat panik. LOL

Tak bisa kupungkiri, aku sendiri menganggap diriku terlalu tua untuk jatuh cinta. Ya tahulah, seumuranku bukan umur-umur musim semi. Lebih ke musim panas mendekati musim gugur mungkin ya. Rotten old hag.

Tapi aku tidak pernah menyesali masa mudaku. Aku memang telah melakukan banyak kesalahan, banyak hal yang telah kualami, banyak hal yang terjadi banyak pengalaman yang baik maupun yang buruk tapi tidak satupun kusesali. Kadang-kadang terpikirkan juga seandainya waktu muda aku melakukan satu kenakalan yang akhirnya memaksaku untuk menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga, aku memiliki keyakinan bahwa pernikahan itu tidak akan berjalan lancar dengan siapapun. Karena waktu aku muda aku sangat labil. Bukan berarti sekarang stabil sih.. haha

So, I was thinking about, what would the 10 years younger me think about the current me? Because the current me think "it must be nice to be so young" about her. 

Senin, 28 Januari 2019

This Feeling is Wrong

Dear Burogu,

Aku belum pernah berbagi tentang perasaan yang salah ini pada siapapun. Rasa yang salah ini bisa secepat kilat hilang seperti tak pernah ada, lebih tepatnya aku menahannya dan mengalihkannya.

Bukan karena "age gap" dimana dia seumuran dengan adikku, tapi karena dia adalah adik temanku.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan temanku jika tahu aku menyukai adiknya. Bila aku berada di posisinya apa yang kira-kira kurasakan? Apa dia akan menentangnya habis-habisan?

Memikirkannya saja sudah membuatku menyerah duluan.

Aku menyukainya sejak pertama bertemu.

Itu sekitar bulan juli di tahun 2010.

Dia seorang adik laki-laki yang selalu menempel pada kakaknya, aku berharap punya adik laki-laki yang seperti itu juga. Tapi, dengan kepribadianku dan kepribadian adikku itu tidak mungkin.

Saat pertama kali bertemu dengannya, dia masih hanyalah bocah. Masih calon mahasiswa tahun pertama. Sementara aku juga saat itu baru beberapa minggu mengenal kakaknya. Kalo dipikir-pikir rasanya lucu juga.

Saat itu aku tertarik pada wajahnya.

Tapi, sekali lagi, aku harus menahannya karena dia adik temanku.

Apakah harus seperti ini terus?

Setiap kali menyukai seseorang atau tertarik pada seseorang selalu saja ada "tapi"nya, kadang-kadang aku ingin melawannya.

Kalau aku berani melawan apakah di seberang sana juga akan sesuai harapan?

Masalah lagi.

Kalau aku mengungkapkan perasaan yang salah ini betapa malunya bila aku ditolak. Tidak tidak. Aku tidak sanggup menahan rasa malunya. Tak bisa memikirkan bagaimana cara menghadapinya. Terlalu beresiko.

Tapi, kalau ada jalan, aku ingin melawan dunia sekalipun.

Selasa, 22 Januari 2019

Your Birthday

Dear burogu~

Hari ini tanggal 22 Januari 2019, 32 tahun yang lalu kamu lahir. Seandainya kamu masih hidup kira-kira seperti apa kamu di umur ini?

Besok adalah ulang tahunku yang ke 31. Ini akan selalu mengingatkan bahwa pernah ada seseorang yang usianya lebih tua setahun satu hari dariku.

Kamu yang di akhir Desember 2004 membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama.

Jika waktu itu kita tidak bertemu, entah seperti apa jadinya aku sekarang. Seperti apa hidup yang akan kujalani? Tak kan ada penyesalan ini.

Dear kamu yang hari ini seharusnya merayakan ulang tahun ke 32. Bisakah kita bertemu lagi? Kapan pun, dimana pun. Aku ingin bertemu. 

Jumat, 18 Januari 2019

I Think I Need to Check My Head Up

Dear Burogu~

Beberapa waktu belakangan ini aku terus berpikir untuk memeriksakan diriku ke psikolog.

Sudah lama aku merasa ada yang tidak beres dengan kondisi mentalku. Aku sakit. Sakit mental. Trauma secara mental.

Meskipun menyadari ada yang sedang korslet di kepalaku, aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa. Aku keras kepala dan sering memaksakan diri menghindari hal-hal yang membuatku kesakitan atau hal-hal yang melukai harga diriku, jadinya kupikir meskipun aku tahu cara untuk merehabilitasi diriku aku akan sulit melakukannya.

Sebenarnya, aku hanyalah orang yang butuh perhatian. Perhatian dalam artian ada orang yang berusaha memahami apa sebenarnya kesakitan yang kurasakan. Tapi, pada akhirnya aku bertemu dengan orang-orang bertipe sama sepertiku yang juga membutuhkan perhatian, hanya saja caranya berbeda.

Karena tak ada orang yang tampak peduli padaku, makanya aku sulit peduli pada orang lain. Orang menjadi mudah mengatakan aku orang yang egois. Pertanyaan yang muncul dibenakku, "Aku bisa apa?, Apa tujuanmu mengatakan aku egois?"

Aku hanya berpikir, apa tidak cukup hanya dengan menyadarinya saja, kemudian kalau memang merasa tidak cocok tinggalkan saja aku? Sesimpel itu cara berpikirku.

Kalau mau aku ya terima aku dengan segala keburukan yang kumiliki, bear with it! Kalau tidak bisa menerima itu ya tinggalkan saja. Well, aku hanya tidak paham tujuan seseorang mengatakan keburukan orang lain.

You want me to change? As if! If I change, it's not ME anymore, right? Then, the one you want is someone else.

Itu dia. Cara berpikirku terlalu jauh berbeda dengan orang-orang di sekitarku. Sebagai contoh saat aku single, beberapa orang akan mulai memperkenalkanku dengan seseorang. Aku yakin dalam benak mereka seperti ini: kamu single dia juga single jadi gak ada salahnya pendekatan atau siapa tahu jodoh.

Don't make me laugh!

Penyakit mental saya letaknya disitu saudara-saudara. Di hubungan.

Aku tak mudah menjalin hubungan. Tak mudah mempercayakan diriku pada seseorang. Tak mudah mempercayai orang lain. Dan bahkan aku sendiri tak dapat dipercaya.

Di drama-drama aku sering sekali mendengar kalimat: Orang yang tidak bisa mempercayai orang lain adalah orang yang tidak bisa dipercaya.

Penulis naskah drama benar-benar tidak main-main dengan tulisannya. Bunyi kalimat itu 90% akurat menurutku. 10% nya hanya keyakinan bahwa pasti ada orang yang meskipun tidak percaya orang lain namun orangnya dapat dipercaya.

Aku termasuk di 90% itu.

Makanya kubilang aku sakit. Mentalku sebenarnya rusak. Tapi, aku pandai menyembunyikannya. Dalam diriku juga ada bibit psikopat. Kalau saja aku tumbuh di lingkungan yang mendukung kriminal laten, aku mungkin jadi salah satunya. Atau mungkin akulah otaknya.

Tapi mungkin juga aku hanyalah si manusia biasa yang lemah.

Kamis, 20 Desember 2018

I want to get Married to a Perfect Husband

Hal yang paling mengerikan yang pernah terjadi padaku adalah ketika aku mulai memiliki harapan terhadap orang lain.

Saat harapan itu ada meskipun hanya sedikit, besar kemungkinan menimbulkan luka yang sangat besar bagiku saat "orang lain" itu tidak mampu memenuhi harapan.

Mungkin seharusnya aku menemukan seseorang yang memahami kerapuhan dan kelemahanku, bukan yang mengetahui kekuatanku. Kebanyakan orang tahunya aku kuat, aku mampu, kebanyakan tak melihat betapa besar usahaku untuk bertahan. Memang sih lebih banyak untuk menjaga harga diri.

Tapi, mungkin memang kelihatannya seperti itu ya.. diriku yang selalu tampak kuat.

Beberapa hari yang lalu tiba-tiba saja terlintas dalam benak, "biasanya apa ya yang kulakukan setiap hari, kenapa akhir-akhir ini aku merasa bosan?" Ketika pikiran itu muncul tandanya aku memiliki harapan pada seseorang tapi orang itu tidak sesuai harapan.

Beberapa waktu lalu aku bertemu dengan orang yang diperkenalkan oleh temanku. Dulu saat dikenalkan aku merasa dia tidak potensial, tapi ketika bertemu kenapa rasanya dia menjadi potensial? Hati ini benar-benar sulit ditebak. Jadi, mulailah strategi untuk mendekat padanya, berharap dia membalas dengan senang hati. Tapi, mungkin itu salahku juga karena dulu mengabaikannya, wajar saja bila sekarang aku diabaikan juga secara perlahan.

Dan aku melarikan diri dari rasa kecewa itu.

Apkah aku pernah bercerita tentang pemuda yang dua tahun lebih muda dariku yang ingin mempersuntingku sekitar bulan November lalu?
Kemarin aku bertemu dia.
Ya...dari semua orang kenapa aku bertemu dia di tempat yang sudah jarang kukunjungi pula.
Dilihat dari dekat meskipun cuma sejenak, aku menyadari warna kulitnya yang bersih, cara berpakaiannya yang rapi, wajahnya yang tampan, senyumnya yang ramah meski canggung. Sejujurnya, aku menyukainya. Tapi, dilihat dari segi yang lain, pendidikan cuma sampai SMP, pekerjaan buruh, dan ekonomi keluarga agak kurang, aku menolaknya hadir dalam hidupku.

Rasa kecewaku teralihkan karenanya.

Kalau saja aku pria dan dia wanita, mungkin aku mau saja mempersunting dia. Haha

Hidupku sepertinya belum cukup rumit sehingga perlu ditambahkan banyak bumbu penyedap, yang terang-terangan kutolak.

Aku tak harus menambah kerumitannya lagi dengan drama. Misalnya seperti saat ini, tiba-tiba saja timbul keinginan untuk menawarinya ajakan keluar "temani aku makan, aku yang traktir." Atau "temani aku belanja". Atau mungkin yang lain, meskipun hanya sebagai teman.  Seandainya aku pria.

Jelas-jelas sebenarnya aku menyukainya, dari dulu malah, tapi terlalu banyak pertimbangan. Logikaku kadang-kadang terlalu keras kepala.

Kadang aku berandai-andai, kalau saja dia berpendidikan lebih tinggi, minimal D1 laahh, kalau memungkinkan sih Sarjana, pekerjaannya kurang lebih setingkat, paling tidak bekerja kantoran atau semacamnya, dan coba keluarganya lebih mampu sedikit lagi. Mungkin seleranya bukan aku lagi. Haha.

Apakah Tuhan sedang mengujiku? Benar-benar ujian yang tidak lucu.

Padahal sejak berhasil move on dari kegalauan karena sudah menolak si pemuda berondong itu aku terus berdelusi tentang pria impianku.

Dalam delusiku semua terasa indah. Aku bertemu dengannya di dalam pesawat menuju Singapura, seorang pengusaha yang wara wiri keluar negeri, menawarkan dirinya sebagai pemandu wisata secara gratis, lalu sekembalinya ke Bali masih tetap mempertahankan komunikasi dan akhirnya mengakui ketertarikan masing-masing. Dia akhirnya melamarku, lalu mau tinggal dan menetap di daerah dekat tempat kerjaku.

Selama berdelusi aku memikirkan, bila aku bertemu dengannya, masalah macam apa yang akan dan seharusnya kami hadapi. Aku tidak mau memikirkan masalah tentang adanya orang ketiga. Tidak mungkin. Masalah dengan orang tua? Juga tidak. Aku juga yakin bahwa masalah yang memungkinkan untuk kami hadapi tidak berasal dari internal diri kami sendiri. Aku masih nemikirkannya.

Delusi ini sebenarnya memberiku inspirasi untuk menulis "I'm Married a Perfect Husband".

Akankah perfect husband itu ada dalam hidupku?
Kalau aku berdoa terus, apakah Tuhan mau mengabulkan doaku?

Jumat, 23 November 2018

Apakah ini Satu Dari Sekian Ujian Hidup yang Harus Bisa Kulewati?

Sejak dulu aku selalu berpikir mengenai calon pasangan hidup, mengapa selalu orang-orang dengan tipe yang sama yang datang kepadaku?

Kenapa oh kenapa?

Tipe yang berasal dari keluarga yang ekonominya "agak kekurangan" atau "menengah ke bawah" atau "pas-pasan ke bawah". Kualitasnya pun secara acak mengalami penurunan dari segi pendidikan dan kemampuan intelektual.

Sebenarnya aku mempercayai bahwa orang yang kubutuhkan adalah orang yang berpendidikan (inginnya yang pendidikannya lebih tinggi dariku), punya pekerjaan (yang gajinya lebih besar dariku), maunya kemampuan ekonomi keluarganya cukup baik supaya aku tidak direpotkan masalah uang dan supaya aku bisa menabung untuk liburan ke luar negeri.

Kalau berbicara tentang cinta orang pasti tidak memikirkan hal-hal semacam itu. Tapi, kenapa aku selalu berpikir ke arah itu? Itu membuatku buta akan ketulusan orang lain. Aku tidak mau hidup susah atau disusahkan. Aku juga tidak berniat memulai sebuah hubungan dengan perjuangan ekonomi dari nol. Kalau dipikir,
apa umurku tidak terlalu tua untuk itu? Kapan aku akan bisa membangun rumah impianku, kapan aku akan memiliki mobil, kapan aku bisa jalan-jalan dengan santai ke luar negeri?

Sudah pasti aku terkesan sangat sombong. Aku bahkan tidak memiliki wajah yang cantik untuk diperjuangkan orang untuk bisa diajak jalan-jalan keluar negeri, sifatku juga bahkan terlalu buruk untuk dibuatkan rumah impian, sikapku tidak cukup baik untuk difasilitasi dengan mobil. Tapi, masih saja aku bermimpi yang muluk-muluk tentang pasangan hidup yang mapan dengan keluarga yang tak merepotkan. Memangnya dengan itu saja aku akan merasa cukup? Aku tidak yakin. Karena aku harus mengorbankan seluruh hidupku bersama orang itu, aku hanya merasa perlu memiliki rasa cinta, paling tidak rasa sayang, apakah dengan itu saja bisa? Sejujurnya aku tidak merasa ada yang cukup berharga untuk kukorbankan seluruh hidupku demi dia.

Meskipun ini sangat sombong, aku merasa aku berhak untuk itu. Aku memiliki banyak mimpi dalam hidupku, aku tidak bisa mengorbankannya begitu saja. Aku juga merasa bukan untuk itu aku hidup.

Jadi, sepertinya aku bukanlah orang yang sederhana.

Kalau begini terus, aku bisa saja melewatkan jodohku begitu saja. Tapi, kalau jodohku orang yang berkekurangan ekonominya lebih baik aku tidak usah bertemu dengannya. Terlebih kalau dia tidak berpendidikan sepadan denganku lebih baik aku tidak bertemu dengannya. Juga, kalau dia tidak punya kemampuan intelektual yang sama denganku lebih baik juga tidak bertemu dengannya.  Karena hidupku akan terbebani olehnya. Aku tidak ingin hidup dengan penuh beban. Aku bahkan berharap agar tidak berumur terlalu panjang.

Kalau direnungkan, aku yakin sesuatu yang mendasari diriku dengan pemikiran ini pasti ada. Hanya saja, aku sendiri bertanya-tanya apa yang mendasarinya.

Ini hidupku, biarkan aku dengan hidup ini seperti apa yang kuinginkan. Kalau orang lain tidak bisa memberi aku tak harus meminta bukan?

Kalau orang-orang yang telah kutinggalkan pada akhirnya menjadi kaya dan hidup bahagia, bukan menjadi alasan aku untuk menyesal telah meninggalkan mereka. Justru aku merasa beruntung telah meninggalkan mereka, kalau bersamaku belum tentu mereka bisa seperti itu bukan? Aku yakin tidak ada yang kusesali.

Jadi, mau sampai kapan lingkaran semacam ini akan menghampiriku terus-terusan. Aku harus mengambil peran antagonis you know? Tuhan, ini tak adil. :(
Aku tak pernah jadi tokoh utama atau peran protagonis. :(
Tapi, peran antagonis sepertinya yang paling cocok denganku, baiklah, aku akan menerima itu.

Akan kuanggap ini ujian hidup.