Kamis, 22 Juni 2017

Suki na Hito ga Iru Koto part 2

"Uchuu no Ko Masa"
Begitu dia menyebut dirinya.
"Masa si anak alam semesta." 

Senja itu dia menulis post card. Banyak sekali post card. Tampaknya dia menulisnya dengan sistem cicil. Sambil memainkan ponselku, aku memperhatikannya sesekali. Aku tidak bisa mengajaknya bicara meskipun ingin sekali ngobrol. Lalu aku memutuskan menemaninya dalam diam. Sesekali dia akan meninggalkan tempat duduknya setelah mengecek ponsel. Dia akan berjalan dengan cepat menuju pantai, aku tidak tahu apa yang dia cari, sepertinya seorang teman. Begitu kembali dia akan duduk lagi dan melanjutkan menulis. Sesekali dia akan duduk di tempat yang berjauhan untuk merokok. Mungkin ini adalah kali pertama aku tidak membenci perokok (*´罒`*)

Ketika hari beranjak malam tiba-tiba dia berdiri dan bergumam, "Are?" sambil terlihat kebingungan mencari-cari sesuatu. Itu membuatku bertanya-tanya apa yang terjadi. Aku yakin dia mencari sesuatu. "Nanika sagashita no?" Tanyaku cepat. "Sandaru" jawabnya. "Hee? Nande?" Dengan cepat aku membantunya mencari sandalnya. Saat itu aku benar-benar serius. Aku memperhatikan tempat dia merokok dan sekitarnya, sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan sandalnya. Akhirnya dia pergi ke pantai dan tak lama kemudian kembali. "Found it?" Tanyaku. Dia masih tampak bingung dan hanya menggeleng sambil mengeluarkan suara dari tenggorokannya. Dengan cepat dia meraih ponselnya. Tak lama kemudian ia duduk. "Dou? Sandaru?" Tanyaku. Diapun menjawab, "Ah, It seemed I left it on the beach and maybe my friend took it." Jawabnya. "Ah so desu ne", ucapku mulai merasa tenang. Tak berapa lama kemudian dia pun meninggalkan warung, mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan otaknya. Dia mungkin tidak bisa berkonsentrasi karena kehilangan sandalnya. Lol
Dengan kepulangannya, berakhir pula pertemuanku dengannya di hari itu. Malam itu aku menceritakan pada temanku betapa lucunya dia kehilangan sandal. Dia begitu manis. 😊

Keesokan harinya, aku dan keluarga temanku kembali ke warung untuk bekerja. Sebelumnya kami berbelanja terlebih dahulu, membagi tugas membeli berbagai keperluan warung di pasar Kuta. Setelah mengantar temanku, Gungmas,  ke hotel tempat dia bekerja, kami melanjutkan kegiatan berbelanja ikan di pasar kedonganan hingga menjelang tengah hari barulah kami tiba di warung. Tempat yang sangat kutunggu untuk kudatangi. Sambil membawa banyak barang di tanganku, aku mulai mencari sosoknya. Tidak sulit menemukannya. Dia tengah duduk di salah satu kursi di warung sebelah sambil memainkan ponselnya ditemani secangkir kopi dan rokok. Benar-benar, dia tidak mempunyai tampang perokok. (^^)Dia melihatku dan menyapa. Aku membalasnya dengan sapaan yang sama. "Pagi" "Ohayou"

Setelah meletakkan belanjaan, aku membantu membereskan warung. Menyiapkan berbagai macam hal sambil sesekali melihat ke arah dia duduk. Aku hanya bisa melihat punggungnya dari balik pilar kayu. Dia selalu memakai baju hitam dan celana pantai, entahlah apakah itu baju dan celana yang sama yang dia kenakan setiap hari atau tidak. Tapi justru karena dia memakai pakaian yang sama makanya dia mudah dikenali. ( ˙ᵕ˙ )
Saat ayah di keluarga itu yang kupanggil "Ajik" menata kursi di sekeliling meja, dia datang dengan sigap membantu ajik. Tengah hari aku dan dia ditawari makan. Kami pun makan bersama di satu meja, dan lagi-lagi aku selalu ketinggalan. 😅
Aku mempunyai kebiasaan makan yang lambat dan santai, entah kenapa aku tidak bisa makan dengan cepat. Ditambah lagi makanan hari itu benar-benar pedas, dan sudah terlalu terlambat untuk makan (T^T) perutku mungkin terkejut. Beberapa kali aku sempat merasa mual. Pada akhirnya aku tidak bisa menghabiskan makananku. Aku menyimpannya berharap akan bisa menghabiskannya.

Ketika persiapan selesai, warung bisa beroperasi. Dia duduk di salah satu kursi, mungkin itu tempat favoritnya dan di hadapan tempat duduknya itu menjadi tempat favoritku sekarang. Aku masih duduk di tempat semula sambil berusaha menghilangkan rasa pedas dengan meminum air. Aku memandangi punggungnya. Figurnya yang sedang duduk. Tak berapa lama aku diminta untuk menunggu pelanggan. Aku mengambil duduk jauh di depannya. Benar-benar malu. Tak banyak yang bisa kukatakan padanya karena dia juga tidak banyak bicara. Tak berapa lama, aku mendapat pelanggan pertamaku. Aku mempersilakan tamu duduk bertepatan dengan dia meninggalkan tempat duduknya dan meninggalkan warung. Sepanjang siang aku tidak dapat melihatnya. Seperti sebuah jadwal. Aku bisa dengan mudah memahami jadwalnya. Pagi hari sekitar pukul 6-7 pagi dia akan memulai kegiatan membersihkan pantai dan berakhir sekitar pukul 10-11 siang. Sekitar pukul 1 siang dia akan meninggalkan pantai untuk kembali ke kost, mungkin untuk tidur. Sorenya dia akan kembali ke pantai sekitar pukul 5. Dia melakukannya secara rutin setiap hari.

Sekitar pukul 5 sore hari itu, dia datang ke warung. Saat itu aku sedang duduk sambil memperhatikan seorang wanita, pelanggan warung sebelah yang sedang duduk bersama anjing kecilnya yang berumur setahun. Saat aku diminta duduk di depan menunggu tamu aku diajak ngobrol oleh wanita itu. Aku tidak menanyakan namanya. Dia wanita yang berasal dari Manado, tinggal di Bali sepertinya sudah cukup lama dan kalau diperhatikan hari itu dia duduk bersama seorang bule. Anjing kecilnya tak berhenti menggonggong ke sekitar. Dia anjing yang berani. Anjing itu bernama Priti. Aku diijinkan untuk menyentuh anjingnya. Aku mengelus-elus anjing itu sambil mendengarkan cerita wanita 35 tahun itu bahwa anjing itu adalah penjaganya. Ada seorang paranormal yang mengatakan bahwa dia harus memelihara anjing sebagai penjaga. Wanita itu mengatakan bahwa anjing itu sangat sensitif. Dia mengatakan bahwa aku orang yang baik oleh karena itu anjingnya sama sekali tidak menggonggong ke arahku. Anjing kecil itu bahkan tidak keberatan aku mengelusnya. 😆 yappari atashi yasashii desu ne 😆

Memori mengenai malam itu perlahan telah menghilang dari ingatanku. Hari itu begitu panjang. Apakah hari itu ya trjadi kekacauan di warung? Ketika saat siang hari kondisi kesehatan Ajik dan Gustu mulai tidak stabil hingga mempengaruhi kondisi mental mereka. Terjadi sedikit kekacauan. Aku ingin sekali bercerita pada Masa tapi tidak tahu memulai dari mana dan bagaimana caranya. Perbedaan bahasa benar-benar membuat kesulitan. Akhirnya, aku bercerita pada Gungmas ketika aku menjemputnya di tempat kerja. Hari itu terasa begitu panjang. Hari itu aku dibuatkan lemonade hangat oleh temanku setelah kami makan bersama. Setidaknya itu yang kuingat. Tidak banyak moment yang kuhabiskan bersama Masa tetapi setiap saat yang kulalui bersamanya adalah moment yang berharga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar