Rabu, 29 September 2021

Ketika Melepas adalah Keputusan yang Tepat

Dear burogu~

Hari ini di story WA aku melihat status mantan pacar yang sepertinya baru selesai prajabatan. Sebenarnya sih aku tidak begitu peduli karena bagiku kalau sudah namanya mantan ya pacar ya sudahlah, tidak lebih. 

Tapi, kembali timbul rasa syukur karena telah melepaskan orang yang ternyata bisa maju. Karena bersamaku aku merasa segala rejekinya terhambat, pekerjaannya terdengar sulit, sudah hidupnya sulit, sepertinya keberadaanku malah mempersulit. 

Dulu aku bersyukur sekali bisa lepas darinya, beban di dadaku hilang, otakku tak mumet lagi memikirkan kebuntuan hubungan dengannya. Lalu setelah beberapa waktu putus rupanya itu memberikan jalan buatnya untuk bergerak maju, tidak lagi terpaku mengikuti gerak langkahku. 

Ah rupanya akulah penghambatnya. Begitu pikirku. 

Syukurlah waktu itu aku membuat keputusan yang tepat. Kalau dipaksakan aku mungkin bisa jadi gila. Hahaha.. 

Sabtu, 21 Agustus 2021

Ketika bahkan Kutak dapat Bicara

Dear burogu~
Ohisashiburi.. Genki desu ka? 

Rasanya setiap kali aku tidak dapat mengatakan apapun kepada siapapun, aku hanya memiliki rangkaian huruf-huruf saja untuk melapangkan dadaku. 

Aku terus berusaha bersabar terhadap suami yang tidak menafkahi secara ekonomi dan kini bahkan aku diremehkan. 

Sebenarnya ini sederhana saja. Aku hanya memberinya tugas-tugas sederhana hanya agar dia melakukan sesuatu untuk keluarga ini seperti, melipat baju anak dan sesekali membersihkan kamar mandi. 

Selama satu setengah tahun belakangan ini hampir semua kebutuhan rumah tangga kutanggung sendiri. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga juga sendiri. Yang kadang-kadang juga dibantu ibu mertua. Aku merasa wajar-wajar saja karena kedua mertuaku juga makan hasil jerih payahku. Ditambah lagi kini ada kakar ipar yang telah janda juga tinggal di rumah. 

Suamiku, kalau tidak disuruh tidak mau melakukan apa-apa. Tidak punya inisiatif. Padahal, hampir semua maunya sudah kuturuti. Ada urunan di sekaa merajan aku bayarin bahkan untuk mertua juga. Dulu semasih mertua punya cicilan yang atas nama suami juga aku bantu bayar. Semua kumaksudkan agar suami ada inisiatif bekerja lebih giat agar mendapat penghasilan lebih paling tidak agar bisa memenuhi kebutuhan hidup. Tapi, apa yang terjadi? Tiap kali kekurangan uang dia selalu bilang mau minta kepada ibunya. 

Selama ini sepertinya aku dibodohi dengan kalimat itu. Karena, tentu saja aku merasa tidak enak pada sikap suami seperti itu. Sudah menikah tapi masih minta-minta uang pada ibunya. Meskipun sebenarnya wajar. 
Baru dari dua hari lalu sepertinya aku sedikit sadar akan kebodohanku. 

Hari itu, hari biasa. Meskipun suamiku seperti itu aku bersabar, terus mendorong dia untuk maju dan berkembang meskipun sia-sia. Semua omonganku ditepis sampai aku menjadi malas bicara. Sore hari ketika aku akan memandikan bayi 9 bulanku, aku masih menemukan kamar mandi yang kotor padahal aku memintanya menyikat kamar mandi lebih dari seminggu lalu. Apa sulitnya berkata "ya nanti", malah cibiran yang kudapat. Yang berakhir membuatku sakit hati. 

Aku menjadi terkesan istri yang cerewet dan banyak menuntut. Hanya karena suamiku setiap harinya duduk di depan komputernya bermain game dan menonton yutub sepanjang hari. Pagi hari selalu kubangunkan dengan kopi yang sudah diseduh. Aku mencuci pakaiannya. Memenuhi kebutuhan pakaiannya juga karena dia notabene tidak banyak mempunyai baju dan dalaman. Tipe yang jarang berganti pakaian yang sering membuatku kesal karena pakaiannya harus dicuci berkali-kali supaya bersih. 

Aku mencoba sabar. Berpikir bahwa mungkin di kehidupan sebelumnya aku memiliki hutang-hutang tertentu yang mengharuskanku membayarnya dengan cara melayaninya seperti pembantu. 

Entah ini sudah ke berapa kalinya aku mendapat perlakuan seperti ini. Aku menyuruhnya melakukan sesuatu sampai berkali-kali dan akhirnya aku hanya dicibir. 

Akhirnya setelah sekian lama aku memutuskan untuk membiarkan dia membiayai kebutuhan hidup. Aku ingin menjadi masa bodo. 
Keinginan membangun rumah impian juga pupus sudah. Daripada menabung untuk membangun rumah kupikir lebih baik aku berinvestasi tanah. 

Sebenarnya aku ingin sekali ada yang membelaku. Ingin menceritakan rasa sakit ini. Tapi, aku tidak tahu mengadu kepada siapa. 

*cry*