Jumat, 16 Februari 2018

Menikah Tanpa Cinta

"Aku dan istriku menikah tapi tidak saling mencintai", itu kata temanku beberapa hari yang lalu. Pria yang dulu pernah mendekatiku tapi kutolak.
Apa rasanya menikah tapi tidak saling mencintai? Aku pernah mencoba membayangkannya, bahkan pernah ingin melakukan hal yang sama. Hampir. Tapi, takdir berkata lain. Aku disadarkan oleh kata hati yang menjerit-jerit itu. Rasa sakit yang tak tertahankan. Yang pada akhirnya membuatku berada dalam situasi saat ini.

"Di dunia ini tidak ada yang namanya cinta, cinta tidak bisa membuat kita kenyang. Yang lebih dibutuhkan wanita bukan cinta tapi uang", temanku menambahkan.

Saat mendengarnya, aku hanya bisa diam. Dalam hati aku mulai mempercayai bahwa pria ini sebenarnya percaya pada adanya cinta hanya saja dia mungkin mendapatkannya dalam bentuk yang berbeda dari yang dia harapkan.
Mungkinkah aku juga akan mendapatkan hal yang sama seperti itu? Menikah dengan orang yang notabene tidak mencintai kita dan kita juga tidak mencintainya? Jika aku yang mengalaminya berapa lama hatiku akan bertahan, berapa banyak korban perasaan yang harus kulakukan, berapa banyak penyesalan yang akan kusisakan? Aku tidak bisa membayangkan hidup semacam itu.

Meskipun begitu, sampai pada dua tahun yang lalu, aku masih menggantungkan harapan pada logika dibandingkan perasaan. Tapi, sekeras apapun aku berusaha semua itu tidak mudah. Apa yang dilakukan, apa yang dikatakan, bertolak belakang dengan apa yang dirasakan. Aku merasa kosong, gelap, buntu, tanpa arah. Di dalam hatiku ini ada celah yang tak bisa menutup. Ada bagian yang hilang disana dan aku tidak bida menemukannya di manapun. Entah dengan apa harus kutambal. Sampai saat ini masih terus menganga dan itu mudah sekali terasa sakit.

Aku hanya berpikir untuk paling tidak, tidak membuatnya tersakiti terus menerus. Entah sejak kapan celah itu ada, dan entah karena apa celah itu menganga. Yang kutahu hanya ingin celah itu tertutup.

Kembali pada topik tentang cinta.
Sampai saat ini, aku tidak pernah memiliki gambaran yang sempurna tentangnya. Belum pernah ada kejadian dimana saat aku mencintai seseorang, orang itu balas mencintaiku juga, atau di saat seseorang mencintaiku aku bisa membalas cintanya.
Meskipun di dalam hati aku ingin sekali mengalami salah satunya.

Sejak dulu aku juga sering mengatakan bahwa aku tidak percaya pada cinta, bahwa cinta sejati itu tidak ada, bahwa cinta hanyalah omong kosong, tetapi sesungguhnya saat aku mengatakannya aku sedang berusaha menekan kejujuran hatiku. Sebebarnya aku adalah orang paling mengharapkan akan adanya cinta sejati.

Kenapa rasanya begitu menyakitkan mengingat nasihat teman-temanku tentang hubungan percintaan? Yang membuatku semakin sakit adalah karena aku merasa mereka sedang menekan hati mereka dan sedang menahan rasa sakit. Dan hal itu mengingatkanku akan rasa sakitku sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar