Selasa, 28 Oktober 2014

Congratulation and Goodbye

Bulan Oktober ini adalah bulan menikah bagi beberapa teman masa kuliahku. Tidak hanya teman kuliah, orang-orang yang tidak kukenal di luar sana juga banyak yang melakukan upacara pernikahan. Lalu, aku kapan? Aku tidak begitu ngebet menikah, sih... :-P Karena menikah itu perlu biaya, pacarku bahkan tidak punya tabungan, dia terlalu sibuk membangun rumah... tiap bulan gaji ludes... :-( Yah, toh itu juga untuk masa yang akan datang... :-D
Di bulan yang penuh kebahagiaan ini ada sebuah kabar bahwa seorang temanku telah meninggal. Orang bilang bahagia boleh bahagia tapi jangan terlalu bahagia karena hukumannya akan datang jauh lebuh cepat. Jadi begitulah. Di sisi lain beberapa teman menikah, ada perasaan bahagia untuk mereka, tapi di sisi lain seorang teman justru meninggal. :'-(
Jadi, selamat untuk teman-teman yang menikah dan selamat jalan untuk Arya yang telah kembali kepadaNya.

Rabu, 16 April 2014

Munyi Maisi Puyung

Kata-kata yang tidak ada artinya. Seorang teman memposting sesuatu mengenai "kata-katamu itu seperti bualan di dalam karung yang siap di buang ke tong sampah". Aku sependapat. Kubilang padanya "aku benci orang yang terlalu banyak bicara tapi kerjanya nol, munyi maisi puyung". Artinya, siapapun itu, dia banyak bicara, hanya bicara, tanpa melakukan pembuktian, tanpa melakukan kerja nyata, tanpa ada konsistensi dalam ucapannya. Lain di mulut lain dihati lain juga dalam tindakannya. Dan aku membenci orang-orang seperti itu. Orang-orang seperti itu cenderung menganggap orang lain bodoh, rendah, mudah dibohongi dan ditipu. Setidaknya seperti itulah yang kupikirkan. Orang-orang yang memiliki harapan seperti halnya aku yang lebih menginginkan bukti bukan janji, akan mudah kecewa oleh orang seperti itu. Munyi maisi puyung itu hanya diperuntukkan bagi orang buta. Karena orang buta tidak pernah melihat kenyataan.

Jumat, 11 April 2014

What I call Love

Love. Dalam bahasa indonesia, cinta. Aku percaya bahwa cinta selalu memberikan kebahagiaan bagi kehidupan manusia. Meski demikian, secara jujur aku mengakui bahwa aku tidak percaya pada cinta (tentu yang kumaksud adalah cinta antara pria dan wanita). Aku selalu berpikir, memilah dan menimbang-nimbang hingga aku sampai pada satu kesimpulan. Cinta itu adalah mengenai memberi-menerima, membutuhkan-dibutuhkan, menguntungkan-diuntungkan. Aku selalu berpikir bahwa sesuatu yang orang-orang sebutkan dengan bangga bernama cinta, hanyalah sebentuk ilusi dari pikiran karena adanya pengaruh-pengaruh material. Dan aku sangat mempercayai bahwa pengaruh material itu berupa "kenyamanan". Kenyamanan berarti adanya hal-hal yang dapat memenuhi kebutuhan hidup. Contoh: kekayaan, ketenaran, kecerdasan, perhatian, pengertian, dll (hal-hal yang bisa dilihat atau dirasakan).
Pernah suatu kali aku bertanya kepada seorang teman yang notabene mencintai pasangannya, mengapa dia mencintai pasangannya itu. Dia menjawab bahwa cinta itu tidak butuh alasan. Segera kubilang padanya "that's a lie!". Itu bohong. Jangan bilang kamu mencintainya tanpa alasan. Karena alasan seseorang mencinta seseorang lainnya adalah hanya satu yaitu rasa nyaman. Seperti yang kusebutkan diatas. Nyaman dengan hartanyakah? Nyaman dengan kecerdasannya? Nyaman dengan perhatiannya? Dsbg.
Yang paling mengherankan bagiku adalah ketika melihat teman "menderita karena cinta" menurut pengakuannya sendiri. B*llshit. Cinta apa yang membawa penderitaan? Aku mulai menganggapnya lebay. Yep. Cinta kerap kali dijadikan alasan untuk kesakitan seseorang. Cinta kerap kali dijadikan kambing hitam untuk menjerumuskan orang ke dalam lubang dosa. Cinta kerap kali dijadikan biyang kerok atas penderitaan seseorang. He to the lo, think again. Kenapa? Kenapa kamu menyalahkan cinta? Kenapa kamu mengkambinghitamkan cinta? Bukankah seharusnya kamu bahagia memiliki cinta? Jadi kenapa kamu merasa menderita, merasa terluka, merasa sedih, merasa kecewa, dsbg?? Kenapa?
Dan disini, aku masih dalam satu kepercayaan bahwa cinta selalu membawa kebahagiaan, selalu membuat kita tersenyum, selalu membawa kedamaian, selalu menyejukkan. Tapi aku tidak percaya adanya cinta (pada pria-pria yang mengaku cinta terhadapku). Kemungkinan terbesar yang terjadi adalah mereka tidak tau bentuk cinta yang kumiliki, mereka tidak percaya pada cinta yang kumiliki, mereka tidak peduli pada cinta yang kumiliki hanya karena aku mengatakan "I don't love you, because I don't know what the love is (in your mind)". Kalimat itu cukup membuatku seperti orang bodoh yang siap untuk dibohongi kata-kata manis, dan rayuan-rayuan maut. Tapi, aku tetap waspada, mawas diri, tetap dengan pendirianku sejak awal sebelum mengenal kamu, kamu, dan kamu. "I'm not a white paper, though I'm not coloured." You just don't get it. Sampai saat ini, aku masih tetap merasa "aku tidak pernah mencintai siapapun". Kalau aku cinta, seharusnya aku merasa bahagia. Masalahnya hanya karena aku tidak memahami, tidak bisa menerima cara-cara mencintai dari pria yang notabene pasanganku. Aku merasa kecewa, tersakiti, dibohongi, dibodohi, dan tidak bahagia. Kupikir "ini salah". Tidak seharusnya aku merasa seperti ini. Seharusnya aku merasa bahagia. Tidak bahagia = tidak cinta. Seperti itulah caraku. Tentu orang lain punya caranya sendiri. =))

Kamis, 28 November 2013

Kamu Kini Hadir Dalam Diaryku

Dear Sunny...

Apa kabarmu disana? Apakah kamu adalah seseorang yang kini mulai muncul dalam diaryku? Aku merasa benang-benang yang panjang dan berliku, berjalinan kesana-sini, kini semakin jelas terlihat arahnya. Kuharap ini adalah untaian benang antara kamu dan aku. Kamu lelah dengan banyak hal dalam hidup ini tapi tetap memaknai segalanya seperti sesuatu yang berharga yang akan selalu menemui kebaikan. Dalam kepositifan itu kamu membuatku tersenyum. Aku juga lelah. Aku juga berusaha untuk keluar dari garis-garis kekangan dan ketidaknyamanan yang membatasi setiap gerak dan langkah, mencoba kabur dari perasaan terkungkung dan terperangkap. Entah aku atau kamu yang sebenarnya menemukan. Entah aku atau kamu yang sebenarnya ditemukan.
Dear Sunny... apakah kamu sudah memastikan bahwa benang yang terikat padamu terikat padaku juga? Apakah lilitan-lilitan yang tak jelas itu kini jelas bagimu? Kuharap itu aku. Aku sudah terlalu lama menunggu. Tapi, aku bersyukur kamu hadir saat ini. Karena, saat ini aku telah lebih dewasa dan sudah mulai dapat menguasai indriaku, aku sudah mulai dapat mengendalikan keadaan-keadaan dalam duniaku. Aku bukan lagi anak remaja yang kerjanya hanya merajuk. Aku saat ini, telah banyak belajar tentang kehidupan. Inikah rencana Tuhan? Kamu mempercayai itu. Aku tahu itu.
Dear Sunny... banyak harapan yang akan kubebankan padamu. Tidak hanya aku, tapi keluargaku juga. Mereka yang telah membujukku untuk memilihmu. Tapi bukan karena bujukan dan rayuan itu aku memilihmu. Aku memilihmu karena dirimu. Karena itu kamu, maka aku memilihmu. Banyak hal yang tiba-tiba menjadi hal yang tidak kusangka-sangka. Kamu lebih dari apa yang kubayangkan. Kamu tersenyum sambil mengulurkan tangan dan mengajakku melangkah bersamamu, meninggalkan masa lalu dan menuju masa depan.
Dear Sunny, apakah beban ini terlalu berat bagimu? Bagilah denganku.
Dan disinilah kamu mulai hadir dalam lembar-lembar buku diaryku.

Rabu, 06 November 2013

The Rainy Day

Dear sunny,

Apa kabarmu disana, hey sunny? Aku disini baik-baik saja.
Hari ini tiba-tiba hujan disini, tepat disaat kepalaku mulai terasa sakit. Migrainku kumat lagi. Mungkin terlalu banyak hal yang kupikirkan tanpa kusadari. Aku terlalu sibuk menjalani hari-hari untuk menyembunyikan semua keluhan. Kubiarkan semua keluhan ini terpendam di dalam sana tanpa perlu kukeluarkan. Untuk apa? Apakah dengan aku mengeluh semua masalahku akan selesai? Apakah bila kukeluarkan semua yang kupendam dalam hati ini akan membuatku menjadi manusia yang lebih baik? Coba pikirkan berapa banyak waktu yang akan terbuang hanya karena keluhanku. Setiap keluhan itu berasal dari dalam lubuk hatiku dan betapa sakit mengeluarkannya. Berapa banyak air mataku yang akan mengalir?
Semua itu terjadi lagi. Untuk kesekian kali, aku mengulangi kesalahan yang sama. Kupikir, kali ini akan berbeda. Tapi apa? Sama saja. Diriku yang sebenarnya sangat simple ini untuk kesekian kali menjadi manusia paling sulit dimengerti di dunia ini. Meski mungkin masalahnya hanyalah tidak ada yang benar-benar mencoba mengerti. Orang-orang tidak percaya aku sedang menangis hanya karena tidak pernah melihatku menangis. Hey dengar...memangnya aku batu? Aku juga sama sepertimu, seperti kalian. Aku juga bisa merasa sakit, bisa merasa diri lemah, dan bisa terluka. Hanya karena aku tidak mengatakannya, hanya karena aku tidak menunjukkannya bukan berarti aku tidak bisa merasakannya. I'm just a girl afterall. Yang terjadi padaku hanyalah "kelelahan" , "keletihan". Aku lelah hidup dalam peran sebagai korban. Karena hidupku bukan panggung sinetron dimana tokoh protagonisnya menjadi korban dan selalu menangis disepanjang scene.
Saat aku berhasil melewati masa-masa terberat dalam hidupku, aku berdiri lagi dengan kedua kakiku, bersusah payah merangkak, berjalan, hingga akhirnya bisa berlari, kuputuskan untuk hidup dengan bebas. Aku tidak ingin lagi terjerumus ke dalam jurang yang sama. Tidak ingin lagi kehilangan kaki dan tangan, kehilangan mata dan telinga. Saat itu yang kutahu hanya berteriak, tak ada yang mendengar, tak ada yang mengulurkan tangan untukku. Siapa yang mengerti kesakitan itu? Aku mengubur semua itu, menghargainya sebagai sebuah batu pijakan yang membawaku hingga pada hari ini. Dan masih tidak ada yang bisa memahaminya. Apakah semua orang senang melihatku mengingat-ingat masa terberat dalam hidupku itu?
Aku tidak ingin lagi menoleh ke belakang. Ini aku. Aku disini. Aku berdiri disini, tapi sepertinya tak ada yang melihatku. Kupikir aku telah melipat lembaran-lembaran kertas hitam itu dan kuberi pengingat untuk tidak kubuka lagi dan tidak lagi membuat coretan dengan warna yang sama di lembar-lembar selanjutnya. Tapi, tidak ada yang percaya. Meski begitu, tidak apa-apa bagiku. Hidupku masih harus tetap berjalan.
Aku mungkin memiliki kepribadian yang buruk tapi inilah aku. Aku telah menemukan jati diriku.
Dear sunny... kuharap kau mau menerima diriku yang telah  banyak berubah. Banyak hal yang terjadi dalam hidupku yang selalu membuatku mengintrospeksi diri dan pada akhirnya kupikir aku telah berubah menjadi manusia yang lebih baik dari diriku yang dulu.

Kamis, 03 Oktober 2013

Clear Bluesky Today

Dear sunny...

Hari ini aku merasa agak kesepian. Tidak banyak kegiatan yang kulakukan dan apa yang kulakukan hari ini tidak begitu berguna.
Hari ini, gara-gara ngomongin Rain, aku jadi teringat dengan seseorang. Nostalgia banget mengingatnya. Dulu, keberadaannyalah yang pernah membuatku merasa sempurna. Hanya pada saat itu saja. Setelah berpisah darinya aku tidak pernah merasakan perasaan yang sama. Hari ini aku berpikir. Mungkin sebenarnya setiap manusia hanya jatuh cinta satu kai saja dalam hidupnya, ketika perasaan itu telah hilang selanjutnya bukan perasaan cinta lagi yang dirasakan manusia tapi lebih pada perasaan ingin dicintai. Sangat disayangkan aku jatuh cinta pada orang yang salah. Salah dalam artian keberadaannya bukan untukku. Dan aku yakin banyak orang juga mengalami hal yang sama. Hanya saja perasaan kesepian memaksa setiap orang untuk mencari pasangan meskipun tidak benar-benar mencintainya. Kenapa? Kenapa harus demikian?
Pada dasarnya semua manusia sama saja. Tidak ada yang bisa bertahan hidup dalam kesendirian. Tapi juga masih tetap berusaha mempertahankan keegoisan dan selalu bangga mengatakan, "gue pernah sakit hati, gue pernah disakiti, gue gak mau disakiti lagi, cintai gue, cintai gue, karena gue cinta sama lo".
Percayalah, aku tertawa dalam hati. Aku hanya tidak bisa mempercayai orang yang sudah pernah sakit hati akan bisa mencintai dengan tulus, aku yakin cinta yang dia gembar-gemborkan hanya cinta sebatas dimulut. Kenapa? Kenapa aku tidak mempercayainya. Karena rasanya seperti itu saja.
Saat ini begitu banyak hal yang kubenci dari dunia ini. Tapi, aku masih ingin menerima semua itu. Aku tidak pernah lupa bahwa aku adalah tipe manusia yang masih bisa tersenyum di hadapan musuh. Aku juga tidak pernah lupa bahwa aku tipe manusia tempramental dan pendendam. Aku pun menyadari batas-batas kekeraskepalaanku. Dengan semua itu aku berusaha dan terus berusaha menerima.
Dear sunny...
Apa kau masih disana? Apakah kau menungguku? Karena aku disini mrnunggumu.

Minggu, 02 Juni 2013

Now that I Understand the Feeling

Huuunnnnn...... kali ini saya ingin menceritakan apa yang saya rasakan beberapa waktu lalu, meskipun perasaan itu mungkin sudah memudar dengan begitu cepat. hahaha XD
Perasaan apakah itu?
The Feeling when you find someone else match with you but you already have a boyfriend.
Saat saya memikirkannya, "Oh, begini ya rasanya?" dan itu membuat saya memiliki sebuah ide cerita di kepala saya, hahaha.... Tidak cuma itu, saya juga merasa sepertinya saya mengerti kenapa perasaan seperti itu muncul pada diri seseorang. Sekitar 2 tahun lalu, teman saya melakukan hal yang bagi saya sangat imposibru untuk dilakukan tai dia melakukannya. Dia, teman saya yang mengaku teman baik saya, meninggalkan pacarnya yang sudah bersamanya selama hampir empat tahun demi laki-laki yang baru dia kenal kurang dari setahun. Saya sulit mempercayai itu. Saya berpikir, "Dia ni mikir apa nggak sih? dilihat dari segi apapun pacarnya jauh lebih baik dari 'laki-laki baru' itu tapi kenapa dia justru memilih orang yang baru dia kenal?" Yeah, saat itu terlalu banyak kejadian yang membingungkan dan chaotic.. Dan hal itu membuat saya dan dia sampai saat ini tidak berbicara lagi satu sama lain. Saya tidak mengerti. Dia yang begitu mengagungkan pacarnya, mempertahankannya sampai pernah melabrak cewek yang dekat dengan pacarnya, yang menangis begitu sedih karena jauh dari pacarnya, yang pernah begitu depresi ketika suatu kali mereka putus, ternyata pada akhirnya dia sendiri yang mengakhiri hubungan mereka dengan cara yang menyedihkan. Saya tidak arah padanya karena melakukan semua, meskipun saya tidak begitu mengerti. Saya hanya tidak bisa menerima dia bisa melakukn hal seperti itu. Saya yakin dia pasti ingin saya memahami perasaannya. Sekarang saya paham perasaaan itu. Meskipun hanya selama sekitar dua hari saya dekat dengan orang lain selain pacar saya, saya mulai mengerti perasaan itu. Saya yakin teman saya itu adalah tipe pecinta sejati yang akan melakukan apa saja demi cinta sementara saya adalah tipe yang lebih realistis dan bukan tipe pecinta sejati.
Masa-masa saya berfantasi dengan kata "CINTA" sudah selesai dan sekarang saya hidup dalam realita. Diri saya yang sekarang adalah diri saya yang sesungguhnya yang baru saya sadari ternyata bertipe mencintai dengan kepala, bukan dengan hati. Sejujurnya saya memang benar-benar tidak mengerti apa itu cinta dan dalam kondisi saya sekarang ini saya tidak begitu peduli dengan kata itu. Mungkin saya bosan, saya capek, saya jenuh, mungkin juga karena "Ideal Boyfriend" yang sejak masa pubertas saya harapkan sudah tidak ada lagi di dunia ini, dan tidak pernah ada lagi dalam kehidupan saya. Saya selalu berpikir, saya sudah terlanjur memilih jalan ini, yang harus saya lakukan hanya terus melangkah tanpa perlu banyak mengeluh.
"Hidup ini pilihan, apapun pilihanmu tetaplah melangkah ke depan" mungkin seperti itu moto hidup saya.
Saya selalu berpikir semua orang juga melakukan hal yang sama. Saya selalu berpikir, orang lain juga akan melakukan hal yang sama seperti apa yang saya lakukan. Singkatnya, saya sering memforcing orang lain agar memiliki cara berpikir yang sama seperti saya padahal jauh di dalam hati saya yang terdalam, saya tahu benar orang lain tidak sama dengan saya. Saya hanya benci ketika orang lain mengeluh mengenai hidup mereka.
"Ini hidup lo, yang ngejalanin lo, yang punya pilihan juga lo" itu yang selalu saya lontarkan dalam hati ketika ada orang lain yang mengeluh. Saya sendiri merasa kalau kata-kata seperti itu begitu kejam. Tapi kalau tidak kejam orang akan menjadi lembek dan terus merengek minta dikasihani. Saya tidak suka hal seperti itu. Saya  tidak dididik untuk mengeluh, saya tidak diajari untuk meminta belas kasihan orang, saya juga belajar untuk tidak melakukan hal itu dalam hidup saya. Apakah itu pula yang membuat saya menjadi begitu egois, keras kepala, sensitif, dan self-centered -mungkin?
Kembali lagi pada topik awal, ketika ada orang baru yang saya pikir cocok dengan saya, saya berpikir bahwa hidup saya mungkin sedang dalam kondisi yang "menarik". Selama ini saya bosan dengan kehidupan yang monoton, tidak ada gairah, tidak ada petualangan, tidak greget. Jadi, saya berharap banyak pada tahap kehidupan ini. saya masih ingin belajar lebih banyak dan mengalami masa-masa yang lebih menarik dalam hidup saya. Meski begitu, saya mungkin bukan tipe pemberani yang bisa mengambil langkah tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Saya terus berpikir meski saya ingin menjadi pemberani. Saat itu saya menyadari "keberanian" teman saya dalam mengambil sebuah keputusan yang berarti begitu besar dalam kehidupannya. Sekarang dia tampak bahagia dengan kehidupannya meskipun dia merasa bahwa dunia mungkin telah memusuhinya. Bukankah cinta itu menjadi lebih berarti jika kita berani mengorbankan segalanya? Segalanya termasuk semua hal yang sudah kita bangun seumur hidup. Saya akui saya sangat baik dalam hal teori, tapi saya kurang pengalaman. Saya memahami banyak teori mengenai kehidupan tapi saya masih saja terluka ketika jatuh pada kenyataan teori itu. Semua orang pasti sama, hanya saja persiapan setiap orang pasti berbeda. Saya pernah jatuh sekali dan saya tidak mau jatuh untuk kedua kali. Tapi yang lebih penating lagi, saya tidak ingin orang lain menjadi "korban" saya. Jadi, bisa dibilang saya ini tipe masochist, hahahaha...
Sigh....lalu, apakah perjalanan hidup saya selanjutnya akan lebih menarik?
Who knows...